#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Inggris Butuh Kapten seperti Moore
23 Mei 2018 04:00 WIB
“KAPTEN saya, pemimpin saya, tangan kanan saya. Dia adalah semangat dan detak jantung dari tim. Pesepak bola yang sangat saya percayai dalam hidup saya. Dia profesional sejati, orang terbaik yang pernah saya kenal. Tanpa dirinya, Inggris tidak akan pernah memenangkan Piala Dunia,” Demikian kalimat yang diberikan oleh Alf Ramsey saat kematian Bobby Moore pada 1993 silam.

Ramsey, pelatih timnas Inggris wafat pada 1999. Sang kapten, Moore, meninggalkan pelatihnya lebih dulu. Kepergian Moore pun menjadi perhatian besar saat itu, khususnya para legenda sepak bola. “Dia bek terbaik, pemain bertahan terbaik yang pernah saya hadapi dalam karier saya,” kata legenda hidup sepak bola Brasil, Pele.

“Jika Anda berbicara tentang Moore, saya dapat mengulasnya berhari-hari. Jika berbicara soal pria, saya bisa mengulasnya hanya dalam satu menit,” kata Ron Greenwood, bek timnas Inggris era 1977-1982. Moore pun mendapatkan tempat yang spesial khususnya dalam sepak bola Inggris. Hingga kini, dia adalah satu-satunya kapten timnas Inggris yang mampu meraih trofi Piala Dunia. Tepatnya saat membawa The Three Lions asuhan Ramsey juara pada 1966.


Baca Juga :
- Ujian untuk Tim-tim Tradisi Juara
- Saatnya Tite Buktikan Hasil Revolusi Brasil

Bersama Billy Wright, Moore memiliki rekor sebagai kapten dengan jumlah laga terbanyak, 90 pertandingan. Setelah Moore, ban kapten tersebut beralih ke 17 lengan pemain timnas Inggris yang dinilai pantas menyandangnya. Dari Gerry Francis, Kevin Keegan, Bryan Robson, Gary Lineker, atau David Platt, Tony Adams, Alan Shearer, David Beckham, John Terry, Rio Ferdinand, Stevan Gerrard, hingga Wayne Rooney.

Setelah Moore, Inggris mencari kapten yang mampu membawa mereka kembali mengangkat trofi terbaik dalam sepak bola. Namun, tidak satu pun dari nama-nama tersebut mampu mewujudkannya. Kini, setelah Rooney, pencarian tersebut kembali dilanjutkan dalam putaran final Piala Dunia 2018. Senin (21/5), Inggris mempercayakan ban kapten tersebut kepada pemain berusia 24 tahun, Harry Kane.

Ya, Kane mendapat kepercayaan tersebut dari sang pelatih, Gareth Southgate. Dia tidak lebih tua dibandingkan dengan Danny Welbeck (27 tahun). Jam terbang Kane juga jauh di bawah bek Chelsea, Gary Cahill, yang juga dipanggil untuk putaran final Piala Dunia 2018. Cahill 58 pertandingan sedangkan Kane baru 23 laga.

Namun, soal usia, Moore juga menyandang ban kapten tersebut dalam usia yang relatif muda, 25 tahun. Dengan demikian pula, Kane merupakan kapten paling muda dalam sejarah timnas Inggris. Kane 24 tahun, 325 hari sedangkan Moore termuda kedua dengan 25 tahun, 81 hari. Keputusan Southgate memilih Kane di antaranya karena produktivitas musim ini, total menorehkan 41 gol untuk klubnya, Tottenham Hotspur, dan membawa Spurs ke posisi ketiga klasemen akhir Liga Primer 2017/18.

Di sisi lain, tugas kapten sebenarnya bukan hal yang baru bagi Kane. Southgate mendeskripsikan Kane sebagai sosok profesional yang teliti. Meski demikian, pilihan ini tetap mencuatkan pertanyaan bagi sebagian publik sepak bola Inggris, karena sebelumnya sosok Jordan Henderson (kapten Liverpool), juga dinilai pantas menyandang tanggung jawab tersebut.


Baca Juga :
- Pemimpin Lebih Krusial daripada Bintang
- Menuju 14 Juni

Apalagi, dari segi posisi atau peran, Henderson ada dalam zona yang memungkinkan dirinya memberikan komando. Posisi gelandang atau bek sejauh ini yang paling efektif. Sedangkan untuk posisi penyerang bukan posisi terbaik meski itu juga bisa diperdebatkan.

Untuk sementara, tanpa ban kapten pun, Henderson akan tetap menjadi “pemimpin” sedangkan untuk Kane, sebut saja sebagai simbolik yang diharapkan menambah kepercayaan diri, semangat, sang pemain untuk mencetak gol. Ya, dengan gol Kane, Inggris berharap bisa menemukan kembali kapten yang dapat mengangkat trofi Piala Dunia, seperti Moore.*Irfan Sudrajat
 

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA