#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Belajar dari Legenda Sepak Bola Indonesia
17 April 2018 04:09 WIB
BOGOR – Penutupan kompetisi Hansaplast Liga TopSkor (HLTS) U-13 musim 2017/18 berlangsung meriah, Minggu (15/4). Sejak pukul 07.00 WIB, lapangan Universitas Trisakti, Nagrak, Ciangsana, Bogor, bahkan sudah dipenuhi oleh ratusan bocah. Mereka datang membawa mimpi menjadi pesepak bola hebat Indonesia di masa depan.

Tak hanya kontestan Liga TopSkor, 238 peserta dari 20 Sekolah Sepak Bola (SSB) yang tersebar di Jabodetabek dan Karawang, mendaftarkan pemainnya untuk ambil bagian dalam acara coaching clinic. Jumlah tersebut bisa saja bertambah, lantaran satu hari jelang Final Day, panitia masih dihubungi beberapa SSB untuk penambahan peserta.

Namun mengingat keterbatasan waktu, panitia dengan berat hati tidak bisa memenuhi permintaan tersebut. Bahkan, setiap tim hanya boleh mendaftarkan tujuh pemain (termasuk satu kiper) untuk masing-masing kategori usia 9-10 tahun dan 11-12 tahun. Ketua Koordinator penutupan HLTS Boy mengatakan jumlah itu melebihi ekspektasi panitia.


Baca Juga :
- Hebat di Lapangan, Cerdas di Sekolah
- TSI U-14 Juara FGS

Hadirnya tiga mantan pemain timnas yakni Indriyanto Nugroho, Charis Yulianto, dan Firman Utina sebagai mentor, menjadi magnet tersendiri. Ketiganya dibantu tim pelatih TopSkor Indonesia (TSI) Deris Herdiansyah, Achmad Zulkifli, dan pelatih kiper Ricky. “Saat dihubungi, saya tak banyak berpikir. Saya ingin ikut serta dalam pengembangan sepak bola akar rumput lewat coaching clinic,” kata Firman.

Tiga legenda sepak bola Indonesia tersebut nyatanya mampu menjadi penyuntik semangat para pesepak bola muda. Meski hanya berlangsung dua jam, peserta sangat antusias mengikuti beragam materi yang diberikan para legenda. 

“Meski singkat, anak-anak mampu menangkap materi yang diberikan pelatih dengan cepat. Itu menandakan bahwa mereka punya potensi untuk terus berkembang, asalkan pelatih mereka di SSB juga memberikan materi latihan yang sesuai dengan masing-masing kategori setiap anak,” Indriyanto menerangkan.


Baca Juga :
- Sepak Bola Rasa Keluarga
- Menguji Mental Bertanding

Materi yang diberikan para mentor dalam coaching clinic tersebut juga menyesuaikan dengan kurikulum Filanesia. “Saya pikir sekitar 80 persen peserta sudah pernah mendapat metode latihan yang kami berikan dalam coaching clinic. Itu bagus, berarti pelan tapi pasti, keseragaman metode latihan yang tertuang dalam buku besar kurikulum filosofi sepak bola Indonesia, sedang berjalan,” kata Charis Yulianto.*Furqon Al Fauzi


 

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA