#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
news
Karier Goetze di Dortmund Tergantung Pelatih
22 November 2019 13:25 WIB
DORTMUND - Karier Mario Goetze di Borussia Dortmund bakal tergantung pelatih Lucien Favre. Die Borussen sebenarnya telah melakukan negosiasi perpanjangan kontrak dengan Goetze sejak beberapa bulan yang lalu.

Namun, Goetze dikabarkan tidak berniat memperpanjang kontraknya dengan Dortmund yang akan habis pada 30 Juni 2020 nanti. Dia lebih memilih untuk hengkang dari Signal Iduna Park. Terutama jika Favre tetap menduduki kursi pelatih pada musim depan.

Sejak Favre datang pada Mei 2018, Goetze semakin jarang diturunkan. Musim ini, dari 11 kali dimainkan di semua ajang, gelandang serang 27 tahun itu baru lima kali menjadi starter. Dari 11 kali turun tersebut, Goetze mencetak dua gol (semua di Bundesliga dalam tujuh kali dimainkan) dan satu assist (dari dua laga Liga Champions).


Baca Juga :
- Dortmund Butuh Winger Muda Inggris Ini
- Jersey Ulang Tahun Bawa Keberuntungan bagi Dortmund

Dortmund sejatinya berusaha membujuk pemain tim nasional Jerman itu untuk bersedia menerima potongan 25 persen dari gaji 10 juta euro (Rp 155,9 miliar) per tahun yang dikantonginya selama ini. Goezte dikabarkan tidak merasa keberatan untuk menarima gaji yang lebih rendah dalam kontrak barunya dengan Dortmund. Syaratnya, Die Borussen harus memberinya jaminan bahwa dirinya bakal mendapatkan menit bermain yang lebih banyak musim depan.

Tapi, kesempatan itu akan sulit diperoleh Goetze jika Favre masih bertahan di kursi pelatih. Karenanya, mantan pemain FC Bayern Muenchen ini berniat untuk mencari klub baru jika pelatih asal Swiss yang dikontrak hingga 2021 itu melanjutkan kiprahnya di Signal Iduna Park.

Ini akan jadi akhir yang ironis bagi Goetze di Dortmund. Pasalnya, dia pernah disebut-sebut sebagai bintang masa depan Die Borussen lantaran aksi impresif dalam beberapa musim pertamanya. Dia juga jadi bagian dari generasi emas Dortmund yang memenangi gelar Bundesliga dua musim  berturut-turut (2010/11 dan 2011/12) di bawah asuhan Juergen Klopp.

Karier Goetze memang menanjak dengan sangat cepat. Seusai sukses bersama Dortmund, dia memenangi Piala Dunia 2014 bersama timnas Jerman saat usianya baru 22. Goetze bahkan jadi pahlawan Die Mannschaft dengan membukukan satu-satunya gol kemenangan atas Argentina usai masuk sebagai pemain pengganti pada final di Maracana.

Gol itu pula yang membuat Goetze sempat dielu-elukan sebagai “jawaban” Jerman buat Lionel Messi yang membintangi timnas Argentina. Tapi kini, kurang dari enam tahun kemudian, Goetze yang seharusnya tengah menikmati puncak kariernya justru terancam jadi sosok yang terlupakan.

Keputusan Dortmund mendatangkan para penyerang muda berkulitas seperti Julian Brandt dan Thorgan Hazard pada bursa transfer musim panas lalu, membuat Goetze kian terpinggirkan. Padahal, sebelumnya dia sudah kesulitan bersaing dengan Paco Alcacer, Jadon Sancho, dan Marco Reus di lini depan Die Borussen musim lalu.

Goetze jadi starter dalam laga terakhir Dortmund di Bundesliga melawan Muenchen dua pekan lalu. Tapi, dia tidak bisa berbuat banyak hingga akhirnya Die Borussen kalah telak 0-4. Hasil ini membuat mereka kembali tertinggal dalam pacuan gelar dengan jarak enam poin dari Borussia Moenchengladbach yang memuncaki klasemen.

Karenanya, meraih kemenangan lawan SC Paderborn pada pekan ke-12 Bundesliga jadi kewajiban bagi Dortmund. Sayangnya, Goetze hampir kembali menjadi cadangan pada laga di Signal Iduna Park, Jumat (22/11) malam nanti.


Baca Juga :
- Die Fohlen Deja Vu
- Kans Muenchen Juara Bundesliga Mengecil dibanding Sebelumnya

Namun begitu, di atas kertas Dortmund bisa dengan mudah menaklukkan Paderborn. Die Borussen punya catatan sangat meyakinkan dengan tiga kali menang dan sekali imbang dalam keempat duel sebelumnya dengan tim promosi tersebut. Mereka juga mencetak 16 gol dan hanya kebobolan lima gol dalam keempat duel itu.

Paderborn juga belum beranjak dari posisi juru kunci setelah hanya mengais empat poin dari 11 laga pertama. Mereka sekali menang, sekali imbang, dan sembilan kali kalah. Sejarah mencatat bahwa keenam tim sebelumnya yang sembilan kali kalah dalam 11 laga pertama Bundesliga selalu terdegradasi di akhir musim.***RIJAL ALFURQON DARI BERBAGAI SUMBER

loading...

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA