#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
news
Milan Tak Kunjung Sehat
18 October 2019 14:55 WIB
MILAN – Pergantian kepemilikan tiga kali dalam tiga tahun, ternyata tak kunjung membuat kondisi AC Milan lebih baik. Neraca klub tetap merah sehingga menimbulkan kekhawatiran. Pengelolaan keuangan yang buruk, aturan Financial Fair Play (FFP), kesalahan dalam operasi mercato dan gagalnya tim melaju ke zona Eropa, disinyalir sebagai penyebabnya. Misi kembali ke puncak sepertinya membutuhkan waktu yang sangat lama.

Di musim 2018/19, tercatat kerugian 145,9 juta euro (sekira Rp2,2 triliun) atau 20 juta euro lebih banyak dibanding periode sebelumnya. Milan tidak pernah memperlihatkan level ekonomi seburuk ini. Tentu saja situasi tersebut berimbas kepada pencapaian tim.

Ketika kendali I Rossoneri berpindah kepada Eliott Management, banyak yang berharap krisis finansial klub teratasi. Sebagai perusahaan manajemen investasi, mereka cakap mengelola keuangan. Namun situasi tidak berjalan sesuai ekspektasi.


Baca Juga :
- Gelandang Raksasa Ini Dibidik Napoli
- Selama di Bergamo, Gasperini Sering Beruntung lawan Juve

Pemasukan terus menurun, 241,1 juta euro musim lalu dibandingkan 255,8 juta euro sebelumnya. Pada 2009, Milan mampu meraup sebesar 327 juta euro dan Juventus FC 240 juta euro. Sekarang I Bianconeri menjaring pendapatan 621 juta euro, sebaliknya rival sekota FC Internazionale anjlok.

Pendapatan dari pengurusan pemain juga susut (dari 42 juta euro menjadi 25,5 juta euro), dana dari sponsor (dari 44,7 juta euro menjadi 38 juta euro) dan pemasukan dari pertandingan (dari 35,3 menjadi 34,1). Hanya income dari hak siar televisi yang meningkat (dari 109,3 menjadi 113,8).

Ketika aliran dana dari luar berkurang drastis, Milan menanggung beban gaji besar, pemain maupun staf. Pengeluaran untuk staf naik dari 150,4 juta euro menjadi 184,8 juta euro. Masalah yang sudah diwarisi oleh pemilik asal Cina kepada Elliott. Stadion juga menjadi masalah yang masih diperjuangkan.

Perjalanan panjang yang penuh rintangan, dimulai dari biaya melebihi 200 juta euro dalam periode Li Yonghong dibandingkan 50 juta euro yang diberikan untuk operasi mendatangkan pemain baru. Ketika Eliott menyerap saham mayoritas, mereka menyuntikkan 265 juta euro sampai 30 Juni, ditambah lagi 60 juta euro antara Juli, Agustus dan September.

Jumlah ini tidak cukup untuk membawa Milan ke posisi yang ideal dan akan sulit bisa mengatasi krisis yang sudah berlangsung sejak beberapa tahun. Bagaimanapun sebagai pebisnis, misi utama perusahaan itu mendapatkan keuntungan. Namun, tanpa pemain berkualitas sepertinya sulit bisa mengangkat brand.

Ke depannya, sebelum berinvestasi di bursa transfer, Elliott harus melakukan kalkulasi cermat di mana prestasi tim asuhan Stefano Pioli jadi pertimbangan utama. Pembatasan anggaran pembelian pemain tentu saja hal itu membuat suporter cemas. Pasalnya, mereka menginginkan bintang untuk mencapai target empat besar klasemen Seri A. Selain itu, bermain di turnamen Eropa juga bisa mengembalikan daya tarik tim.

Mandzukic Merapat


Baca Juga :
- Staf Conte Bongkar Rahasia Dapur Inter
- Ini Saran Prandelli untuk Ibrahimovic

Kabar mengejutkan dihembuskan Il Giornale. Harian tersebut mengungkapkan kalau Mario Mandzukic merapat ke Milan. Kesepakatan antara striker yang diparkir Juventus FC itu dan I Rossoneri sudah terjadi.

Kemungkinan penyerang asal Kroasia itu hengkang pada mercato musim dingin. Operasi ini bisa diganggu oleh Manchester United. Klub yang berlaga di Liga Primer itu bersedia menampung Mandzukic dengan syarat pemain mau menurunkan gajinya sebesar 5 juta euro.*** Dari berbagai sumber

loading...

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA