#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
news
Sterling Menjawab Kritik
17 October 2019 05:12 WIB
SOFIA – Kemenangan 6-0 atas Bulgaria di Vasil Levski pada 14 Oktober lalu membuat Inggris kian dekat ke Piala Eropa 2020. Sebab, pesta gol itu menjadikan skuat asuhan Gareth Southgate kokoh di puncak klasemen Grup A dengan 15 poin dari enam laga. Mereka unggul cukup jauh dengan Republik Ceko (12 poin) dan Kosovo (11 poin).

Kendati sempat diwarnai insiden rasisme dari suporter tuan rumah, raihan tiga poin itu disambut antusias segenap elemen Inggris. Terutama, Raheem Sterling yang sukses menyumbang dua gol. Penyerang sayap 24 tahun ini membuktikan kapasitasnya sebagai salah satu andalan di lini depan The Three Lions.

Apalagi, mengingat Sterling sudah berkontribusi atas delapan gol yang bersanding dengan Harry Kane sebagai pemain tersubur Inggris di kualifikasi Piala Eropa 2020. Total, pemain yang memperkuat Manchester City FC ini telah menyumbang 12 gol dari 55 pertandingan bersama negaranya. Yang menarik, delapan di antaranya tercipta sepanjang 2019 ini.


Baca Juga :
- Guardiola Realistis
- Melawan Die Bayern, Mourinho Rombak Komposisi Starter

Ketajamannya itu jadi jawaban terhadap kritik yang selama ini menyertainya. Sterling mengakui, ada sentimen negatif terhadapnya. Bahkan, dia dan beberapa pemain Inggris yang berkulit hitam jadi sasaran rasisme segelintir oknum suporter Bulgaria. Namun, Sterling bergeming. Dia hanya ingin menjawabnya dengan penampilan di lapangan.

“Banyak yang tidak menginginkan saya di tim nasional. Bahkan, meski saya sudah melakukan yang terbaik untuk klub. Itu yang saya alami saat ini yang sangat menyedihkan. Anda ingin jadi yang terbaik bersama negara Anda. Namun, mereka tidak menginginkan saya di tim nasional,” Sterling, mengungkapkan.

Meski mendapat kritik tajam, jebolan akademi sepak bola Liverpool ini ingin membuktikan bahwa penilaian miring terhadapnya itu salah. “Saya benar-benar ingin menebus waktu yang hilang setelah beberapa musim tampil mengecewakan bersama Inggris,” ujar Sterling yang sudah memperkuat Inggris sejak 2012 silam.

Dia percaya, pihak yang mengkritiknya kini bisa melihat kemampuannya. Termasuk, seberapa besar keinginan Sterling berkontribusi untuk Inggris. Dia pun kini sudah lebih dewasa dalam menyikapi hal tersebut. Termasuk, dalam menyampaikan sesuatu di media sosial dengan mengendalikan perkataannya.

“Saya percaya, banyak orang kini mengerti tentang saya. Mereka melihat kebenarannya dan mengabaikan apa yang telah didengar sebelumnya. Mereka melihat, saya berusaha untuk melakukan yang terbaik bersama Inggris,” kata Sterling, optimistis.

Di sisi lain, Southgate menyanjung mentalitas skuatnya yang sukses membawa pulang tiga poin dari Bulgaria. Selain pesta enam gol, pelatih 49 tahun ini bangga dengan tekad Jordan Henderson dan kawan-kawan dalam menghadapi aksi rasisme. Bisa dipahami mengingat tidak mudah tampil di bawah intimidasi suporter tuan rumah hingga menang telak.


Baca Juga :
- Man. United vs Spurs, Duel Dua Tim dengan Kondisi Kontras
- Grealish Layak Dipanggil Southgate

“Respons para pemain, fokus, dan cara bermain sangat luar biasa. Saya pikir, mereka mendapat kekuatan dari pengalaman itu,” Southgate, mengungkapkan. Memang, ini bukan kali pertama skuat Inggris mendapat perlakuan rasisme di Bulgaria. Sebelumnya, juga tejadi di Levksi pada 2 September 2011 ketika masih ditangani Fabio Capello.

Kualifikasi Piala Eropa 2020 Grup A kembali pada bulan depan. Inggris akan melakoni dua laga pamungkas yang dimulai dengan menjamu Montenegro di Wembley pada 14 November yang berlanjut tiga hari kemudian tampil di Kosovo. Inggris dipastikan lolos ke Piala Eropa 2020 jika mampu meraih minimal dua poin dari dua laga tersebut.***CHOIRUL HUDA DARI BERBAGAI SUMBER

loading...

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA