#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Adel Taarabt Terlahir Kembali
24 Februari 2018 08:18 WIB
ADEL Taarabt adalah pesepakbola genius yang tak pernah disadari dirinya sendiri. Putra Maroko itu memiliki waktu berkembang yang tak lama, hanya delapan tahun, tapi sudah mampu melalang buana ke Tottenham Hotspur, Queens Park Rangers dan Fulham.

Tapi dalam roda kehidupan itu, Taarabt harus dihadapkan kepada pilihan yang buruk. Nasib buruk dan penawaran-penawaran yang terlalu frontal hingga membuat kariernya tak fokus dan mandek. Meskipun kala bertanding, ia tetap mampu mengundang decak kagum dan memberikan inspirasi yang murni, melalui sentuhannya yang lincah, olah bola dan gocekannya yang memusingkan pertahanan lawan. Tapi semua itu tetap diwarnai oleh insiden-insiden pertengkaran dalam pertandingan yang jadi ciri khasnya.

Beberapa pelatih yang menanganinya ingin Taarabt dapat melakukan tekel, lari cepat dan terus bekerja keras selama pertandingan. Sedangkan dirinya justru lebih memikirkan tentang menikmati liburan di Sevilla atau Madrid, sekaligus juga bermimpi dapat main untuk tim sebesar Barcelona.


Baca Juga :
- AS Roma Perpanjang Kontrak Di Francesco hingga 2020
- Resmi, Sinisa Mihajlovic Tangani Sporting CP

Bila dikatakan jujur, sebagus-bagusnya Taarabt pernah memainkan laga di Liga Primer Inggris, tetap pada dasarnya terdapat ketidakcocokan secara taktikal di antara mereka. Ditambah dia tak pernah bisa menyembunyikan keinginannya untuk mendapatkan sesuatu yang lebih, dan dia hampir memenuhi mimpinya tersebut, kala mendapatkan kesempatan bermain di Milan selama enam bulan dalam status pemain pinjaman. Pilihan itu, sama persis dengan yang ia lakukan satu tahun kemudian, kala memilih pindah ke Benfica dalam status bebas transfer. Namun sayang, semua pilihan itu tidak mengarahkan karirnya pada hal-hal yang lebih besar, justru Taarabt malah terseok-seok di Benfica sebagai anggota tim kedua. 

Akan tetapi semua berubah, setelah dia kembali ke Seri A bergabung bersama Genoa. Di tempat ini Taarabt kembali ke diri terbaiknya.

Selama setengah dekade terakhir, Genoa memang  telah jadi klinik bagi pesepak bola berbakat yang sedang mandek kariernya. Klub ini mampu mengembangkan kembali performa bintang yang sedang meredup.

Sebagai contoh pada musim panas 2014, mereka mendatangkan Diego Perotti dan Iago Falque, dua sayap yang dinilai gagal membuktikan diri dalam petualangan awal mereka di kompetisi Spanyol dan Inggris. Kedua pemain tersebut tidak menikmati kampanye yang positif, penampilan mereka sangat standar dan biasa-biasa saja.

Berbanding terbalik dengan performa luar biasa mereka di Stadion Luigi Ferraris. Hingga buahnya pun mampu mereka petik. Perotti dan Falque menghasilkan banyak uang jutaan pound setelah pindah ke Roma.

Contoh lain pun dapat disebut, yakni Suso mantan pemain Liverpool yang menolak perpanjangan kontrak dan memilih bergabung ke Milan. Tapi penampilannya di awal-awal sangat jauh dari ekspektasi, Suso pun akhirnya di sekolahkan ke Genoa FC dalam gemblengan Gian Piero Gasperini. Di sana ia mampu mencetak enam gol, sebelum akhirnya kembali ke San Siro dan bertransformasi menjadi salah satu penyerang sayap terbaik di Italia.

Perotti, Falque dan Suso merupakan para pemain yang diuntungkan dari langgam sepak bola calcio dan pendekatan taktiknya yang menekankan sisi kolektif tanpa menghilangkan potensi dari individu-individu pesepak bola. Sebagai gelandang serang, mereka juga diuntungkan dari pendekatan taktis yang biasa dilakukan Genoa beberapa tahun belakangan ini.

Di bawah asuhan Gasperini dan muridnya, Ivan Juric, tiga sistem yang menampilkan Nomor 10 sering digunakan. Ini berarti trio playmaker diberi kebebasan relatif dalam membangun serangan, asalkan mereka tetap menjalankan tugas defensif yang sudah ditampuk. Persyaratannya sederhana, sistem akan mematuhi mereka selama mereka menganut sistem.

Di awal kedatangan Taarabt ada segenggam keraguan. Wajar timbul pertanyaan kala itu saat bergabung pada Januari 2017. Mungkinkah dia mematuhinya?

Bagaimanapun, kariernya sampai saat itu telah didefinisikan rusak oleh banyak ketidakpatuhan yang nyeleneh dan menyebalkan. Mungkin Taarabt sempat sadar memiliki bakat dan kemudian disesatkan oleh opini 'kemampuan alami' yang cenderung dapat mengikutinya tanpa memeras keringat.

Padahal kenyataannya, pesepak bola hebat tidak dibangun dalam semalam, melainkan dibutuhkan banyak kerja keras dan pengorbanan. Tapi kini Taarabt telah berubah, setelah tiga tahun berada di padang gurun sepak bola, dia kembali merasa lebih lapar dari sebelumnya.

Musim panas kemarin, ia mulai mencoba membangun kariernya lagi. Taarabt berusaha keras mendapatkan kebugaran penuh, hingga mampu melenyapkan 11 kilogram berat tubuh, dan berhasil meminta kesempatan lain bagi Juric. Dia diberi waktu sepekan untuk membuktikan kapasitas dirinya.

Saat ini hampir enam bulan berlalu dan kerendahan hatinya telah terlunaskan. Terbukti walau Juric dipecat November lalu dan digantikan oleh Davide Ballardini, namun Taarabt tetap menjadi pemain kunci bagi Genoa.

Pada usia ke-28 tahun ini mungkin Taarabt termotivasi oleh gagasan ingin membangun ulang kariernya yang telah lama mereda, dia telah mengubah gaya hidupnya dan sangat semangat ke tempat latihan. "Saya dapat mengatakan tidak pernah bekerja sekeras seperti yang ada di Genoa. Begitu banyak berlari, begitu banyak bola, sangat menekan," katanya kepada surat kabar lokal Il Secolo XIX. "Saya telah mengubah segalanya. Saya makan dengan baik, saya minum dengan baik, saya hidup dengan baik, dan saya tidur lebih awal."


Baca Juga :
- Pahlawan Italia di Piala Dunia 2006 Ini Tinggalkan Klub Seri B
- Sampdoria Konfirmasi Gabungnya Eks Direktur Inter

Pola hidup yang sehat dengan makan dan tidur terartur telah memungkinkan Taarabt untuk tampil produktif secara konsisten. Umumnya ia bermain di belakang striker tunggal untuk menyuplai bola dan merangsek ke pertahanan lawan. Penampilannya yang impresif membuat Taarabt telah menjadi pemain Genoa yang paling konsisten

Kariernya yang telah kembali moncer, mulai membuat ia jatuh cinta kembali ke sepak bola. Taarabt mengatakan seperti kembali menemukan permainan tersebut. "Saya merasa terlahir kembali, saya telah menemukan sepak bola saya," katanya. Adel Taarabt sudah kembali, dan dia bertekad untuk menyadari kegeniusannya.***Surya Chandra Jayaatmaja 

BERITA TERKAIT

news
Milanisti. Pecinta Sepak Bola dari berbagai segi.
Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA