#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
news
INFOGRAFIS
Tottenham Hotspur Gerak Cepat
21 November 2019 14:20 WIB
LONDON - Tottenham Hotspur FC bergerak cepat. Kurang dari 12 jam setelah memecat Mauricio Pochettino pada Selasa (19/11) malam atau Rabu dini hari WIB, manajemen The Lilywhites langsung menunjuk Jose Mourinho sebagai pelatih baru. Pria asal Portugal, 56 tahun, tersebut diikat kontrak sampai akhir 2022/23 sekaligus mengalahkan sejumlah nama top seperti eks pelatih Juventus FC Max Allegri, pelatih AFC Bournemouth Eddie Howe, dan pelatih RB Leipzig Julian Nagelsmann. 

Daniel Levy, Ketua Eksekutif Tottenham, mengonfirmasi Mourinho akan menjadikan Spurs sebagai tim Liga Primer ketiga yang ditangani setelah dua periode di Chelsea FC dan sekali di Manchester United FC (MU). Sejak dipecat MU pada Desember tahun lalu, Mourinho bekerja sebagai analis dan komentator televisi. Ia sempat diisukan bakal melatih sejumlah klub Eropa, di antaranya Olympique Lyonnais (Ligue 1), salah satu mantan klubnya Real Madrid (La Liga), dan Arsenal FC (Liga Primer).

Keputusan Spurs yang dengan cepat menunjuk Mourinho sebagai pengganti Pochettino terbilang mengejutkan. Namun begitu, Levy menyebut pengalaman Mourinho melatih sejumlah klub Eropa plus sederet trofi bergengsi—di antaranya tiga Liga Primer untuk Chelsea, dua Liga Champions bersama FC Porto dan FC Internazionale,d an satu Liga Europa untuk MU—menjadi faktor utama.


Baca Juga :
- Parrott Berhasil Membuat Mourinho Terkesan
- Totttenham Sukses Penuhi Target Awal Mourinho

“Kami melihat Mourinho sebagai salah satu pelatih yang sangat sukses,” tutur Levy. “Pengalaman Mourinho sangat banyak, mampu menginspirasi tim, dan ahli strategi. Ia selalu memenangi gelar di setiap klub yang ditangani. Kami optimistis ia mampu membawa energi positif di ruang ganti pemain.” 

Sepanjang kariernya, Mourinho telah memenangi tidak kurang 25 trofi klub level senior, termasuk empat liga domestik di negara berbeda yang hingga kini masih menjadi rekor. Torehannya memaang kontras dengan Pochettino yang belum pernah mengangkat trofi untuk Spurs. Kendati begitu, Pochettino berhasil melakukan transformasi di Tottenham sehingga mampu lolos ke Liga Champions dalam empat musim terakhir. Termasuk hingga menembus final pada musim lalu (2018/19). 

“Saya senang dan merasa terhormat bisa bergabung dengan klub yang memiliki sejarah bagus dan suporter yang sangat antusias,” ucap Mourinho setelah resmi diangkat menjadi pelatih Spurs. “Kualitas pemain di tim maupun Akademi Spurs juga menarik bagi saya. Bekerja dengan sederet pemain dengan kualitas di atas rata-rata dalam tim ini juga menjadi tantangan bagi saya.”

Tugas Mourinho di Spurs sebenarnya tidak akan mudah. Ia harus segera cepat membenahi Harry Kane dan kawan-kawan setelah rangkaian hasil buruk musim ini. 

Pochettino meninggalkan Spurs dengan status tim peringkat ke-14 klasemen Liga Primer setelah hanya mampu merebut 14 poin dalam 12 pertandingan. Jika digabung dengan 12 pertandingan terakhir liga musim lalu, Spurs hanya mampu merebut 25 poin dalam 24 laga. Spurs juga tidak pernah memenangi pertandingan tandang Liga Primer sejak Januari lalu. 

Sebelumnya, Spurs tidak pernah mengontrak pelatih mahal seperti Mourinho. The Lilywhites juga bukan tipe klub yang gemar jorjoran berbelanja pemain mahal. Mau tidak mau, Mourinho harus menyesuaikan diri sekaligus meninggalkan kebiasaannya dengan mudah mendapatkan pemain bintang seperti yang ia alami di Madrid dan MU. 

Banyak penggemar Spurs yang sebenarnya menginginkanNagelsmann sebagai pengganti Pochettino. Pelatih muda, 32 tahun, tersebut memiliki beberapa kemiripan dengan Pochettino dan lebih mengutamakan pengembangan performa pemain.

Kendati begitu, bukan tidak mungkin situasi di Spurs kini berbalik. Selama lima tahun menangani Tottenham, Pochettino terbilang jarang membeli pemain berlabel bintang.Spurs baru saja menghabiskan 1 miliar paun untuk membangun stadion baru dan sejumlah lapangan untuk berlatih. Manajemen The Lilywhites mengklaim masih harus mengangsur utang. 

Tetapi, keberhasilan lolos ke Liga Champions empat musim terakhir plus hasil penjualan sejumlah pemain bintang, memberikan pemasukan yang tidak sedikit bagi Spurs. Mereka bahkan sempat menjadi salah satu klub dengan keuntungan sangat besar di Eropa. 

Mourinho sudah hampir setahun tidak melatih. Karier Mourinho yang naik-turun di MU juga membuatnya kehilangan status “The Special One”. Statistik menunjukkan, persentase kemenangan Mourinho terus merosot setelah menggebrak Eropa bersama Porto. 

Saat meninggalkan Portugal usai memberikan gelar Piala UEFA 2002/03, Liga Champions 2003/04, dan sejumlah ajang domestik untuk Porto, persentase kemenangan Mourinho mencapai 71,7 persen. Pada periode pertamanya di Chelsea, persentase kemenanan Mou berada di angka 67 persen. Salah satunya berkat dua gelar Liga Primer beruntun (2004/05 dan 2005/06). 


Baca Juga :
- Menjamu Burnley, Spurs Targetkan Menang Tanpa Kebobolan  
- Man. United Siap Lanjutkan di Derbi

Strategi permainan Mourinho berubah drastis saat menangani Inter. Ia lebih pragmatis dan mulai gemar bermain bertahan. Meskipun persentase kemenangannya hanya 62 persen, Mourinho masih mampu memberikan gelar Liga Champions 2009/10 untuk Inter. 

Di Madrid, persentase kemenangan Morinho kembali naik menjadi 71,9 persen. Namun, strateginya yang cenderung bertahan mengandalkan serangan balik, tidak berubah. Strategi itu pula yang dipakainya saat menangani Chelsea untuk kali kedua (persentase kemenangan hanya 58,8 persen) dan MU (58,33 pesen).*

loading...

BERITA TERKAIT

Penulis
Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA