#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
news
Duel Liverpool versus Man. City Jadi Adu Filosofi Taktik Kontradiktif
09 November 2019 19:38 WIB
LIVERPOOL – Dua tim favorit juara akan bertemu pada Minggu (10/11), Liverpool FC versus Manchester City FC di Stadion Anfield. Duel yang sangat diantisipasi oleh kedua klub. Pertemuan ini mungkin terlalu dini untuk memastikan siapa yang keluar sebagai kampiun. Tetapi hasil akhirnya dipastikan bakal berpengaruh secara psikologis.

Kemenangan bisa mengangkat optimisme masing-masing kubu. Man. City tentu saja semakin termotivasi untuk mengejar gap poin jika mampu meraih hasil maksimal di Anfield. Bagi Liverpool, mengalahkan The Citizens memastikan mereka kian nyaman di puncak klasemen dengan keunggulan sembilan angka. 

Sebaliknya beban dan tekanan berat bakal menghinggapi kedua tim jika hasil akhirnya tidak sesuai harapan mereka. Ini yang membuat pertemuan pertama The Reds dengan Man. City menjadi menarik. Namun elemen terpenting dan paling ditunggu adalah melihat adu taktik antara kedua pelatih, Juergen Klopp dan Josep “Pep” Guardiola.


Baca Juga :
- Cetak Gol Ke-50, Winger Man. City Ini Dinilai Belum Bisa Gantikan Sane
- The Citizens Mulai Realistis

Mereka memiliki filosofi, pendekatan taktik, metode yang kontradiktif satu sama lain. Namun itu yang membuat baik Klopp dan Guardiola menjadi dua pelatih istimewa dan terbaik di dunia saat ini. Keduanya sama-sama mampu membentuk sebuah tim spesial dengan caranya masing-masing. Tak ada yang bisa menyangkalnya.

Klopp identik dengan sistem gegenpressing (menekan secara intens). Ini bagian vital dalam strateginya saat berhadapan dengan skuat Pep. Sementara Guardiola selalu memplot skema 4-3-3 melawan pasukan Klopp, di mana permainan akan di bangun dari belakang, dengan dua bek sayap akan memaksimalkan lebar lapangan saat menyerang.

Saat itu terjadi, gelandang jangkar siap mengover pertahanan dan untuk kemudian membentuk pola tiga pemain di belakang bersama dua bek sentral. Sebagai antisipasi, Klopp dengan gegenpressing-nya akan memaksa lawan bermain ke tengah. Nantinya gelandang-gelandang energik The Reds mencoba merebut bola.

Sementara penyerang sayap, Mohamed Salah dan Sadio Mane, diinstruksikan mendesak bek tengah lawan yang menguasai bola. Satu pemain di depan, Roberto Firmino, dengan dukungan para gelandang, akan menutup jalur operan. Bila The Citizens berhasil memberikan bola ke pemain sayap, maka full-back bertugas menekan secara agresif.

Namun itu bukan tanpa risiko. Pep akan memaksimalkan ruang yang ditinggalkan bek sayap Liverpool dengan winger (penyerang sayap) cepat seperti Raheem Sterling. Ketika masih melatih FC Bayern Muenchen, Guardiola kerap meminta bek sayapnya bermain lebih ke tengah demi menyediakan ruang lebih untuk para winger.

Di Man. City, taktik dasar Pep mengalami modifikasi, namun prinsipnya tetap sama. Jangkar The Citizens, Fernandinho kerap turun di antara lini serangan lawan untuk menerima bola. Ini membuat struktur build-up mereka menjadi asimetris, terdiri dari dua bek sayap dan dua bek tengah yang membentuk garis 45 derajat.

Satu hal yang akan menjadi perhatian kedua pelatih adalah transisi. Klub asuhan Klopp sangat piawai melakukan perubahan, dari bertahan lalu tiba-tiba melancarkan serangan balik efektif begitu mampu merebut bola. Startegi ini yang membuat Guardiola melabeli koleganya itu sebagai “pelatih serangan terbaik di dunia”.

Klopp memiliki pemain cepat, khususnya di sektor sayap untuk mengeksekusi transisi permainan. Di Liverpool ia punya komposisi perfek, Salah di kanan sementara Mane di kiri. Taktik ini sempurna untuk menghadapi klub yang gemar menguasai bola seperti Man. City. Bagi Guardiola, mengeliminasi ancaman serangan balik bisa jadi kunci.

Pep perlu mengambil risiko dengan antitesis filosofinya sendiri, yakni membiarkan The Reds menguasai bola. Lalu mereka bisa meniru taktik transisi pasukan Klopp. Man. City punya kapabilitas melakukannya dengan pemain seperti Raheem Sterling dan Bernardo Silva. Yang pasti Klopp dan Pep perlu memperhatikan segala aspek secar detail.*** 

Head to Head Juergen Klopp vs Josep Guardiola
Total pertemuan: 17
Klopp menang (persentase): 8 (47%)
Guardiola menang (persentase): 7 (41%)
Laga seri: 2
Klopp gol: 30
Guardiola gol: 29

Keterangan: Termasuk laga dan gol adu penalti.

   

 

 

    

  


Baca Juga :
- Pep Guardiola Kembali Menjadi Single Fighter di Liga Primer
- Solskjaer Sadar Tertekan, Kalah dari Tottenham dan City Dia Akan Dipecat

 

 

loading...

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA