#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Momentum Tepat bagi Zarco Menambah Podium
16 Maret 2018 04:25 WIB
PUTARAN pertama MotoGP 2018 akan berlangsung di Sirkuit Losail, Qatar, pada Minggu (18/3). Teka-teki siapa pembalap yang akan bersaing jadi juara dunia dipastikan kembali jadi topik menarik. Namun, tidak mengejutkan rasanya bila pembalap Repsol Honda sekaligus juara dunia musim lalu, Marc Marquez kembali jadi pemeran utama di edisi 2018 ini. 

Tidak mengherankan pula andai duet Movistar Yamaha MotoGP: Maverick Vinales dan Valentino Rossi akan bangkit musim ini. Hal sama berlaku di Ducati. Misalkan Jorge Lorenzo bisa mengasapi rekan setimnya Andrea Dovizioso atau bahkan mengalahkan Marquez, semua bakal menganggap biasa. Karena, nama-nama tersebut memang dikontrak tim masing-masing dengan ekspektasi besar yaitu agar menjadi yang terdepan di tiap putaran di musim 2018.

Di luar nama-nama elite tersebut, ada satu nama pembalap yang berpotensi membuat kejutan besar di MotoGP 2018. Dia adalah pembalap tim satelit Yamaha, Monster Yamaha Tech 3, Johann Zarco. Pertanyaan pun muncul. Apa yang bisa dilakukan pembalap yang baru masuk tahun kedua di MotoGP itu? Apalagi, ia hanya berstatus pembalap tim satelit. Alhasil, dari sudut pandang teknis, motor Yamaha YZR-M1 miliknya bakal sulit menaklukkan M1 milik Rossi maupun Vinales. 


Baca Juga :
- Saatnya Marquez Hengkang dari Honda
- Mengapa Indonesia Terpuruk pada SEA Games 2017?

Jawabannya, Zarco punya kemampuan bersaing ketat dengan para pemabalap elite lantaran dia adalah extraordinary rider. Cukup lihat statistiknya saja. Pembalap asal Prancis ini adalah orang pertama yang bisa menjadi juara dunia Moto2 sebanyak dua kali pada 2015 dan 2016. Dalam periode itu, ia sukses membukukan 15 kemenangan.
 
Pada 2015, Zarco bahkan mencetak dua rekor prestisius. Berkat torehan delapan kemenangan, ia berstatus pembalap Prancis paling sukses di ajang Kejuaraan Dunia Balap Motor (semua kelas). Total poinnya di akhir musim adalah 352 poin yang notabene rekor poin terbanyak di Moto2. Mengalahkan torehan yang sebelumnya dipegang Esteve Rabat saat juara Moto2 2014 (346 poin). 

Jika Anda penggemar MotoGP, maka Anda tahu betul betapa sulitnya persaingan Moto2. Setiap lombanya, pembalap yang bisa bersaing pada baris depan begitu ramai, bahkan lebih banyak ketimbang MotoGP sekalipun. Kesimpulannya, bila Zarco bisa juara dunia dua kali di Moto2, berarti talentanya memang luar biasa. Pasalnya, arena yang bisa dikatakan lebih sulit, bisa ditanggulangi dan ditutup dengan berbagai kemenangan.

Potensi Zarco juga kembali terlihat pada musim debutnya di MotoGP, tahun lalu. Dia langsung membuat sensasi pada lomba pembuka di GP Qatar. Bagaimana tidak, ia memimpin lomba selepas start. Sayangnya, harus berakhir setelah enam lap karena pembalap 27 tahun itu mengalami kecelakaan. Usai lomba, ia bercerita terlalu antusias karena bisa menempati posisi pertama walau berstatus rookie. Hati terlalu menggebu-gebu dan tenaga motor yang jauh berlimpah jadi kombinasi yang tak seharusnya dirasakan semua pembalap MotoGP. Tapi maklum, namanya juga rookie.

Pada titik ini, Zarco menunjukkan diri sebagai sosok pembalap yang cepat belajar. Karena lomba di Sirkuit Losail, merupakan satu-satunya momen ia tidak finis pada MotoGP 2017! Catatan itu diikuti rekam jejaknya yang terus meningkat setiap putarannya. Puncaknya, ketika tampil di home race-nya, GP Prancis, ia sukses naik podium kedua. Praktis, ia hanya butuh lima lomba sebelum mencicipi podium pertama kelas MotoGP. Dengan pelajaran berharga selama 2017 dan dukungan tim yang makin bersemangat, harusnya, Zarco bisa segera naik podium pada 2018 ini. Tak perlu menanti hingga lima lomba, apalagi sampai jatuh segala.

Setelah itu, ia terus unjuk gigi. Secara mengejutkan, ia merengkuh pole position GP Belanda. Zarco juga beberapa kali finis di depan dua pembalap pabrikan Yamaha: Rossi maupun Vinales. Penampilan pembalap ini semakin trengginas pada akhir musim. Dua putaran terakhir: GP Malaysia dan Valencia ia sukses podium dua dan tiga. Nama Zarco yang masih berstatus rookie tidak berbanding lurus dengan pencapaiannya selama tampil di 2017.
Zarco pun mengakhiri MotoGP 2017 lewat raihan tiga podium, Rookie of the Year, pembalap tim independen terbaik dan menempati posisi enam klasemen atau lebih baik dari seorang Lorenzo sekalipun. 

Hitung-hitungan sederhana soal peluang peningkatan Zarco mudah saja ditampilkan. Di tahun ini, yang punya 19 putaran, rasanya tak sulitlah bagi Zarco untuk menambah jumlah podium. Minimal satu. Atau, lebih dari itu akan lebih baik. Dengan catatan, dia juga harus mempertahankan finis poin di putaran lainnya.

Kepala kru tim Zarco di Tech 3, Guy Coulon pun angkat bicara. Coulon pernah bekerja dengan banyak pembalap hebat. Dovizioso atau Cal Crutchlow adalah dua di antaranya. “Sejak awal bekerja sama dengannya pada tes pramusim (2017), kami mengetahui ia memiliki beberapa kelebihan. Namun ia tak punya kelemahan,” kata Coulon.
 
Coulon jelas tidak berlebihan bila melihat apa yang bisa dilakukan Zarco pada tahun perdana di MotoGP. Kini logikanya, pembalap yang tampil di Moto2 selama lima musim ini bakal tampil semakin kuat musim 2018. Terlebih tahun ini, merupakan kesempatan terakhir Zarco bila ingin berpestasi bersama Tech 3.
 
Karena mulai tahun 2019, Tech 3 tidak lagi berstatus tim satelit Yamaha. Sebagai gantinya, tim asal Prancis ini bekerja sama dengan pabrikan baru, KTM. Tentunya motor yang disediakan KTM belum sebaik Yamaha. Selain itu, MotoGP 2018, Tech 3 dipastikan bakal fokus menyokong Zarco. Tanpa mengesampingkan pembalap Malaysia pertama di kelas tertinggi Kejuaraan Dunia Balap Motor, Hafizh Syahrin, nyaris mustahil buatnya bisa menandingi Zarco. 

Jangan lupakan pula fakta sejak regulasi penyeragaman sistem elektronik dan pemasok ban tunggal beralih dari Bridgestone ke Michelin, persaingan di MotoGP begitu ketat dan sulit diprediksi. Singkatnya pembalap tim satelit sekalipun punya kesempatan bersaing dengan pembalap pabrikan. 

MotoGP 2018 juga kans Zarco tebar pesona. Andai tampil superior, kursi tim pabrikan bakal menunggunya tahun depan. Bahkan tidak menutup kemungkinan, ia bisa digandeng pabrikan Yamaha seandainya Rossi benar-benar pensiun. Tentunya, itu di masa depan.

Jadi kejutan apa yang bisa diberikan Zarco musim ini? Dia bakal secara konsisten bersaing di depan dan dapat merasakan beberapa kemenangan. Dia bahkan punya potensi untuk saling sikut dengan pembalap papan atas untuk jadi juara dunia. Mari sama-sama kita tunggu kejutan besar yang dihadirkan pembalap berusia 27 tahun ini.*


Baca Juga :
- Bukan Sekadar Prestasi, Catatan Bola Voli Nasional
- Asian Games 2018 Ngeri-ngeri Sedap

 

Hendry Wibowo
Penulis adalah wartawan Harian TopSkor

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA