#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
news
Leicester ala Rodgers Lebih Terencana dibanding Era Ranieri
11 November 2019 13:38 WIB
LEICESTER - Leicester City semakin memantapkan posisi dalam perlombaan untuk finis di empat besar Liga Primer usai mengalahkan Arsenal 2-0 untuk menjauh sembilan poin di depan The Gunners yang kini di urutan keenam. Kendati masih menantikan duel Liverpool vs Manchester City, The Foxes untuk sementara naik ke posisi runner up.

  Jamie Vardy memecah kebuntuan di menit ke-68 dengan gol kesembilan dalam banyak pertandingan atas Arsenal, golnya ke-10 musim ini, menuntaskan permainan apik antara Youri Tielemans dan Harvey Barnes. James Maddison memastikan kemenangan The Foxes dengan tendangan keras ke sudut bawah gawang kiper Bernd Leno.


Baca Juga :
- The Blues Cari Suksesor Hazard
- Faktor Ini Membuat Keita Bermain Taktis

Sontak harapan Leicester juara lagi pun melambung. Saat juara bersama Claudio Ranieri pada 2015/6, itu bukan hasil dari perencanaan yang cermat dan pemikiran logis, lebih dari pertemuan yang tidak masuk akal dari momen yang melibatkan kecemerlangan individu, efek tradisi pramusim, dan tak sedikit keberuntungan, lalu lahirlah keajaiban.

Kali ini berbeda. Lebih terasa karena visi seorang pelatih yang luas serta rencana jangka panjang yang dijalankan dengan hati-hati. Namun, Brendan Rodgers mengecilkan peluang tantangan gelar Leicester pada tahap ini. Bahwa semua pencapaian tim hingga saat ini karena para pemain mampu mengadaptasi permainan yang dia inginkan.

“Kami tidak benar-benar memikirkan itu,” kata Rodgers, saat ditanya apakah Leicester bisa dianggap sebagai penantang gelar.” Kami hanya berpikir membuat tim lebih baik. Itu fokus saya sejak pertama datang. Kami ingin menjadi tim empat besar, dan jika bisa membawa sepak bola Eropa ke sini, itu akan hebat. Ini kredit besar bagi para pemain."

Setelah jeda internasional, Leicester akan melawan Brighton, Everton, Watford, Aston Villa, dan Norwich City. Jika bisa mengantongi tambahan 15 poin, mereka tidak akan kesukaran saat menghadapi City dan Liverpool sebelum Tahun Baru.

“Saya kira kami telah melemparkan granat tangan tepat ke tengah-tengah mereka (tim empat besar),” kata Rodgers. “Kami hanya perlu terus konsistens dengan permainan kami. Kami telah bekerja dengan sangat baik hingga 12 pertandingan tetapi kami harus terus berjalan sampai tersisa 10 laga, untuk bisa menilai di mana kami akan berakhir.”


Baca Juga :
- Lingard di Jalur yang Benar
- Liverpool Penguasa Big Seven

Transformasi tim sejak ditinggal Claude Puel, sangat luar biasa. Rodgers pada dasarnya memiliki satu set pemain yang sama seperti ketika dia pertama kali datang ke King Power pada akhir Februari. Bahwa 10 dari 11 starter versus Arsenal, kecuali Ayoze Perez, telah jadi pilihannya saat debutnya sebagai pelatih ketika laga melawan Watford.

Setiap aspek dari tim ditingkatkan. Rodgers memperketat pertahanan meski kehilangan Harry Maguire, membuat lini tengah lebih efisien dengan trio Wilfred Ndidi-Tielemans-Maddison, dan fokus kembali pada performa Vardy hingga menjadikannya pencetak gol terbanyak liga. Padahal dia nyaris meninggalkan King Power semasa kepelatihan Puel.* Nurul Ika Hidayati

loading...

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA