#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Benang Merah Luis Milla dan Pelatih Eropa
03 March 2017 04:27 WIB
Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI) akhirnya memutuskan untuk kembali menggunakan pelatih asing untuk menangani tim nasional, dan pilihannya jatuh kepada Luis Milla. Pria 50 tahun berkewarganegaraan Spanyol itu menambah panjang daftar pelatih asing yang mendapat mandat dari PSSI untuk membina kekuatan utama sepak bola kita. Bahkan bukan hanya timnas senior tapi juga timnas U-23.

Pria asal Singapura, Choo Seng Quee, menjadi pelatih asing pertama yang menangani timnas Indonesia, yakni pada kurun waktu 1951-1953. Di tangan pelatih negara tetangga itulah timnas Merah-Putih untuk kali pertama dibentuk dan langsung diterjunkan ke arena Asian Games I  di New Delhi, India, pada 1951.

Hasilnya? Kurang bagus. Dalam turnamen yang diikuti enam negara (Afghanistan, Burma, India, Indonesia, Iran, dan Jepang) itu timnas Garuda kalah 0-3 melawan tim tuan rumah dan langsung tersisih. Kekalahan diawali gol bunuh diri bek sayap Chairuddin Siregar yang salah mengantisipasi tendangan penjuru lawan sehingga bola menjebol gawang sendiri.


Baca Juga :
- Tak Indonesia di Saigon
- Secondary Player

Setelah itu tongkat komando timnas tidak pernah lagi dipercayakan kepada pelatih dari  Asia, beralih ke Eropa, Amerika Latin, dan Indonesia sendiri. Dari Amerika Latin pun yang tercatat menangani timnas hanya Joao Barbatana, dari Brasil, karena dialah yang menangani para pemain PSSI Binatama, cikal bakal timnas yang merebut tiket semifinal Asian Games 1986 di Seoul. Hasil yang bisa dibilang bagus karena beratnya persaingan di ajang itu.

Generasi pelatih Eropa diawali oleh Tony Pogacnik asal Yugoslavia yang mendapat porsi paling panjang (1954-1964) dalam proses pembinaan, pembentukan, dan pengiriman timnas ke berbagai turnamen internasional. Hasil karya terbesarnya tentu saja membawa Maulwi Saelan, Ramang, Tan Liong Houw, dan kawan-kawan ke Olimpiade 1956 di Melbourne. Atau, saat NKRI baru berusia 11 tahun.

Setelah itu kursi nomer satu timnas diduduki para pelatih Indonesia sendiri, mulai dari E.A. Mangindaan, Endang Witarsa, Djamaiat Dhalhar, Suwardi Arland, sampai  Aang Witarsa. Dalam masa penanganan mereka (1966-1975) hanya dua turnamen dimenangkan, yakni Pesta Sukan 1971 di Singapura dan Peringatan HUT Kota Jakarta 1972 di Senayan. 

Cukup bagus, karena pada Pesta Sukan 1971 Indonesia mengirimkan dua tim, dan tercipta hasil istimewa, “All Indonesian Final”,  karena dua-duanya maju ke final, bahkan penyerang tengah  Risdianto merebut piala khusus sebagai pencetak gol terbanyak. Sementara, pada turnamen HUT Kota Jakarta 1972 timnas Merah-Putih menjadi juara dengan mengalahkan Korea Selatan 4-2 di final.

Gelar juara 
Namun, kesulitan keuangan dalam masa itu membuat PSSI yang diketuai Kosasih Purwanegara tak bisa berbuat banyak untuk  membina timnas dengan baik. Tampilnya Brigjen TNI Bardosono pada 1974 sebagai ketua baru pengganti Kosasih, menghadirkan kembali generasi pelatih Eropa.

Maka hadirlah Wiel Coerver, mantan pelatih klub tenar Feyenoord Rotterdam, Belanda. Meski bertugas singkat, dua tahun (1975-1976), tapi ia hampir berhasil membawa kembali timnas ke arena Olimpiade. Sayang dalam partai final Pra-Olimpiade 1976 di Senayan itu Iswadi Idris, Ronny Pattinasarany, dan kawan-kawan harus menelan kekalahan tipis lewat adu penalti melawan Korea Utara.

Setelah itu terjadi periode lumayan panjang (1976-2000) di mana timnas ditangani bergantian oleh pelatih asal Indonesia dan Eropa. Dalam deretan pelatih Indonesia berturut-turut tampil Suwardi Arland, Harry Tjong, Sinyo Aliandoe, Trio Basiska (Basri, Iswadi,  Kadir), Bertje Matulapelwa, Danurwindo, Rusdy Bahalwan, Nandar Iskandar.

Deretan pelatih dari Ertoa pun tak kalah panjang, Frans Van Balkom (Belanda), Marek Janota (Polandia), Bernd Fischer (Jerman), Anatoly Polosin (Rusia), Ivan Toplak (Cekoslowakia), Romano Matte (Ita;ia). Henk Wullems (Belanda), dan Bernard Schumm.

Dalam masa 24 tahun itu, hanya dua gelar juara bisa direbut, dua-duanya dari arena SEA Games, yakni pada 1987 di Jakarta ketika timnas ditangani oleh Bertje Matulapelwa, dan pada 1991 di Manila ketika giliran Polosin yang menjadi pelatih. Setelah itu, di pesta olahraga Asia Tenggara, tim sepak bola Indonesia seperti bukan tim tangguh yang pantas ditakuti.

Sampai sekarang, belum ada lagi gelar yang bisa direbut timnas PSSI. Yang terdekat adalah dua kali posisi runner-up dalam turnamenn berlevel Asia Tenggara juga, yakni Piala AFF 2010 dan 2016.  Dua-duanya dicapai tatkala timnas ditangani Alfred Riedl, pelatih dari Eropa juga, Austria.

Apakah Milla akan menjadi pelatih dari Eropa lain yang akan memenuhi harapan PSSI dan masyarakat luas agar medali emas SEA Games 2017 diboyong kembali ke Tanah Air? Masih sebuah pertanyaan besar yang jawabannya harus ditunggu sampai pekan olahraga Asia Tenggara itu digelar di Kuala Lumpur, Agustus mendatang. Rasanya memang sudah tak sabar melihat penggawa timnas kebanggaan kita berjuang.

Namun, menarik untuk menyimak metode atau gaya melatih Milla yang sedang menjadi menu liputan media nasional. Setiap hari, Milla dipantau oleh awak media. Setiap ucapannya jadi berita. Dalam proses seleksi pemain U-22 untuk SEAG 2017 dan AG 2018, Milla disebut sangat fokus kepada karakter, kepribadian, dan kecerdesan pemain, juga pada kecepatan dan akurasi umpan pendek, ditambah skema formasi klasik 4-3-3.

Bukankah itu semua yang juga diajarkan Pogacnik dan Coerver di masa lalu? Pogacnik bahkan menguasai profil setiap pemain sampai pada makanan wajibnya, Coerver dikenang pemain karena kepeduliannya terhadap “personality”, dan juga formasi 4-3-3 yang diramu lebih ofensif menjadi 4-4-2 dengan menarik salah satu penyerang sayap ke tengah?


Baca Juga :
- Isu Sarri dan Conte
- Sikap Bale

Jadi, ada benang merah di antara sesama pelatih Eropa itu. Sangat memahami karakter tiap pemain dalam tim, akan memudahkan pelatih menerapkan strategi apa yang paling tepat. Di situlah kepiawaian seorang pelatih diuji. Bagaimana Milla menghasilkan tim yang bermain padu dan bermental kuat sehingga punya orientasi menang. Mudah-mudahan juga akan ada benang prestasi yang lebih kuat, sehingga medali emas SEA Games 2017 bisa direbut.*** 

Sumohadi Marsis
Pengamat Olahraga Nasional 

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA