#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Menanti Kokok Lantang Ayam Jantan
20 Februari 2018 04:21 WIB
Sebelum pertandingan lawan Arsenal, Tottenham Hotspur dihadapkan pada serentetan cercaaan, termasuk dari mantan pemainnya, Gary Lineker. Ia menganggap Pelatih Tottenham Hotspur Mauricio Pochettino mendukung kecurangan yang dilakukan anak buahnya saat timnya bersua dengan Liverpool.

Pelatih Arsenal Arsene Wenger juga mengomentari beberapa anak asuh Pochettino yang berkebangsaan Inggris terlihat melakukan diving. Ia beranggapan bahwa pemain timnas Inggris kini telah cakap melakukan aksi tersebut. Perang urat syaraf ini tentu memengaruhi psikologis anak-anak The Lilywhites yang terhitung masih ranum. Tercatat pada 2017, Tottenham didaulat menjadi klub dengan rataan usia termuda di daratan benua biru yakni 25,5 tahun.

Situasi Arsenal sebelum pertandingan melawan Tottenham lebih baik. Mereka baru saja memetik kemenangan manis 5-1 atas tamunya, Everton. Dua rekrutan anyarnya, Pierre-Emerick Aubameyang dan Henrikh Mkhitaryan menjadi pemain yang menonjol dalam pertandingan tersebut. Dunia seakan berpihak pada sang tamu untuk memenangkan pertandingan di Wembley. Namun dewi fortuna berkata lain. Pertandingan pada 10 Februari tersebut dimenangkan oleh Tottenham dengan skor 1-0 lewat tandukan Harry Kane. 


Baca Juga :
- Piala Dunia dan Sepak Bola Indonesia
- Game Changer

Pochettino harus diberi apresiasi dalam kemenangan ini. Sebagai seorang bapak, ia mampu memimpin anak-anak ini menjadi pemain dewasa dibanding usianya. Sebagai orangtua, ia kerap memberi kritik maupun pembelaan untuk anak asuhnya. 

Ali pada saat pertandingan lawan Liverpool terlihat melakukan diving dan diganjar kartu kuning oleh wasit. Hadiah dari wasit ini  dipandang Pochettino sebagai keputusan yang benar tapi ia anggap fokus pada diving Ali merupakan hal yang dapat membuat sepak bola menjadi tidak menyenangkan.

"Sepak bola adalah soal menipu lawan. Ya atau tidak? Ketika anda menggunakan taktik, tujuannya untuk menipu lawan. Anda berkata: 'Oh, saya berada di sisi kanan, namun saya akan bergerak ke kiri'. Ini adalah kombinasi banyak hal dan saya khawatir mungkin kita nantinya justru akan membunuh permainan itu sendiri," Katanya.

Bola memang selalu menyuguhkan taktik dan intrik. Ini terlihat dari gol tangan Tuhan yang melegenda, taktik pelatih untuk menghadapi lawan tertentu, hingga proses perpindahan pemain yang kadang mendekatkan klub keluarga calon pemain beserta pihak ketiga untuk melancarkan transfer.

Tottenham di bawah Pochettino memegang dua pedoman tersebut. Dengan kemampuan individu tiap pemain, kekayaannya akan taktik Pochettino, serta tangan dinginnya mengembangkan pemain muda menjadikan The Lillywhite sebagai klub yang disegani di daratan Eropa. 

Alasan terakhir merupakan satu hal yang paling menonjol pada gaya Tottenham di bawah Pochettino. Mereka berhasil mencetak pemain-pemain muda dan kini menjadi tulang punggung timnas Inggris. Lambat laun pemain-pemain muda ini akan mendapat panggung tersendiri di percaturan sepak bola, dan contohnya telah terlihat dari sosok Harry Kane dan Delle Ali.

Sejak musim 2014/15, Kane telah menjelma sebagai ujung tombak Tottenham. Pada musim itu, ia berhasil terpilih sebagai pemain muda terbaik di Liga Inggris serta menjadi pencetak gol terbanyak Liga Primer pada 2015-2017. Di musim 2015/16 giliran Ali menjelma sebagai pemain muda terbaik liga.

Prestasi individu tersebut diikuti prestasi klub yang menjadi langganan empat besar selama dua musim beruntun. Namun amat disayangkan, hingga kini Tottenham tak bisa memberikan gelar kepada fan.
 
Terakhir kali mereka memenangi gelar pada tahun 2008 di Piala Liga Inggris. Saat itu  Tottenham bersua dengan Chelsea di partai puncak dengan skor akhir 2-1. Namun Pochettino yakin cepat atau lambat, klubnya akan mendapat sebuah gelar. 

"Kami ingin menjadi juara, tapi kami harus membuat tim yang hebat dengan mentalitas kuat, mental juara. Karena itu, Anda butuh waktu,” kata Pochettino. “Anda tidak akan pernah tahu, satu, dua, tiga atau bahkan lima tahun. Kami berada di posisi yang baik, kami sedang menunggu stadion baru, sesuatu yang akan sangat menakjubkan bagi kami, fan, dan klub. Jika semua berjalan seperti ini, Spurs akan jadi penantang gelar."

Melihat komposisi pemain yang ada serta padatnya jadwal, rasanya sulit bagi Spurs memenangkan gelar. Mental juara yang belum dimiliki pemain muda juga menjadi persoalan lain.

Uang bukanlah jawaban atas kehadiran prestasi karena AC Milan dan Manchester City telah menunjukannya. Milan masih terpuruk walau di musim ini telah membeli segudang pemanin dan The Citizens di bawah asuhan Josep Guardiola, baru musim ini duduk nyaman di posisi puncak klasemen setelah di musim sebelumnya menduduki peringkat ke tiga Liga Primer.
 
Kesabaran manajemen akan datangnya gelar pastilah berujung manis, sebab mereka merangkak dari bawah. Memupuk tunas-tunas muda menjadi ayam jantan yang garang di ajang sabung ayam bernama kompetisi Liga Primer.
Cara tersebut yang telah dilupakan oleh beberapa klub tradisional sepak bola dunia. Mesin pencetak uang klub telah menggelapkan mata untuk mengadirkan trofi dan mengesampingkan identitas sebuah klub.

Bisa dibilang, cara Tottenham untuk mendapat gelar adalah upaya kudeta merangkak dengan strategi yang matang. Usaha Spurs untuk mendapat sebuah kejayaan di masa depan bukanlah sesuatu yang baru. Ingatlah, betapa kuatnya Manchester United di bawah asuhan Alex Ferguson.

Bermodal pemain binaan dan beberapa pembelian pemain muda bertalenta, membuat Ferguson menjadikan MU memiliki fondasi kuat mendapat trofi. Penantiannya berujung manis, setelah 26 tahun menukangi MU, ia berhasil 38 gelar ke Old Trafrord.

Manisnya sebuah penantian panjang dari taktik yang dirancang baberapa tahun sebelumnya telah dirasakan militer angkatan darat Indonesia dalam mengambil tangkup kepemimpinan. Caranya, lewat menggoreng isu Dewan Jenderal yang hendak mengambil kekuasaan Soekarno dan kondisi sang presiden saat itu dilukiskan berada di titik nadir.

PKI sebagai organisasi sukses saat itu bergerak akibat terpancing dua isu tadi untuk mengukuhkan eksistensi mereka di Indonesia. Ternyata, kedua isu ini sudah lama dipikirkan oleh pihak angkatan darat yang sejak 1950 telah bekerjasama dengan Amerika.

Lewat satu kali pukulan PKI diberangus sampai akar. Kebijakan civic action yang dalam arti klise untuk merebut hati dan pikiran masyarakat dilancarkan. Pembuatan Partai Golkar, serikat buruh yaitu Sentral Organisasi Karyawan Sosialis Indonesia (SOKSI) dan surat kabar Angkatan Bersenjata telah tertata rapih membuat masyarakat bisa direbut hatinya.


Baca Juga :
- Sepak Bola Nasional: Antara Refleksi dan Eskploitasi
- HUT PSSI Ke-88 dan Anniversary Cup

Kini, setelah semuanya taktik telah dipersiapkan Spurs bersama Pochettino, kita tunggu saja waktu yang tepat untuk Ayam-ayam jantan berkokok lantang. Seperti kata legenda mereka, Bill Murray, dibalik "kegagalan" Spurs, masih ada bayang-bayang kejayaan yang tersisa.*


Diaz Abraham
Pemerhati Sepak Bola Internasional

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA