#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Juventus Menangis dan Madrid Tertawa
16 April 2018 04:25 WIB
Sepak bola adalah drama kolosal yang rutin dipentaskan tiap tahun. Tidak ada pertunjukan yang bisa menarik publik sebanyak sepak bola. Dari permainan di pinggir jalan kecil, sepak bola berubah menjadi magnet bertenaga black hole-nya Stefan Hawking. Mampu menyerap semua perhatian manusia sejagat. 

Salah satu yang membuat sepak bola menjadi hiburan kehidupan adalah sifatnya yang sulit diprediksi. Tentu saja ada sinopsis permainan, analisis yang supercemerlang, dan jutaan prediksi yang berlomba muncul di media sosial. Semua itu mengiringi saat sebuah laga akan digelar. Makin penting laga itu, maka segala analisis dan prediksi makin kencang tersedia.

Namun, satu hal yang pasti bahwa dalam setiap pertandingan harus ada satu tim yang muncul sebagai pemenang dan satu lagi sebagai pecundang. Satu bertepuk tangan dan satu lagi menghapus air mata. Satu bersorak berpelukan dan satu lagi melangkah lesu meninggalkan lapangan tanpa sepatah kata pun terucap.
 
Di sepak bola ada lukisan kehidupan di mana kegembiraan bersatu dengan kepedihan. Mereka berjalan berdampingan tak terpisahkan. Cepat atau lambat, mata yang berbinar dan mulut yang tertawa berubah menjadi linangan airmata dan bibir yang bergetar menahan haru sedih. 


Baca Juga :
- Sepak Bola Nasional: Antara Refleksi dan Eskploitasi
- HUT PSSI Ke-88 dan Anniversary Cup

Sepak bola adalah sekolah kehidupan. Siapa berani masuk bertanding ke dalam kancah arena baik sebagai pemain maupun penonton akan merasakan pahitnya kekalahan dan manisnya kemenangan. Begitu besar dan kuat emosi yang terlibat. Tak hanya di stadion, di rumah, kafe, sampai warung pinggir jalan. Pertandingan Real Madrid lawan Juventus adalah bukti sejarah indahnya sepak bola. Pada lapangan yang sama, menit yang sama, dan momen yang sama, terdengar tangis dan tawa bersatu. 

Stadion Santiago Bernabeu menjadi saksi pertempuran 'rindu dan dendam' akan sebuah trofi kemenangan. Ricky Martin dalam lagunya La Copa de la Vida atau Piala Kehidupan, mengambarkan dengan jelas bagaimana kisah Kain dan Abel bertarung untuk mencapai puncak gunung glory. Hay que ganar para sobrevivir. Kemenangan adalah bagian dari bertahan hidup. Satu-satunya cara untuk tetap hidup adalah dengan meraih kemenangan. Tidak ada pilihan lain. Ini adalah bagian dari bertahan hidup, kawan! Kejam tapi ini fakta. 

Lagu la Copa de la Vida menjadi lagu tema terbaik sepanjang sejarah penyelenggaraan Piala Dunia. Pada Rabu, 11 April 2018, Zinedine Zidane memaknai kembali lagu yang populer pada Piala Dunia 1998 di Prancis. Sepak bola adalah drama kehidupan di mana para pemain menjadi aktor utamanya. 

Mereka adalah gladiator, samurai, jawara, pendekar, prajurit, atau pangeran penakluk musuh. Mereka dididik dan dilatih untuk pulang dengan aroma kemenangan di jersey mereka. Nama mereka akan terbang ke langit ketujuh dalam analisis sepak bola selama sepekan penuh. Terus dipuji karena perjuangan yang berujung pada lolosnya mereka ke semifinal Liga Champions 2017/18. 

Itulah yang terjadi dengan Cristiano Ronaldo. Tendangan chileno alias saltonya saat mengalahkan Juventus di laga pertama menjadi buah bibir selama sepekan. Tepuk tangan pendukung lawan menjadi sesuatu yang tidak khas di arena hijau tersebut. Buffon terdiam terpaku melihat keindahan gol bintang pujaan fan di seluruh dunia. Ini Buffon yang tak berdaya. Seorang kiper legendaries yang kemampuannya sudah sangat diakui dunia. Semua analisis memastikan Real Madrid akan kembali menjadi finalis pada Liga Champion 2017/18. Los blancos sepertinya dilahirkan untuk selalu dekat dengan panggung kemenangan. 

Namun, semua cerita indah ini sempat terhapus pupus ketika papan skor pertandingan laga kedua menunjukkan angka 0-3 untuk kemenangan Juventus hingga sesaat menjelang peluit panjang. Hidangan pesta sudah disiapkan di Italia untuk menyambut para gladiator karena saudara mereka, Roma telah lebih dahulu mencabik-cabik klub terbaik di dunia, FC Barcelona. Keganasan tim Catalan tersebut dijinakkan dengan baik di tanah para seniman agung seperti Michaelangelo atau Gian Bernini.

Aroma pesta sudah membubung hingga Basilika Santo Petrus. Juve is back. Gadis-gadis kota mulai bersolek di depan cermin. Tapi, apa yang terjadi, hanya dalam hitungan detik sang pujaan batal masuk dalam bilik kemesraan pesta kemenangan semifinal Piala Champion. Mungkin beberapa dari mereka sudah memutarkan lagu 'We are the champion'. Mengalahkan Madrid di kadang sendiri adalah anugerah besar bagi sepak bola Italia. Sudah sekian lama pesta kemenangan tidak singgah di tanah para leluhur seniman-seniman besar, kiblat seni sepanjang abad. 
Tiba-tiba wajah Monalisa kehilangan senyum manisnya ketika wasit Michael Oliver asal Inggris meniup pluit di titik pinalti. Satu menit sebelum pluit panjang Mehdi Benatia menjatuhkan Lucas Vasquez persis satu meter di depan Buffon. Detak jarum jam di seluruh kota-kota Italia tiba-tiba berhenti. 

Aroma pesta tiba-tiba lenyap ditelan angin sore kota-kota abadi tersebut. Sore yang mengoda dan romantisme jalan-jalan penuh historis berubah menjadi gersang dan kelam. Kedai-kedai kopi tiba-tiba sepi dan hanya terdegar tegukan kopi pahit yang mungkin sebagian datang dari Indonesia. 

Buffon kembali menatap tak percaya kejadian yang persis terjadi di depan matanya. Tapi kali ini tatapannya lebih memiliki makna marah tak terlukiskan daripada kesan kagum. Ungkapan body langague tak percaya bercampur amarah protes pada ketidakadilan kehidupan, mengusir kiper legendaris Italia tersebut ke kolong gelap Santiago Bernabeu. 

Wasit lalu menghadiainya kartu merah dan hukuman kekalahan. Gonzalo Higuain tertunduk lesu, lunglai keluar lapangan agar Wojciech Szcz?sny bisa berdiri di bawah mistar gawang Juve. Kiper yang tidak pernah akan menyentuh bola tetapi akan masuk dalam catatan sejarah kekalahan terburuk Juventus.Detak jantung penonton berhenti saat Ronaldo menatap tajam si kulit bundar dan mengarahkan tendangan tak tertepis ke ujung kiri gawang kiper. Jaring gawang bergetar dan dalam tempo sepersekian detik Santiago Bernabeu memperkokoh pondasinya agar mampu menahan dentuman luapan kemeriahan pesta los madridistas. El Torero akhirnya mampu menancapkan dengan baik pedang kemenangan di balik perisai besi para gladiator. Tak ada kebahagian lebih besar dari ini. Keluar dari jurang tangisan kekalahan menuju kejayaan gilang gemilang. Dan, tidak ada kesedihan lebih besar terjungkal dari ketinggian persis pada saat ciuman kemenangan sudah berada di depan mata. “Anda bukan manusia, memberikan hadiah pinalti pada menit seperti itu.” ujar Buffon kepada pers. Senada dengan perihnya ungkapan Buffon, salah satu koment di MARCA usai pertandingan menuliskan dengan huruf besar, Marid ladrón de Europa yang artinya, Madrid si Pencuri Eropa.*


Baca Juga :
- Mengelola Industri Kangen
- Guardiola : Cintailah Pekerjaanmu!

 

Advent Tambun
Inisiator Sinabung Jazz, Pemerhati olahraga 

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA