#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
news
Rugi Besar, NBA Tak Punya Cara Dekati Cina
19 October 2019 13:09 WIB
NEW YORK – Embargo yang dilakukan Cina terhadap NBA membuat manajemen liga basket terbesar dunia tersebut kelimpungan. Beberapa waktu lalu, Komisioner NBA, Adam Silver, sudah berkunjung ke negara tersebut untuk melakukan lobi dengan Pemerintah maupun swasta. Namun, belum membuahkan hasil.

Cuitan dari General Manager Houston Rockets Daryl Morey yang mendukung aksi demonstran Hong Kong untuk menentang Pemerintahan Cina, terbukti menimbulkan efek luar biasa. Seluruh unsur yang ada di Cina kini mengembargo NBA.

Tidak hanya stasiun televisi Cina, CCTV, yang untuk sementara menghentikan penayangan NBA. Sederet perusahaan asal Negeri Tirai Bambu yang selama ini mensponsori kegiatan NBA juga mengambil langkah serupa.


Baca Juga :
- Indonesia vs Cina, Begini Prakiraan Susunan Pemainnya
- Hadapi Cina, Tim Elang Muda Indonesia Berburu Kemenangan 100 Persen

Silver mengatakan, apa yang dilakukan Cina menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi NBA. Pria berkepala plontos ini memang tak merinci berapa jumlah nominal. Yang jelas, dampak finansial sangat dirasakan NBA dan pihak terkait.

“Jujur, efeknya tidak main-main. Kami sudah berkunjung ke Cina namun tidak berpengaruh apa-apa terhadap penayangan (laga) pramusim NBA. Ya, sekarang kami hanya bisa melihat apa yang terjadi selanjutnya,” Silver mengungkapkan.

Hal ini semakin membuktikan kalau NBA sangat membutuhkan Cina. Dengan jumlah penduduk sekitar 1,4 miliar, ditambah tingginya popularitas basket di sana, Cina menjadi salah satu sumber pendapatan utama bagi NBA.

Bayangkan, kucuran uang dari Cina untuk NBA hanya kalah dari Amerika Serikat (AS). Silver pun mengaku belum menemukan solusi untuk memperbaiki hubungan antara NBA dan Cina. Namun, ia berharap, dalam waktu dekat ada titik terang.

Apalagi, NBA 2019/20 akan dimulai Selasa (22/10). “Kami belum tahu harus memulai dari mana. Tapi, yang jelas, konsekuensi keuangan yang sudah kami tanggung (dari embargo Cina terhadap NBA) harus segera berakhir,” Silver menuturkan.

Jika kondisi ini tak kunjung selesai, pemain NBA sangat mungkin terkena imbas. Untuk diketahui, setiap musim, NBA menaikkan salary cap (batasan uang yang dikeluarkan tim dalam menggaji pemain). Hal ini berbanding lurus dengan pendapatan NBA.

Untuk 2019/20, salary cap yang diberlakukan NBA ada di angka 109,14 juta dolar AS (sekitar Rp1,5 triliun) dengan batasan bebas luxury tax 132,62 juta dolar (sekitar Rp 1,8 trilun). Bukan tak mungkin, di masa depan, besaran tersebut menurun.

Kondisi ini akan membuat gaji pemain NBA mengalami penurunan. Yang lebih membuat Silver pusing, beberapa politikus AS turut mencibir karena dinilai lebih mementingkan uang daripada melindungi kebebasan berbicara yang dalam hal ini dilakukan Morey.

Ya, sudah menjadi rahasia umum jika Negeri Paman Sam tak membatasi aktifitas warganya. Apalagi yang menyangkut dengan Hak Asasi Manusia. Namun, Silver membantah tudingan yang ditujukan kepadanya tersebut.

Ia berdalih, tak mengindahkan permintaan beberapa pihak di Cina untuk memberi sanksi kepada Morey. Bahkan, pihak terkait di negara tersebut ingin agar Morey  dilarang aktif dari semua kegiatan basket AS, seumur hidup.

“Saya katakan kepada mereka (Cina), kalau dalam bisnisnya, NBA memegang teguh prinsip-prinsip Amerika. Kebebasan berpendapat dan berekspresi adalah hal yang dijunjung tinggi hingga kami tidak bisa memberikan hukuman,” ujarnya.


Baca Juga :
- Giannis Air Ball Saat Free Throw, Penggawa Bulls Ini Berikan Reaksi Kocak
- Intip Korsel vs Cina, Tim Pelajar U-18 Indonesia Malah Diburu Suporter

Silver menambahkan, sebagai seorang komisioner, dirinya juga wajib melindungi unsur-unsur yang terlibat dalam NBA. Ia pun tak segan untuk terus meyakinkan Pemerintah Cina beserta pihak terkait agar tak lagi mengembargo NBA.

Bahkan, dirinya menyindir balik politikus-politikus tersebut. “Mungkin saya berusaha terlalu keras sehingga terlihat seperti seorang diplomat,” ujar Silver yang mendapat kritik dari Presiden AS, Donald Trump, beberapa waktu lalu.*KRISNA C. DHANESWARA DARI BERBAGAI SUMBER 

loading...

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
news
ARTIKEL SEBELUMNYA