#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
news
INFOGRAFIS
Manchester United Wajib Main Cepat Lawan Sheffield United
23 November 2019 02:04 WIB
SHEFFIELD - Minggu (24/11) besok, Manchester United FC (MU) akan bertandang ke
markas Sheffield United FC, Stadion Bramall Lane, untuk kali pertama dalam 13 tahun
terakhir. Tim Setan Merah akan berusaha melanjutkan catatan impresif memenangi
empat dalam lima pertandingan terakhir semua kompetisi.

Kendati peringkat Sheffield United saat ini lebih baik (kelima), di atas kertas dan
melihat statistik terakhir, MU (ketujuh) diyakini tidak akan kesulitan di Bramall Lane.
Rekor laga tandang skuat pelatih Ole Gunnar Solskjaer itu juga tidak mengecewakan.
Dari semua kompetisi, MU mampu memenangi tiga laga dan kalah dua kali.

Saat menundukkan Brighton & Hove Albion FC, 3-1, duel pekan ke-12 Liga Primer, MU berhasil melepaskan 11 tembakan ke gawang. Agresivitas Setan Merah tersebut tidak
lepas dari hasil racikan Solskjaer. Tugas utama salah satu legenda MU yang dipilih
menjadi pelatih per Desember 2018 (resmi diangkat pada 28 Maret lalu) itu adalah
mengembalikan identitas Setan Merah sebagai tim dengan gaya bermain menyerang
seperti filosofi sang pelath legendaris, Sir Alex Ferguson.


Baca Juga :
- 5 Pemain Ini Bisa Dibeli Manchester United
- Efektivitas Mousset Kunci Sheffield melawan Newcastle

Mewarisi permainan defensif dari Jose Mourinho, perlahan tapi pasti Solskjaer
mengubah karakter permainan MU dari mengandalkan serangan balik menjadi tim yang
agresif bermain cepat. Dengan kecepatannya, trio penyerang Marcus Rashford, Anthony
Martial, dan winger baru Daniel James, mampu langsung masuk ke area pertahanan
lawan untuk melepaskan tembakan atau umpan.

Dengan formasi 4-2-3-1, Solskjaer mulai mampu memanfaatkan kecepatan pemain
tetap maksimal diaplikasikan di area sempit. Salah satu kuncinya adalah operan
antarpemain yang dilakukan secepat mungkin. Permainan MU saat ini lebih cepat dan
energik berkat kebugaran sejumlah pemain muda.

Statistik mencatat, dari 12 laga Liga Primer yang sudah dimainkan musim ini, Rashford
menjadi pemain tercepat MU dengan kecepatan puncak 36,32 km/jam saat melawan
Crystal Palace FC. Ia bahkan lima kali menjadi pemain dengan lari tercepat MU. James di
posisi kedua dengan 35,02 km/jam.

Kecepatan para pemain depan MU membuat lawan-lawan mereka di beberapa laga
terakhir cenderung bermain defensif. Mereka akan membiarkan Setan Merah
menguasai bola karena khawatir rengangnya sisi dalam pertahanan akan
dimaksimalkan oleh Rashford atau James.

Taktik olahan Solskjaer yang mengandalkan kecepatan ini tidak salah. Namun, ia tetap
butuh seorang playmaker yang tidak hanya cepat namun mampu menahan bola lebih
lama di tengah. Itulah mengapa pemain seperti Paul Pogba tetap diperlukan.

Evolusi taktik yang dilakukan Solskjaer ini sejatinya memakan proses cukup panjang.
Sejak Ferguson mengundurkan diri pada akhir 2012/13, MU mengalami penurunan
performa di bawah tiga pelatih berikutnya.

Di era David Moyes, permainan MU banyak dipengaruhi gaya Everton FC, tim asuhan Moyes sebelumnya. Moyes banyak menggunakan formasi 4-2-3-1. Namun, karena beberapa bek seperti Nemanja Vidic, Rio Ferdinand, dan Patrice Evra sudah menua, pertahanan MU pun mulai melemah. Jonny Evans—kini Leicester City—yang direkrut ternyata belum matang karena terlalu muda.

Moyes pun mengandalkan Michael Carrick dan Tom Cleverley sebagai gelandang tengah
double-pivot. Carrick menjadi gelandang bertahan sementara Cleverley gelandang box-
to-box untuk membantu serangan bila diperlukan.

Tetapi, strategi Moyes tidak berjalan mulus. Wayne Rooney kesulitan di depan karena
pasokan dari tengah berkurang. Robin Van Persis gagal mengulang ketajaman saat
direkrut Ferguson. Moyes akhirnya hanya bertahan 10 bulan karena MU berada di
posisi ketujuh klasemen dengan poin terendah sepanjang sejarah Liga Primer hingga
pekan ke-34.

Louis Van Gaal lalu masuk pada Mei 2014. Memainkan skema 3-5-2 yang sukses
diterapkan di timnas Belanda, Van Gaal ingin Setan Merah menguasai lini tengah. Sesuai
dengan filosofi melatih Van Gaal, penguasaan bola.

Faktanya, para pemain di sepertiga akhir MU tidak memiliki kecepatan. Karena berkarakter lambat, para gelandang dan penyerang MU juga tidak mampu cepat merebut bola dari lawan. Carrick, Juan Mata, dan Rooney, pada akhirnya lebih banyak memainkan bola di tengah.

Van Gaal lalu mengubah formasi menjadi 4-1-4-1. MU memang mampu bermain lebih
menekan tapi lini belakang dengan bek tengah Chris Smalling dan Phil Jones, sangat
buruk. Luke Shaw didatangkan untuk menggantikan Evra dan Antonio Valencia
dijadikan bek sayap (wing-back).

Pada musim keduanya, Van Gaal mengandalkan formasi 4-2-3-1. Kendati skema
tersebut cenderung bertahan, serangan MU ke sepertiga akhir lapangan agak membaik.
Untuk tiga gelandang serang, Van Gaal mengandalkan Morgan Schneiderlin, Bastian
Schweinsteiger, dan Herrera. Tapi, produktivitas MU ternyata tidak membaik. Dari 38
pertandingan Liga Primer 2015/16, dalam 21 laga di antaranya MU hanya mampu
mencetak dua gol atau kurang.

Mourinho yang masuk pada 2016/17 justru lebih pragmatis. Ia menyukai pemain yang
matang dan kuat secara fisik. Mou lebih mengedepankan hasil (kemenangan) ketimbang
strategi jangka panjang. Karena itu ia merekrut sederet pemain mahaal seperti Pogba,
Nemanja Matic, dan Romelu Lukaku.


Baca Juga :
- Man. United vs Spurs, Duel Dua Tim dengan Kondisi Kontras
- Doherty Selamatkan Muka Wolves di Molineux

Dengan skema 4-2-3-1, formasi utama Mou sebagian besar berisi Lukaku sebagai striker
dengan Henrikh Mkhitaryan berdiri di depan Matic dan Pogba. Problem utama Mou
adalah tidak disiplinnya parfa pemain menjalankan taktik.

Melawan tim-tim yang lebih kecil, MU mampu dominan. Tetapi saat menghadapi klub-
klub elite seperti Manchester City, Chelsea FC, Tottenham Hotspur, Liverpool FC, dan
Arsenal FC, Tim Setan Merah cenderung mengandalkan serangan balik. Mereka juga
berupaya membuat lawan melakukan kesalahan. Mou membawa MU finis runner-up
Liga Primer 2017/18 tetapi dari sisi permainan dan teknik sangat buruk.*

loading...

BERITA TERKAIT

Penulis
Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA