#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Ada yang Salah dengan City dan PSG
17 April 2018 04:00 WIB
AKHIR pekan lalu, dua klub yang terkenal dengan anggaran tanpa batas, Manchester City FC dan Paris Saint Germain (PSG), resmi menjadi kampiun liga domestik. City memastikan gelar Liga Primer Inggris seusai meredam Tottenham Hotspur FC, 3-1, Sabtu (14/4) malam.
 
Sehari kemudian, PSG merengkuh gelar Ligue 1 Prancis untuk kali kelima dalam enam musim terakhir. Menariknya, kedua tim sama-sama memastikan trofi kompetisi tertinggi domestik pada pekan yang sama, ke-33, atau saat liga menyisakan lima laga. 

Tidak bisa dipungkiri, banyak kesamaan di antara kedua klub ini. City dan PSG sama-sama dimiliki grup atau korporasi asal Timur Tengah. Bila The Citizens dimiliki grup asal Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Les Parisiens dikuasai investor asal Qatar.
 
Kedua miliuner Arab ini pun mengakuisisi City dan PSG rentang waktu yang tidak jauh. Bila City diakuisisi pada musim panas 2007, Oryx Qatar Sports Investments (Qsi) membeli saham mayoritas PSG pada 2011.
 
Baik City dan PSG juga sangat gemar “menghamburkan uang” demi memenuhi target mereka. Bila ditotal, sejak diakuisisi grup asal Abu Dhabi pada 2007, City sudah menghabiskan 1,63 miliar paun untuk belanja pemain. 

Kendati begitu, uang yang dikeluarkan PSG jauh lebih mencengangkan. Hanya dalam tempo delapan tahun di bawah QSi, Les Parisiens mengeluarkan 890,5 juta paun. 


Baca Juga :
- Tanda Tanya untuk Kane
- Prancis Deja Vu

Namun begitu, torehan kedua klub terasa tidak sebanding dengan pengeluaran mereka yang sangat besar. Semua tahu, kedua klub berkembang pesat satu dekade terakhir. 

City hanya berada di peringkat ke-10 pada akhir Liga Primer 2008/09. Tetapi, itulah peringkat akhir terburuk mereka di Liga Primer sejak dibeli Abu Dhabi United Group Investment and Development Ltd. Karena setelahnya, City tidak pernah terlempar dari lima besar, termasuk tiga kali juara (2011/12, 2013/14, 2017/18) dan dua kali runner-up (2012/13, 2014/15). Belum lagi satu Piala FA dan tiga Piala Liga.  

Tak berbeda dengan PSG. Setelah dibeli QSi, Les Parisiens merebut lima gelar Ligue 1 dalam enam musim terakhir (sejak 2012/13, hanya diselingi AS Monaco pada 2016/17), tiga Piala Prancis, dan lima Piala Liga. 

Namun semua tahu, target kedua klub di bawah kepemilikan miliuner Arab adalah Liga Champions. Ironisnya, torehan mentereng dan gelimang uang tidak juga membawa mereka menjadi yang terbaik di Eropa dalam satu dekade terakhir. 

Torehan terbaik City di Liga Champions pada era kepemilikian Abu Dhabi hanyalah semifinal pada 2015/16. Musim ini, City hanya sampai perempat final. PSG lebih miris karena terjauh hanya menembus perempat final dan tahun ini kandas di 16 besar. 

Lantas, apa yang salah dengan City dan PSG? Dengan begitu banyaknya uang yang mereka keluarkan dengan rentang waktu sekitar satu dekade kepemilikan, bukankah paling tidak satu trofi Liga Champions sudah seharusnya di tangan? 

Sederet pelatih top sudah didatangkan City, dari Sven-Goran Eriksson, Roberto Mancini, Manuel Pellegrini hingga Josep Guardiola saat ini. Usai QSi memegang kendali, PSG pun mendatangkan Carlo Ancelotti, Laurent Blanc, dan kini Unai Emery. Selain pelatih, sejumlah pemain hebat dunia yang pastinya mahal pun sudah dibeli kedua klub.  


Baca Juga :
- Terbaik Tak Selalu Harus Juara
- Belajar dari Kroasia

Seperti yang dikatakan Guardiola setelah dihancurkan Liverpool FC, 0-3, di leg pertama perempat final Liga Champions, City tidak memiliki mentalitas juara di Eropa (baca: Liga Champions). Namun, bukankah pelatih sekaliber Guardiola – juara Liga Champions dua kali bersama Barcelona – atau Emery (jawara Liga Europa tiga kali beruntun bersama Sevilla) di PSG, seharusnya mampu membangun mentalitas klub asuhannya?

Pertanyaan seperti inilah yang masih menggelayuti City dan PSG. Mereka mampu memiliki hampir semua pelatih atau pemain yang diinginkan. Tetapi, entah mengapa waktu sekitar satu dekade juga tidak cukup membuat City dan PSG ditakuti di Eropa. City dan PSG rasanya sudah harus menomorduakan kompetisi domestik dan memikirkan apa yang salah sehingga mereka selalu kesulitan bersaing di kancah Eropa, Liga Champions.*Tri Cahyo Nugroho   
           
   

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA