#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
news
Antara Askot, Askab, Asprov, dan PSSI
30 January 2017 04:26 WIB
Mengapa Presiden Joko Widodo sampai menginstruksikan percepatan pembangunan sepak bola nasional? Mengapa harus ada istilah percepatan pembangunan  sepak bola nasional? Bisa jadi atas pemahaman Presiden sendiri terhadap kondisi sepak bola di Indonesia. Bisa jadi atas laporan Ketua Umum PSSI, Presiden pun memberikan pernyataan harus ada percepatan pembangunan sepak bola nasional. Sesuai intruksi tersebut, Presiden pun memberikan empat arahan agar Sepakbola nasional bangkit. Hal ini terungkap saat rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, pada Selasa (24/1/2017). Dalam ratas tersebut juga turut diundang Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, dan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi M. Nasir.

Lalu, apa empat hal yang diarahkan oleh Presiden? Pertama, menyoal pembinaan sepak bola sejak usia dini. Kedua, Presiden juga meminta dilakukan pembenahan total atas sistem dan tata kelola sepak bola nasional. Ketiga, Presiden juga menekankan pembinaan manajemen klub. Keempat, Presiden Jokowi mendorong peningkatan kuantitas dan kualitas infrastruktur sepak bola, mulai dari stadion atau tempat latihan lain yang memenuhi standar.

Masalah Klasik
Kunci dari keterpurukan pembinaan usia dini dan usia muda adalah dipicu oleh PSSI sendiri yang tidak dapat memaksimalkan fungsi dan kedudukan Asosiasi Kota (Askot), Asosiasi Kabupaten (Askab), dan Asosiasi Provinsi (Asprov) yang merupakan kepanjangan PSSI di Kota, Kabupaten, dan Provinisi di seluruh Indonesia yang sudah berlangsung dari era ke era kepengurusan PSSI. Masalah yang sangat klasik. Tidak berkutiknya Askot, Askab, dan Asprov dalam mengemban tugas PSSI untuk melakukan pembinaan, pelatihan, hingga festival dan kompetisi, semakin membuat kisruh pola pembinaan usia dini dan usia muda. 


Baca Juga :
- Tak Indonesia di Saigon
- Secondary Player

Ketidakberdayaan Askot, Askab, dan Asprov langsung dimanfaatkan oleh penggiat sepak bola usia dini dan muda dengan membentuk wadah-wadah pembinaan. Akhirnya, wadah-wadah sangat mudah bermunculan ini seolah menjadi PSSI-PSSI baru yang justru dengan mudah mengelola pembinaan mulai festival, hingga kompetisi usia dini dan muda. 

Bahkan, wadah-wadah tersebut dapat membentuk tim nasional usia dini dan muda kemudian menyertakaannya dalam event internasional dengan mengatasnamakan timnas Indonesia. Mereka pun dengan mudah merekrut massa, yaitu sekolah-sekolah sepak bola yang baru bermunculan. Ibarat gayung bersambut, sekolah-sekolah sepak bola yang baru bermunculan membutuhkan pengakuan dan eksistensi. 

Ada persoalan hingga Presiden juga memberikan arahan agar ranah ini disentuh secara massal karena keberadaan Askot, Askab, dan Asprov seolah mandul. Maka Presiden pun akan menggiatkan sepak bola usia dini melalui jalur sekolah formal, maka dalam rapat tersebut, Presiden juga mengundang Menpora, Mendikbud, Menristek Dikti.
 
Padahal selama ini, keberadaan Liga Pendidikan Indonesia (LPI) yang dibawahi oleh Menpora, juga turut menjadi benang kusut pembinaan sepakbola usia muda di Indonesia. Bagaimana tidak, subjek dari sekolah sepak bola dan sekolah formal adalah pada individu pemain yang sama. Si individu pemain pun jadi korban tarik menarik kepentingan.

Pembenahan Total
Solusi yang paling tepat adalah PSSI mengambil tindakan dengan mengambil alih seluruh pembinaan usia dini dan usia muda. Fungsikan Askot, Askab, dan Asprov sesuai dengan statuta PSSI dan FIFA. Karena, satu-satunya organisasi resmi yang mengurus sepak bola di negara Indonesia dan diakui FIFA adalah PSSI. 

Jadikan wadah-wadah yang seperti kepanjangan PSSI sebagai mitra saja. Bukan menjadi PSSI di dalam PSSI. Faktanya, keberadaan wadah-wadah pembinaan usia muda yang dibentuk bak organsiasi semacam PSSI, sungguh sudah meresahkan dan menjadikan pembinaan usia dini dan usia muda menjadi karut marut. Tentu hal ini sejalan dengan arahan Presiden kedua, yaitu pembenahan total atas sistem dan tata kelola sepak bola nasional. 

Fungsikan Direktur Teknik PSSI untuk menyeragamkan pola pembinaan sepak bola usia dini dan usia muda secara nasional di seluruh Asprov lalu turun ke Askot dan Askab, hingga terjadi satu visi dan misi pembinaan, pelatihan, dan kompetisi di bawah naungan PSSI. PSSI harus berani menolak kepentingan lain yang ingin ikut mewarnai sepak bola usia dini dan muda yang selama ini telah terbukti menambah karut marut wajah sepak bola usia dini dan muda Indonesia.

Bila PSSI berhasil memfungsikan Askot, Askab, dan Asprov maka persoalan pembinaan sepak bola akar rumput akan tuntas. Pastikan semua pembinaan usia dini dan usia muda melalui satu jalur yaitu di bawah naungan Askot, Askab, dan Asprov. Semetara, PSSI juga tetap mengiringi dan memantau kompetisi-kompetisi usia muda yang kini tengah bergulir dan dirintis oleh pihak swasta dan menjadikan mereka sebagai mitra. Tertibkan wadah-wadah sekolah sepak bola yang seolah menjadi PSSI-PSSI baru.

Bila persoalan Askot, Askab, dan Aspov ini tertangani dan difungsikan oleh PSSI, maka yakin tidak ada lagi kendala pola pembinaan sepak bola usia dini dan muda untuk tim Garuda. Usia dini yang mengelola kelompok umur di bawah usia 12 tahun, tentu akan sangat mudah dipantau perkembangannya oleh setiap Askot dan Askab, bila dilakukan dengan pola pembinaan sesuai visi dan misi yang sama dari Dirketur Teknik PSSI. Maka, akan ada festival sepakbola internal Askot dan Askab, kemudian akan ada festival kelompok usia 12 tahun ke bawah antar-Askot dan Askab di tingkat provinsi dan akhirnya di tingkat nasional.

Begitu juga untuk usia muda, di kelompok umur 13, 14, 15, dan 16 tahun. Akan ada kompetisi internal Askot, Askab, hingga kompetisi antar-Asprov dan tingkat nasional, seperti yang terjadi pada kompetisi junior, Piala Suratin (Usia 17 tahun). Lalu secara berjenjang di tingkat klub ada kompetisi kelompok 19 tahun dan 21 tahun. Andai ini terjadi, maka stok pemain muda Indonesia yang melimpah, plus memiliki fondasi sepak yang kuat karena ada keseragaman visi misi dan pola pembinaan.


Baca Juga :
- Isu Sarri dan Conte
- Sikap Bale

Sesuai Program
Fachri Husaini, Indra Sjafri, dan Luis Milla, tiga pelatih anyar timnas Indonesia tentu akan sangat mudah, memilih calon penggawa timnas hanya dengan memantau dari setiap pertandingan di kompetisi sesuai jenjang kelompok umurnya. Pertanyaanya, dalam mengemban tugas barunya, khusus Fachri dan Indra, akan memilih pemain timnas dari kompetisi macam apa?  Karena belum ada kompetisi baku dan berjenjang yang dirancang PSSI. Apakah kedua pelatih ini akan blusukan mencari pemain? Atau, mereka akan menerima pemain titipan untuk masuk timnas?
Ironisnya, belum lagi Luis Milla bekerja, ada kabar beredar bahwa pelatih anyar ini sudah disodori nama-nama pemain yang dicalonkan masuk timnas. Ini bagaimana? Kompetisi saja belum bergulir. Apa pola lama akan kembali terjadi? Dengan alasan terdesaknya waktu dan mepetnya event timnas? Semoga PSSI benar-benar membenahi keberadaan dan memfungsikan Askot, Askab, dan Asprov. Menertibakan wadah yang tidak bersinergi dengan PSSI demi mengedepankan tata kelola keorganisasian PSSI yang benar. Tidak ada PSSI di dalam PSSI. 
Biarkan pelatih timnas bekerja dengan programnya. Tidak direcoki oleh kepentingan individu dan golongan, serta melakukan pemilihan pemain timnas yang handal secara terporgram, transparan, dan akuntabel. Jadi, sepakbola memang harus diurus oleh PSSI!*

Drs. Supartono, M.Pd.
Pengamat Sepak Bola Nasional

loading...

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA