#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Ketika Kembang Api Meletupkan Semangat Pertumbuhan
13 Januari 2018 04:10 WIB
Momen pergantian tahun kerap diiringi dengan pesta kembang api. Langit di bumi pada malam jelang pergantian tahun berubah layaknya kanvas milik maestro seni lukis. Indah dengan segala warnanya.

Gemerlap cahaya kembang api dirangkai sedemikian rupa menjadi sebuah mahakarya sebagai bentuk harapan dari satu negara demi mendulang peningkatan wisatawan ke daerahnya. Bagi wisatawan, gemerlap tersebut dua menyembulkan: kehancuran dan pertumbuhan.

Kehancuran, disebabkan karena harapan-harapan di tahun sebelumnya tak tercapai. Pertumbuhan, dengan melupakan bayang-bayang kehancuran dengan melanjutkan kehidupan disertai semangat juga harapan-harapan baru.


Baca Juga :
- HUT PSSI Ke-88 dan Anniversary Cup
- Juventus Menangis dan Madrid Tertawa

Bagi wisatawan di dalam stadion yang tetap setia mendukung tim kebanggaannya berlaga menjelang atau setelah perayaan momen pergantian tahun, pertumbuhan tersebut tercermin dari kemenangan di tiap laga. Setidaknya, tim jagoannya berhasil menunjukan tanda-tanda keluar dari bayangan kekalahan. Termasuk para Milanisti. Mereka, para Milanisti, ingin melihat timnnya ibarat candu sepak bola di seluruh penjuru dunia. Di era ketika dana bukan masalah bagi AC Milan.

Milan, jika boleh dikatakan, merupakan satu klub tersukses di Eropa bahkan dunia. Sebelum Real Madrid mengukuhkan pencapaian 12 kali menjadi kampiun di Liga Champions pada 2017, Il Diavolo merupakan raja di Eropa dengan raihan tujuh kali menjadi jawara kompetisi terakbar di benua biru yang terakhir didapatkan saat musim kompetisi 2006/2007. 

Namun transisi peremajaan pemain dan masalah membengkaknya tagihan utang Milan, membuat klub sarat sejarah dan prestasi ini kolaps. Dalam beberapa dekade, mereka tak bisa membeli pemain di usia produktif dengan label bintang. Prestasi mereka jadi taruhan, terseok-seok di papan tengah menjadi hal yang tak asing lagi, setidaknya sejak musim kompetisi 2013/2014.

Akhirnya musim kompetisi 2017/2018, Silvio Berlusconi, menjual sahamnya di Milan pada konsorsium asal Tiongkok. Harapan muncul karena di awal kompetisi, bos baru mereka, Yonghong Li,  menyuntikan dana cukup besar. Hingga Milan seperti anak kecil yang baru mendapat uang, membelanjakannya tanpa berpikir hari esok.

Dana sekitar 200 juta Euro digelontorkan demi membangun skuat baru untuk melupakan kenangan usang tentang kekalahan serta keterpurukan manajemen Milan dalam mengelola klub. Namun hanya pemain-pemain bertalenta yang diboyong ke San Siro. Tak ada nama bintang dengan prestasi mentereng yang bergabung.

Situasi tersebut membuat performa Milan tak berubah. Harapan memutus kenangan buruk soal kekalahan belum terealisasi dan permasalahan soal membengkaknya utang semakin bertambah karena terancam gagal menembus kompetisi tertinggi Eropa musim depan. Padahal, di sana ada pendapatan tambahan bagi klub pesertanya.

Sepak bola kerap menunjukkan magisnya ketika uang tak serta merta menjadi jawaban memutus kenangan buruk. Manchester United (MU) contohnya, ketika mereka kehilangan sosok pelatih hebat pada akhir musim kompetisi 2012/2013. Setan merah tak menyiapkan strategi transisi yang baik selepas opa pensiun dari sepak bola. Ia digantikan mantan pelatih Everton, David Moyes. Nahas, pergantian tersebut membuat MU terseok-seok di papan tengah. Hal ini membuat karier Moyes di Old Trafford berakhir lebih cepat dan digantikan legenda mereka, Ryan Giggs.

Awal musim 2014/2015, manajemen MU menunjuk meneer Belanda, Louis Van Gaal, untuk menahkodai klub. Ia menghabiskan dana 173 juta paun untuk membeli pemain. Hasilnya, MU bercokol di empat besar liga dengan permainan membosankan. Musim selanjutnya, MU tetap bermain inkonsisten dengan permainan yang berpusat di tengah tanpa kreativitas berarti untuk menciptakan gol. Akhirnya Van Gaal didepak, setelah memberikan gelar Piala FA dan bercokol di peringkat lima.

Soal transisi memutus kenangan suram memang tak semudah membalikan telapak tangan. Pada 1965 Bangsa Indonesia juga merasakannya. Romansa kedekatannya dengan negara Uni Soviet harus terhenti. Peristiwa berdarah terjadi dimana-mana. Baik sebelum dan sesudah momen gelap G30S PKI. Slogan ekonomi berdikari Bung Karno, dengan cepat diubah lewat kebijakan industrialisasi. Cara kerja ekonomi kapitalis ala Barat seperti penanaman modal asing dan pinjaman dari luar negeri jadi pilihan rezim Soeharto.

Selain itu, kekuatan rakyat dikebiri lewat konsep politik "masa mengambang" demi mengharmoniskan situasi masa di dalam negeri. Padahal, sejak tahun 1930, kekuatan massa seperti rapat akbar, diskusi, mogok kerja, maupun demonstrasi menjadi ujung tombak terciptanya kemerdekaan Indonesia.

Tujuan penghapusan kenangan “buruk” menurut rezim Soeharto, kemungkinan untuk melancarkan keleluasaan oknum aparat dan kaum borju melakukan bisnisnya yang selama orde lama selalu diganggu dengan banyaknya agitasi dari para tokoh kiri terhadap kaum petani dan buruh . kemungkinan lainnya demi penghapusan ideologi pengusung sosialisme dari ingatan kolektif penduduk bumi.

Namun semua itu berubah ketika mahasiswa mulai berani mengeritik rezim. Mereka mulai melancarkan demonstrasi dan puncaknya 1998. Ketika mahasiswa berhasil mengaduk emosi masyarakat kelas bawah, buruh, dan petani untuk turun ke jalan menyuarakan hak mereka sebagai warga negara dan ingatan kolektif tentang sejarah yang dibelokan. 

Tahun tersebut juga momentum tepat bagi tiga tokoh politik yakni Amien Rais, Gus Dur, dan terutama Megawati Soekarno Putri. Nama terakhir merupakan anak putri sang pahlawan kemerdekaan yang mengagungkan kekuatan masa dalam membangun negri dan ialah yang dijadikan ikon perlawanan masa pada saat itu. 

Ingatan soal sosok penting dalam sebuah kesuksesan besar memang tak bisa dilupakan begitu saja, sehingga tak heran manajemen Milan memanggil Genaro Gattuso sebagai pelatih baru menggantikan Vicenzo Montela yang dianggap gagal membawa kejayaan I Rossoneri. Lewat pengalamannya membawa Milan menjuarai banyak piala serta mental juaranya saat bertanding, diharapkan mampu memberi suntikan semangat "setan-setan" muda Milan.


Baca Juga :
- Mengelola Industri Kangen
- Guardiola : Cintailah Pekerjaanmu!

Kemenangan atas tim sekota, Inter Milan, dengan skor 2-1 di ajang Piala Italia sebelum tahun baru dan keberhasilan mengalahkan klub semenjana Crotone, dengan skor 1-0  setelah tahun baru diharapkan menjadi modal berharga Milan mengarungi kompetisi dalam negri dan kasta kedua Eropa, Liga UEFA. Walau performa klub belum bisa dianggap membanggakan, percayalah satu hal, bahwa kehancuran merupakan awal pertumbuhan layaknya MU berhasil menyabet treble winner pada musim 2016/2017 dan Indonesia yang keluar dari belenggu kediktatoran penguasa tahun 1999.***


Diaz Abraham
Pemerhati Sepak Bola Internasional
 

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA