#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
news
INFOGRAFIS
Fakta Salah dan Mane Belum Saling Beri Assist
17 October 2019 16:51 WIB
LIVERPOOL – Liverpool akan menghadapi laga krusial akhir pekan ini ketika mereka tandang ke Stadion Old Trafford menghadapi Manchester United (MU) dalam lanjutan Liga Primer pekan ke-9, Minggu (20/10). Tim Setan Merah—julukan MU—memang dalam performa yang tidak stabil bahkan cenderung menurun. Namun, laga ini tetap memiliki gengsi tersendiri karena rivalitas kedua tim di masa lalu.

Laga ini juga memiliki bobot yang tinggi karena momentum yang saat ini telah berhasil dibangun Liverpool. Trofi atau gelar Liga Primer, menjadi tema yang semakin kencang terasa dalam atmosfer The Reds. Jika musim lalu nyaris juara, musim ini, banyak yang menilai bahwa inilah saatnya Liverpool mengakhiri penantian 29 tahun gelar domestik ini sejak kali terakhir meraihnya pada 1989/90 silam.

Tanda-tanda tersebut setidaknya terlihat dari pencapaian pasukan Juergen Klopp sepanjang musim ini di Liga Primer 2019/20 yang meraih hasil sempurna, 100 persen (kemenangan). Jordan Henderson dan kawan-kawan meraup semua poin sejak pekan pertama hingga kedelapan. Norwich City, Southampton, Arsenal, Burnley, Newcastle United, Chelsea, Sheffield United, dan terakhir Leicester City mereka libas.


Baca Juga :
- Gelandang Man. City Ini Belum Ingin Gantung Sepatu
- Man. City Siap Tawarkan Gaji Rp8,2 Miliar per Pekan untuk Sterling

Dan, bagi Liverpool, mulai akhir pekan ini hingga awal November, mereka pun menghadapi serangkaian laga yang sangat menantang di Liga Primer. Setelah lawan MU, mereka menjamu Tottenham Hotspur, tandang lawan Aston Villa, hingga kemudian pada 10 November nanti, duel head to head dengan pesaing terkuat: Manchester City.

Karena itulah, fase ini boleh jadi akan menjadi salah satu ukuran terkait potensi mereka meraih gelar domestik. Untuk melanjutkan tren positif ini, Klopp dan pemainnya harus berada dalam kondisi yang nyaris sempurna, termasuk dari aspek psikologis. Dari semua aspek teknik dan psikologis, ada satu hal yang menarik yang boleh jadi memang merupakan isu lama: koneksi, hubungan, atau kerja sama dua dari trio lini depannya: Mohamed Salah dan Sadio Mane.

Sebelumnya, ada kesan bahwa trio Liverpool merupakan trio paling ideal yang dimiliki klub Eropa saat ini. Meski demikian, penilaian tersebut sedikit meragukan terkait peristiwa yang terjadi sebulah lalu, tepatnya ketika menghadapi Burnley, pada 31 Agustus. Pada laga itulah, ketika kemarahan Mane terlihat disaksikan oleh hampir semua publik sepak bola dunia.

Bintang asal Senegal tersebut memperlihatkan kegusarannya kepada Salah yang tidak memberikan bola (umpan) padahal dirinya dalam posisi yang sangat baik untuk mencetak gol. Mane sendiri sudah mencoba meredakan isu tersebut dengan menyatakan bahwa hal itu biasa terjadi. “Saya hanya sedikit kecewa karena ini adalah sepak bola. Dan, dalam sepak bola Anda selalu ingin mencetak banyak gol,” kata Mane. “Tapi tidak ada masalah bahkan kami adalah sahabat yang baik,” dia menambahkan.

Benarkah tidak ada masalah di antara keduanya? Masing-masing memiliki keinginan yang sama: lapar gol. Ini merupakan keinginan individu. Aspek inilah yang boleh jadi bisa memengaruhi hasil produktivitas gol Liverpool. Bagaimana jika Salah ingin lebih banyak mencetak gol sedangkan Mane juga tidak mau kalah dari rekannya itu.

Musim ini, Liga Primer sudah berjalan delapan pertandingan. Tapi, yang menarik, tidak ada satu pun gol yang memperlihatkan koneksi langsung di antara keduanya. Tidak ada gol Mane yang tercipta dari umpan atau assist Salah. Begitupun sebaliknya, tidak ada gol Salah yang terlahir dari assist Mane. Ini bisa menjadi indikasi bahwa ada sesuatu di antara keduanya.

Musim ini, total keduanya bermain bersama dalam 598 menit di lapangan. Salah memberikan 12 operan (bukan umpan yang bisa menjadi gol) kepada Mane. Namun, tidak pernah memberikan assist dan tanpa aksi menciptakan peluang mencetak gol pula bagi Mane. Sebaliknya, Mane memberikan 14 operan kepada Salah, tanpa assist, tapi ada empat kali dirinya memberikan peluang kepada Salah untuk mencetak gol.

Untuk ukuran koneksi sebagai partner, statistik tersebut tentu angka yang minim. Bahkan, kondisi tersebut sebenarnya sudah tergambar dalam dua musim sebelumnya. Pada 2017/18 dari 1.896 menit bermain di Liga Primer keduanya di lapangan, Salah hanya memberikan 54 operan untuk Mane, hanya satu assist, dan menciptakan delapan peluang untuk rekannya ini.


Baca Juga :
- Penyerang Tengah Chelsea Ini Bisa Sejajari Para Legende The Blues
- Crystal Palace Sudah Siapkan Rencana untuk Jegal Liverpool

Musim lalu, ada 2.996 menit, Salah hanya memberikan 112 operan kepada Mane, tapi assistnya meningkat menjadi tiga assist untuk Mane dengan 17 kali memberikan peluang mencetak gol. Bagaimana dengan Mane? Pada 2017/18, dia memberikan 67 operan, lalu memberikan enam assist untuk Salah dan menciptakan 20 peluang untuk bintang asal Mesir tersebut.

Musim lalu, Mane memberikan 105 operan, tapi assistnya untuk Salah jauh berkurang: hanya satu assist. Meski demikian, Mane tetap mencapai 20 kali menciptakan peluang untuk Salah. Total, Salah memberikan empat assist untuk Mane sejak 2017, sedangkan Mane memberikan tujuh assist untuk Salah. Meski demikian, semua statistik tersebut tentu tidak benar-benar memperlihatkan bahwa ada persoalan di antara keduanya.***

loading...

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA