#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
news
Pemikiran Out of The Box Mancini Selamatkan Italia
21 November 2019 16:38 WIB
PALERMO – Sejak 2010, para pemain Italia tidak memiliki panggung. Dalam Piala Dunia 2010 dan 2014, Gli Azzurri terhenti di fase grup. Yang paling memalukan ketika Gian Piero Ventura berkuasa, timnas absen di kompetisi elite itu pada 2018. Prestasi lumayan dipetik di Piala Eropa, di mana mereka menjadi runner-up pada edisi 2012 dan perempat final 2016.

Menukiknya pencapaian kampiun Dunia 2006 tersebut tak ayal memukul mental para pemain. Semua pihak saling menyalahkan. Inilah cerminan sepak bola Italia ketika Roberto Mancini mengambil alih timnas. Tak sedikit yang mencibir pelatih bertangan dingin itu. Namun, dia tak peduli dan menabrak berbagai rintangan.

“Mancini mengatakan kami mampu memenangkan 10 pertandingan kualifikasi dan kami percaya,” kata kiper Gianluigi Donnarumma dalam satu kesempatan. Pelatih tak sekadar melontarkan omong  kosong karena di benaknya sudah tahu apa yang mesti dilakukan untuk mencapai target.


Baca Juga :
- Italia Catat Rekor 100 Persen, Mancini: Semua Hanya Bisa Dihitung Jika Italia Juara
- Ciro Immobile Yakin Gli Azzurri Bisa Juara Euro 2020

Hal yang paling fundamental adalah mengubah rasa depresi tim dan menularkan pikiran positif. Sebagai seorang motivator hebat, Mancini tahu memiliki tim bagus tapi butuh sesuatu untuk membuat setiap individu menjadi pemain juara. Dia menekankan agar anak buahnya senantiasa merasa gembira di lapangan.

Setelah suasana hati pemain membaik, Mancini bergerak membenahi permainan. Hanya punya sedikit pemain yang rutin berlaga di Liga Champions dan kurang dari segi intensitas dan fisik, membuatnya memikirkan siasat untuk mengatasi kelemahan. Hasilnya timbul skuat yang pantang menyerah, mengandalkan tradisi para pemain bertahan dan mengandalkan teknik.

Pemain berotot dan rasional jangan harap bisa masuk tim sebab commisario tecnico itu menyukai mereka yang unggul dari sisi teknik. Titik perubahan penting adalah Jorginho. Gelandang itu hanya tampil sekali bersama Ventura, tapi di era Mancini, dia paling sering ada di lapangan (1493 menit dari 1780 menit).

Mancini memainkan Marco Verratti-Jorginho sebagai dobel playmaker. Dengan Lorenzo Insigne membentuk segitiga di kiri, menjadi kunci dari semuanya. Dari bagian ini, Emerson dapat memberi tekanan. Di kanan, Nicolo Barella main di area lawan yang dipadati oleh lima pemain. Ketika tidak menguasai bola, para pemain tetap berada di sana memberi tekanan. Lini bertahan maju ke depan, membangun mesin perang yang mendapat 10 kemenangan dalam 10 pertandingan, menghasilkan 9 gol melawan Armenia.

Para pemain muda merupakan kunci sukses ketiga. Metode Mancini memberi kepercayaan pesepak bola yang bahkan belum pernah berdebut di Seri A, sempat menuai kecaman. Namun, pemikiran out of the box itu rupanya sangat berguna.


Baca Juga :
- Update Hasil dan Klasemen Kualifikasi Piala Eropa 2020, Selasa Dini Hari WIB
- Gli Azzurri Bersama Venezia

Salah satu contohnya adalah Nicolo Zaniolo yang dipanggil ke Coverciano, bahkan sebelum Paulo Fonseca menurunkannya dalam laga AS Roma. Gelandang muda itu menjadi mesin turbo yang mendorong laju tim dari tengah. Pelatih kawakan Vujadin Boskov menjelaskan, “Roberto melihat jalan tol, ketika orang lain melihat gang sempit.” Kini Italia mengandalkan kepada para pemain muda yang memiliki kemampuan pressing, tidak takut berada di lapangan. Para pejuang seperti Nicolo Barella atau Zaniolo.

Kekuatan keempat adalah grup. Cukup menyimak gol debutan di timnas Riccardo Orsolini, yang merupakan hasil kolaborasi beberapa pemain. Dalam pertandingan lawan Armenia, Senin (18/11), para pemain tampil dengan serasi satu sama lain.* Dari berbagai sumber

loading...

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA