#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Guardiola : Cintailah Pekerjaanmu!
27 March 2018 04:21 WIB
¨Cintai apa yang kamu lakukan dan lakukan apa yang kamu cintai.¨ Untaian kata-kata indah ini terucap dari bibir Josep Guardiola dalam acara seminar pada 2013 di Meksiko. Saat itu, Guardiola tampil sebagai salah satu pembicara bersama Tony Blair dan Lula Da Silva. Dua nama terakhir ini tentu bukan sosok baru bagi pengamat politik luar negeri. Namun, terasa kurang familiar bagi penggemar berita-berita olahraga. Tak ada salahnya saya jelaskan sedikit saja. Tony Blair adalah mantan Perdana Mentri Inggris dan Lula Da Silva adalah mantan Presiden Brasil. 

Tak tanggungtanggung mereka bertiga diundang oleh salah satu mahluk terkaya di muka bumi ini. Tentu saja, saya tidak ingin menyinggung lautan harta benda milik orang ini. Saya hanya ingin mengarisbawahi betapa pentingnya sosok Guardiola sehingga bisa duduk bersanding dengan dua mantan pemimpin negara. Blair dan Da Silva sangat populer saat masih berkuasa di negara masing-masing.

Guardiola hanya memimpin 22 pemain yang hanya tampil di sebuah lapangan hijau dengan satu bola yang diperebutkan. Singkat cerita, tak layak kiranya membandingan memimpin sebuah negara dengan meminpin sebuah tim sepak bola. Namun, di satu sisi, tak layak pula bila kita melihat sepak bola hanya sebagai sebuah permainan di lapangan hijau saja. Kompleksitas di sepak bola kian berkembang. Tak sebatas pertandingan, tapi banyak sekali aspek yang harus dipikirkan seorang pelatih tim besar macam Guardiola saat ini.


Baca Juga :
- Tak Indonesia di Saigon
- Secondary Player

Bila kita membaca catatan kemenengan Guardiola, akan muncul sebuah pemikiran yang berbeda. Dari 18 trofiayang diperebutkan ia meraih 13 di antaranya selama menjadi pelatih di Barcelona. Keberhasilan fantastis inilah yang mendorong dirinya berceramah di hadapan lima ribu peraih beasiswa di Meksiko.

Guardiola sejatinya bukan pelatih yang mengajari bagaimana menendang bola. Dia lebih dari itu. Sosok yang mempersiapkan agar semua pemain haus akan kemenangan dari satu pertandingan ke pertandingan yang lain. Satu kemenangan harus berlanjut dan satu-dua trofi tidaklah cukup baginya. Napasnya adalah prestasi yang ditempuh dengan berbagai kemenangan.

Gairah meraih kemenangan itu ibarat api yang tak pernah padam dalam gengaman Guardiola dan tersalurkan dengan baik kepada para pemain. Tidak hanya di Spanyol dan Jerman tetapi juga di pusat barometer sepak bola dunia yaitu di Liga Primer, Inggris. Tak tanggung-tanggung, ia hanya membutuhkan empat kemenangan untuk dinobatkan sebagai kaisar baru sepak bola dunia. Menggeser nama besar lain seperti Jose Mourinho, the spesial one, yang saat ini sedang melatih Manchester United. 

Di hadapan mata Arsene Wegner, Arsenal seperti klub kelas dua ketika bertekuk lutut 0-3. The Gunners dicukur habis oleh para jagoan Manchester City. Kecepatan gerakan kaki para pemain asuhan Guadiola mematikan kreativitas Arsenal yang tiba-tiba lumpuh di hadapan publiknya sendiri. Arsenal berubah menjadi bambu runcing yang tumpul, tak mampu membaca tipu daya kelincahan kaki pemain The Citizens. Dan, itu berkat kepiawaian Guardiola mengolah tim yang bertabur talenta hebat, menjadi tim yang tak tesentuh di Inggris. 

Sepak bola di tangah Guardiola berubah menjadi sebuah cara berpikir. Jika Anda ingin melumpuhkan lawan, maka kecepatan berpikir adalah modal besar yang harus diasah. Guardiola adalah sosok pemikir tajam dan kritis. Kembali ke tahun 2013, usai acara seminar itu, wartawan sempat bertanya pada Guardiola apakah ia tertarik menjadi pelatih timnas setelah mengundurkan diri dari Barcelona. Sebuah pertanyaan klasik untuk pelatih sekaliber dirinya.

Guardiola pun menjawab dengan penuh diplomatis, tapi sekaligus memperlihatkan kemampuan berpikirnya. ‘Saya sebetulnya ingin ke Prancis. Saya juga mencintai Katalan dan keluarga saya. Kami adalah negara kecil,“ katanya penuh makna. Dalam kalimat pendek ini, Guardiola menyimpan pesan, pendirian pribadi, dan target masa depan. Namun, tak seorang pun bisa meraba apa yang akan dilakukannya dalam waktu dekat. Atau, setelah kariernya di Manchester City habis.

Guardiola adalah pemikir sepak bola. Sosok yang menciptakan irama permainan dengan sangat cantik. Ia mampu mendikte irama permainan saat laga dan memaksa lawan masuk ke dalam irama permainannya. Strategi tiki-taka atau permainan dari satu kaki ke kaki yang lain adalah cara ampuh melumpuhkan kreativitas lawan dan terjebak dalam perasaan inferioritas. Dalam pertandingan apa pun, ketika secara piskologis lawan menggangap musuhnya lebih hebat, maka hanya mukjizat yang bisa membalikkan keadaan. Itulah yang terjadi dalam pertandingan terakhir antara Wegner dan Guardiola, yang diterjemahkan para pemain mereka di lapangan hijau.
 
Pertanyaan yang sangat penting dari semua penjelasan di atas adalah, apa yang menjadi kunci sukses Guardiola, sang magnet kemenangan itu? Jawabanya sangat sederhana, cintalah pekerjaanmu. Guardiola bukan hanya mencintai pekerjaannya sebagai pelatih sepak bola, tetapi memujanya. Baginya, sepak bola bukan hanya pekerjaan, tetapi hidupnya, napasnya, dan jiwanya. Sepak bola adalah kehidupannya. Baik menjalani kariernya, maka baiklah kehidupannya. 

Totalitas hidup dalam pekerjaan apa pun jadi kata kunci menuju sebuah kesuksesan. Apa pun bidangnya yang kita geluti dalam hidup. Dalam salah satu wawancara ketika masih menjadi pelatih Barcelona, Guardiola menceritakan bagaimana ia masuk ke sebuah kamar kecil di bawah Stadion Camp Nou dan membayangkan jalannya pertandingan, meski itu belum terjadi. Cara ini lebih tepat disebut sebagai visualisasi pertandingan. Ia seakan-akan menonton pertandingan pada esok harinya. Menghadirkannya dalam benak, lalu dituangkan dalam laga yang akan dijalani pasukannya.
 
Guardiola adalah sosok yang merealisasikan visi dalam bentuk yang jauh lebih konkret. Ia melihat ke depan, tidak disibukkan dengan masalah yang sudah berlalu. Ia mampu memimpin pasukannya untuk melihat dari satu pertandingan ke pertandingan yang lain dan tidak terjebak dalam target final.
 
Kemenangan final diraih dengan kemenangan gradual atau kemenangan yang bertahap. Saya sangat yakin Guardiola tidak memikirkan pertandingan melawan Mourinho saja, tetapi ia menyibukkan dirinya untuk memperisapkan pertandingan berikutnya. Membaca semua data pemain lawan, mulai dari kecepatan, jumlah gol, atau bahkan jumlah operan. Bertolak dari sini, Guardiola merencanakan kemenangan berikutnya. Do what can you do today, tomorrow has their own problem. Ini adalah bukti cinta realistis pada sebuah profesi. Salam***


Baca Juga :
- Isu Sarri dan Conte
- Sikap Bale

 

Advent Tambun
Inisiator Sinabung Jazz, Pemerhati olahraga 

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA