#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Mengelola Industri Kangen
29 Maret 2018 04:21 WIB
“Semua kata rindumu semakin membuatku, tak berdaya. Menahan rasa ingin jumpa. Percayalah padaku aku pun rindu kamu.” Ah, lirik lagu Dewa 19 dari album perdana mereka ini mengiringi langkah kaki menyusuri jalan-jalan di kota Surabaya.
 
Sekejap semua terasa seperti puluhan tahun silam. Tiba-tiba tercium aroma soto gubeng dan kesegaran es campur Jalan Pacar. Begitu pula dengan kesejukan di sepanjang Jalan Wijayakusuma yang ditutupi pohon-pohon tinggi. Dengan gagahnya, pohon-pohan besar itu berjuang setiap hari menahan gempuran polusi dari gas buang kendaraan bermotor. Wajar, lantaran Surabaya memang termasuk salah satu kota metropolitan di Indonesia.

Tidak terasa sudah sampai di wilayah Tambaksari. Di sana ada Stadion Gelora 10 Nopember berdiri gagah di depan mata. Warna cat temboknya berbeda dari yang terlintas di memori, tapi ingatan ini tak akan salah. Walau bukan stadion pertama yang pernah dikunjungi, namun stadion Tambaksari adalah sebuah teater besar yang pernah ada di Surabaya. 

Saya yakin, tak hanya saya yang punya perasaan seperti ini saat melihat Tambaksari. Banyak orang yang punya tabungan memori berkadar sama dengan saya, pastilah memiliki cerita khusus soal tempat ini.


Baca Juga :
- Lagu Lama
- A Cup of Hope

Di sini, saya menyaksikan kharisma Rudy Keltjes yang memimpin lini tengah. Lalu, galaknya Rae Bawa memutus serangan. Ada pula gesitnya Riono menepis bola ke sudut gawang. Ada jatuh bangun Niac Mitra di sana. Begitu pula dnegan pedihnya melihat Persebaya Surabaya dipermalukan Persipura dengan 12 gol. Tak ketinggalan tatkala saya ikut menangis haru ketika Bajul Ijo menjuarai Liga Indonesia di tahun 2004. Kini, rasa kangen itu pun terbayar.

Sadarkah bahwa rasa kangen telah menjadi penggerak ekonomi? Mungkin ini terasa absurd tapi coba perhatikan sekeliling kita. Ada berapa banyak benda di sekitar kita yang sesungguhnya digerakkan oleh masa lalu. Mulai dari hiasan di depan komputer, koleksi die cast sampai pigura untuk menyimpan foto masa kecil. 

Bila lebih dari satu saja, maka kita boleh menyebut bahwa kita adalah bagian dari industri kangen. Melihat semua memorabilia itu tak pernah terasa membosankan. Begitu juga membahasnya, seakan semua itu baru saja terjadi kemarin. Sesudahnya, ada keinginan dalam hati untuk diam-diam jalan sendiri mencari hal-hal yang dimaksud.
 
Menariknya, sepak bola memanfaatkan industri kangen untuk menggerakkan ekonomi mereka. Tak percaya? Coba renungkan ini. Kira-kira saat anda membeli merchandise klub tercinta, apakah didorong rasa suka semata? Atau, terdorong oleh masa kecil ketika diajak orang tua ke stadion melihat tim kesayangan tersebut beraksi di lapangan hijau? Ini pertanyaan sederhana tapi jawabannya bisa sangat mendalam. Mengusik bilik memori masa lalu kita.

Tentu saja jawabannya boleh apa saja. Tapi, tak bisa dipungkiri rasa kangen menjadi salah satu alasan kenapa kita menasbihkan diri menjadi fan sebuah klub tertentu. Setidaknya, saya memilih Liverpool ataupun Persebaya karena rindu dengan momen menonton keduanya di layar TVRI bersama bapak. Tanpa harus mengakui, klub-klub di mana pun saat ini menggunakan industri rindu ini sebagai mesin uang. Lazimnya, industry kangen dan rindu ini dibungkus oleh satu jargon besar yang bernama fanatisme. Padahal, ujung-ujungnya ya soal kenang-kenangan dan memori masa lalu semata.

Tak terkecuali Persebaya, saya terlibat dengan perbincangan seru dengan Azrul Ananda, sang Presiden Bajul Ijo. Dalam setahun terakhir Persebaya telah memiliki tujuh toko merchandise resmi di Surabaya. Sebuah angka yang rasanya cukup fantastis bagi sebuah tim yang baru terlahir kembali dan promosi ke liga tertinggi. 

Namun, begitu mereka menyebut bahwa pemasukan dari penjualan pernak-pernik ini tidaklah menjadi prioritas utama, Persebaya telah mengukur kemampuan penjualan merchandise dengan cara tertentu dan kemudian memandangnya dari sudut berbeda. Alih-alih berharap banyak dari penjualan kaos dan teman-temannya, Bajul ijo mengolah industri kangen ini dengan sudut pandang lain. 

Mereka menggunakan Persebaya Store sebagai media untuk mempererat hubungan batin dengan bonek. Sehingga bisa menularkan sekaligus menanamkan nilai-nilai kebanggaan Bajul Ijo didalam diri suporter. Pada tataran ini, Bajul Ijo tidak melulu memikirkan berapa rupiah yang bisa dihasilkan. Tapi, seberapa dalam mereka bisa masuk ke dalam hati suporter.

Keputusan untuk menonjolkan produk lokal Surabaya ketimbang menggunakan merek internasional, juga menjadi salah satu cara untuk menciptakan harga diri. Slogan “Wani” di dada kanan ataupun tulisan preseason yang dikeluarkan terbatas, akan menjadi sebuah nilai jual yang tinggi. Tentunya, bila di kemudian hari, rasa kangen menghantui pendukung Persebaya. Mereka mengolah sendiri desain yang penuh dengan pesan bermakna. Mengatur stok dan distribusi sendiri yang pada akhirnya menjadi bensin untuk bergerak meraih prestasi.

Kemandirian dan keberanian Green Force untuk memodifikasi Industri kangen mereka, bisa menjadi ide segar. Klub-klub indonesia masih berdarah-darah kondisi keuangannya, sehingga terkadang lupa untuk merencanakan aspek bisnis yang tepat. Hingga kini mereka masih meributkan subsidi Rp 7,5 milyar padahal mereka selalu menghabiskan 30-40 milyar setiap musimnya.
 
Mungkin ada baiknya mereka harus lebih serius mengolah Industri Kangen, siapa yang tak rindu dengan Arema 92 ketika menjadi juara Galatama atau PSIS Semarang yang membungkam Persebaya di final perserikatan? Caranya bagaimana? Semua itu tergantung kultur di masing-masing wilayah. Pastinya, bisnis kangen-kangenan ini bisa sangat menguntungkan dan dapat jadi solusi keuangan.

Masing-masing tim memiliki cerita indah masa lalu yang bisa diolah sebagai penggerak ekonomi di zaman now. Tinggal mencari cara yang paling tepat karena tidak semua tim bisa meniru apa yang dilakukan Persebaya saat ini. Pada akhirnya Industri kangen ini bisa membuat barang langka bertahan. Tidak percaya?


Baca Juga :
- Piala Dunia dan Sepak Bola Indonesia
- Game Changer

Lihat saja bagaimana Liverpool tetap berkibar gagah kendati sudah seperempat abad tidak juara Inggris. Atau, bagaimana Arsenal menjadi salah satu klub paling stabil di abad ini walau takhta Inggris terasa hanya selintas. Semua karena mereka mampu mengolah loyalitas serta kebanggaan dalam industri kecil ini.

Di pengujung hari, sambil menikmati nasi bebek bumbu kuning di pusat kota, saya menemukan satu hal yang menarik dari Industri kangen ini. Industri ini bukan sekadar mengenang manis masa lalu saja. Tapi, bagaimana membuat masa sekarang lebih berarti sehingga 20 tahun lagi kita punya cukup alasan untuk mengenangnya. Mari bersama kita pikirkan.*Bagus Priambodo
 

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA