#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
news
INFOGRAFIS
Real Madrid Berharap Magis Hazard lawan Galatasaray
22 October 2019 16:22 WIB
ISTANBUL – Real Madrid mengakhiri La Liga pekan lalu dengan rapor tanpa gol, tepatnya kalah 0-1 dari Mallorca. Inilah yang dibawa pasukan Zinedine Zidane ke Istanbul, menghadapi raksasa Turki Galatasaray, dalam laga ketiga penyisihan grup Liga Champions, Selasa (22/10) atau Rabu dini hari WIB.

Dengan situasi tersebut, menjadi kali ketiga bagi Los Merengues tampil tanpa mampu mencetak gol setelah bermain dalam 11 pertandingan sepanjang 2019 ini. Total, hanya 18 gol diciptakan Madrid dari 11 pertandingan tersebut. Atau rata-rata hanya mampu menorehkan 1,6 gol per pertandingan.

Statistik tersebut praktis jauh lebih buruk dibandingkan tahun sebelumnya ketika mereka mampu menorehkan 1,8 gol per petandingan. Bahkan, performa tahun ini jauh lebih buruk dibandingkan Madrid dalam era Cristiano Ronaldo yang mampu mencetak rata-rata 2,8 gol per pertandingan pada 2016/17 dan 2,7 gol per laga pada 2015/16.


Baca Juga :
- MU Ditolak, Madrid dan Barcelona Bidik Pemain yang Sama Milik Inter
- Eden Hazard Rinci Kebutuhan Chelsea Jika Ingin Menantang Juara

Tentu saja, semua itu tidak terlepas dari situasi pasukan Zidane yang memang diterpa badai cedera secara bergantian. Total, ada 20 kasus cedera. Kini, ketika tandang ke Stadion Ali Samiyen atau Stadion Turk Telekom, Madrid tidak dapat membawa dua bintangnya: Gareth Bale dan Luka Modric.

Padahal, keduanya merupakan motor serangan Los Merengues. Dengan kondisi tersebut, lini serang Madrid dalam laga menghadapi pasukan Fatih Terim akan sangat bergantung kepada dua pilar utama: Karim Benzema dan Eden Hazard.

Dan, Benzema, merupakan pemain yang memang masih mampu bertahan dari kemungkinan ancaman cedera. Total, dia telah menorehkan enam gol dalam 882 menit atau rata-rata mampu menorehkan satu gol setiap 147 menit.

Di bawah Benzema, ada Bale dan Casemiro, yang masing-masing menorehkan dua gol. Lalu Luka Jovic, pemain yang datang dengan nilai transfer 60 juta euro dari Eintracht Frankfurt, masih dinantikan ketajamannya. Musim lalu, bersama klub asal Jerman tersebut, dia mampu menorehkan 27 gol.

Namun, di Madrid, dia justru masih kesulitan dalam menemukan golnya. Ketika menghadapi Mallorca, pemain asal Serbia ini tidak mampu melepaskan satu tembakan pun setelah tampil dalam 66 menit dalam pertandingan tersebut. Minim gol atau begitu sulitnya pasukan Madrid mengoyak gawang lawan, menjadi persoalan tersendiri bagi Zidane pada periode keduanya menangani Los Merengues.

Karena itulah, lawan Galatasaray, Madrid akan sangat berharap kepada Hazard. Ironisnya, bintang yang bergabung pada musim panas ini masih jauh dari penampilan terbaiknya. Gol pertama Hazard tercipta ketika menghadapi Granada dalam ajang La Liga.

Meski demikian, fakta penampilan Hazard, dalam hal ini kemampuannya dalam menggiring bola dan memberikan umpan mematikan masih belum terlihat seperti yang diperlihatkannya ketika masih di Chelsea.

Ya, lawan Galatasaray, Zidane membutuhkan mereka, pemain terbaiknya. Pelatih asal Prancis tersebut hanya mampu membawa Madrid meraih 10 kemenangan dari 20 laga sepanjang periode keduanya sebagai pealtih Madrid. Atau, persentase kemenangannya hanya mencapai 50 persen.

Statistik tersebut kembali masih jauh dari pelatih Madrid sebelumnya, Santiago Solari yang persentasi kemenangannya mencapai 70,6 persen. Zidane sendiri telah melakukan sejumlah perubahan untuk mengangkat performa timnya. Dari segi pola contohnya, dia menerapkan pola klasik 4-3-3 hingga 4-4-2 dengan variasi 4-2-3-1.

Meski demikian, semua perubahan tersebut tidak membuat Madrid mampu konsisten dalam meraih hasil positif. Persoalan Madrid lainnya adlah di pertahanan. Kiper Thibaut Courtois, boleh jadi masih belum beruntung karena pemain asal Belgia ini kemasukan 12 gol dari sembilan pertandingan.

Namun, di Istanbul, mereka tidak dapat mengharapkan lagi kepada keberuntungan. Situasi Madrid dalam klasemen grup dalam posisi yang terancam. Memang, ini baru dua pertandingan namun satu kekalahan akan membuat Madrid dalam posisi “nyaris tidak mungkin” untuk lolos ke fase knockout atau 16 besar.

Istanbul adalah tempat akan digelarnya final Liga Champions musim ini. Tapi, sepertinya, Madrid sudah lebih awal berada dalam situasi “final” dengan situasi mereka saat ini.

Ini menjadi tantangan yang memang berat bagi Madrid. Pasalnya, sejak 1993 silam, Madrid selalu berhasil lolos dari fase grup. Kini, bagi Zizou, misi di Turki berada dalam skala yang sangat sulit. Mereka akan menghadapi turbulensi di Ali Samiyen, ketika fanatisme pendukung Galatasaray bisa memengaruhi psikologis.

Bagi Galatasaray, hari ini, Madrid adalah musuh utama mereka. Dalam Liga Super Turki atau di kompetisi domestik, Galatasaray memiliki rapor mengagumkan setiap kali mereka bermain di kandang. Total, mereka tidak terkalahkan dalam 41 pertandingan kandang secara beruntun.

Namun, Madrid bisa berharap bahwa rapor tersebut tidak berlaku di ajang Eropa seperti Liga Champions. Faktanya, sejumlah deretan hasil memperlihatkan mereka lemah ketika tampil di ajang Eropa di kandang sendiri: kalah 0-2 dari Atletico Madrid, 2-3 dari FC Porto, dan tentu kalah 0-1 dari Paris Saint Germain pada tiga pekan lalu.

Pertahanan Madrid harus mewaspadai sejumlah pemain Galatasaray seperti Radamel Falcao. Penyerang ini memiliki pengalaman menghadapi Madrid meski tidak memiliki rapor yang bagus. Ketika masih bersama Atletico, empat kali menghadapi Los Merengues dan hanya membawa timnya meraih satu kemenangan. Meski demikian, Falcao mampu menorehkan dua gol ke gawang Madrid.*

 

 


Baca Juga :
- Dipinjamkan ke Arsenal, Ceballos Tak Mau Kembali ke Madrid Lantaran Zidane
- Tidur dengan Bola Bikin Pemain Ini Jago Bikin Gol, Dia Jadi Rebutan MU dan Madrid

 

 

loading...

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
news
ARTIKEL SEBELUMNYA