#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Deja Vu Prancis 2006 dalam Skuat Spanyol 2018
22 Juni 2018 20:08 WIB
BUKAN hasil maksimal yang didapatkan timnas Spanyol saat membuka Piala Dunia 2018. Hasil imbang 3-3 melawan Portugal menjadi awal petualangan di Rusia. Pertandingan kedua Spanyol juga susah payah, mereka hanya unggul tipis 1-0 atas wakil Asia, Iran.

Meski demikian dua hasil itu tetap awal yang lebih baik buat Spanyol. Dikarenakan 2 partisipai terakhir di Piala Dunia, mereka memulai dengan kekalahan. Kalah 0-1 dari Swiss di Piala Dunia 2010, lalu 1-5 dari Belanda di Piala Dunia 2014. 

Spanyol juga mengawali Piala Dunia 2018 dengan keretakan tanpa skenario. Secara mengejutkan Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) memberi kabar ke dunia, telah memecat pelatih Julen Lopetegui. 


Baca Juga :
- Prancis Rusuh, 6 Pertandingan Ligue 1 Ditunda
- Cetak Gol, Mata Jadi Pemain Kelima Spanyol yang Bukuhkan 50 Gol di Liga Primer

RFEF menganggap keputusan Julen Lopetegui menerima pinangan Real Madrid, bisa mengganggu konsentrasi skuat Spanyol. Tidak berselang lama legenda Real Madrid, Fernando Hierro, diminta memimpin Tim Matador untuk bertempur di pentas akbar sepak bola dunia.

Di Rusia kali ini Spanyol tetap dianggap salah satu unggulan. Skuat yang dihuni beberapa alumni Piala Dunia 2010, tetap memberi ancaman besar bagi setiap lawan.

Terlepas dari kontroversi pelatih, ada beberapa fakta non-teknis yang mungkin dapat “membantu” Spanyol, minimal menginjakan kaki di partai puncak.

Perjalanan Persis Prancis 2006

Prancis dan Spanyol punya generasi emas dalam upaya gelar Piala Dunia. Prancis dengan motor salah satu pemain terbesar sepanjang sejarah, yaitu Zinedine Zidane, mampu mengangkat tinggi trofi Piala dunia 1998 di hadapan pendukungnya sendiri. 

Lain hal dengan Spanyol. Mereka harus lintas benua untuk mengangkat gelar Piala Dunia pertama. Spanyol meraihnya di Afrika Selatan. Dengan generasi emas, Spanyol berhasil menuntaskan dahaga gelar melalui gol tunggal Andres Iniesta ke gawang Belanda. 

Tahun-tahun berikutnya sejarah mencatatkan kemiripin antara negara besar sepak bola tersebut.

Dimulai Prancis, kedigdayaan mereka setelah Piala Dunia 1998 berlanjut 2 tahun berselang. Tepatnya di Piala Eropa 2000 ketika gol emas David Trezeguet berhasil membawa Prancis mengawinkan gelar Piala Dunia dan Piala Eropa. 

Sayang, Perancis gagal meneruskan tren positif mereka di dua jang besar selanjutnya. Menyandang status juara bertahan di Piala Dunia 2002 dan Piala Eropa 2004 Prancis justru tampil buruk. 

Terempas di putaran grup Piala Dunia 2002 dan hanya melangkah sampai 8 besar Piala Eropa 2004, banyak yang menganggap generasi emas Prancis sudah habis. 

Tapi, tunggu dulu skuat gaek mereka belum sepenuhnya habis.

Piala Dunia 2006 seolah menjadi ajang pembuktian terakhir bagi generasi emas 1998 Prancis. Dipimpin sosok maestro sekelas Zidane, Prancis tetap membawa nama veteran seperti Thierry Henry, David Trezeguet, Claude Makelele, Patrick Viera, Willy Sagnol, Lilian Thuram, hingga kiper ikonik Fabian Barthez.

Membuka kejuaraan dengan hasil imbang 1-1 melawan Swiss, penampilan Prancis makin meningkat, hingga lolos dari fase grup walaupun dengan status runner-up. 

Periode 16 besar hingga partai semifinal berhasil dilalui dengan gemilang oleh Zidane dan kawan-kawan. Banyak lawan berat dihadapi seperti Spanyol, Brazil, dan Portugal, membawa Prancis terbang tinggi ke partai puncak. 

Tapi ambisi terakhir generasi emas ini harus mengakui keunggulan mental Italia yang berhasil mengubur impian Prancis melalui adu penalti.
Spanyol yang tampil di Piala Dunia 2018 memiliki kesamaan dengan Prancis yang berlaga di Piala Dunia 2006. 

Terlihat seperti suatu kebetulan, tapi Spanyol memiliki sejarah yang sudah terukir jelas. Dimulai angkatan emas yang berhasil membawa Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, skuat Spanyol angkatan itu disebut generasi emas. 

Dua tahun berselang spanyol berhasil menjuarai Piala Eropa 2012 dan otomatis mempertahankan piala yang berhasil mereka raih pada 2008.
Persis dengan yang terjadi pada generasi emas Prancis, dua ajang berikutnya setelah berhasil mengawinkan gelar Piala Dunia dan Piala Eropa terjadi penurunan prestasi. 

Bermula di Piala Dunia 2014, Spanyol mengikuti jejak Prancis di 2002 gagal lolos dari fase grup. Mereka gagal bersaing dengan Belanda dan Cile yang berhasil lolos dari Grup B, karena hanya mampu mengalahkan Australia untuk lolos dari dasar klasemen. 

Piala Eropa 2016 pun gagal dijadikan ajang balas dendam Spanyol. Mereka takluk setelah putaran grup, sama dengan Prancis. Bedanya Prancis 2016 takluk di 8 besar karena kontestan hanya 16 negara, sedangkan Piala Eropa 2016 ada 24 negara.

Memulai Piala Dunia Rusia kali ini, Spanyol memulai langkah yang serupa dengan Prancis pada 2006. Sama-sama meraih hasil imbang. Beberapa kemiripan yang menarik untuk disimak, apakah Spanyol dapat mengikuti jejak Prancis pada 2006 atau mencatat prestasi lebih tinggi?

Sosok Zidane dan Iniesta

Kemiripan skema perjalanan bukan satu-satunya poin dari kemungkinan besar Spanyol dapat mengikuti prestasi Prancis di 2006. Sosok maestro dalam diri Andres Iniesta dinilai menjadi kunci permainan Spanyol. 

Sama dengan skuat Prancis 2006. Zidane saat itu masih dibantu para rekan gaeknya di lini tengah, Claude Makelele dan Patrick Vieira. 
Hal serupa terjadi dalam skuat Spanyol 2018. Andres Iniesta tidak sendirian. Jebolan generasi emas Piala Dunia 2010 seperti David Silva dan Sergio Busquets masih mendampingi dalam mengawal lini vital Spanyol.

Pesta akbar Rusia 2018 kali ini akan menjadi kompetisi terakhir Iniesta mengenakan jersey timnas Spanyo. Kembali hal serupa terjadi saat Zidane mengakhiri karier internasional di Piala Dunia 2006 dan Karena gol kedua pemain yang memiliki model rambut serupa itu juga yang membuat Spanyol dan Prancis berhasil meraih gelar Piala Dunia. 

Zidane melakukannya dua kali saat mengalahkan Brazil 3-0 di Piala Dunia 1998 dan Andres Iniesta mencetak gol tunggal di final Piala Dunia 2010.


Baca Juga :
- Jadi Skuat Inti U-16 Leganes Spanyol, 2 Remaja Indonesia Ini Berharap Main di La Liga
- Prancis Tekuk Uruguay 1-0, Giroud Cetak Gol Deschamps Puji Griezmann

Melihat gaya bermain spanyol pada dua pertandingan awal di bawah asuhan Fernando Hierro, Spanyol tidak perlu takut bersaing dengan negara unggulan lainnya. Ditambah faktor non-teknis mungkin menjadi modal kuat spanyol dalam menuntaskan misi mereka di pesta sepa kbola Rusia kali ini.*

Garry Gumilar, @garrgum (Twitter), garrygum92 (Instagram)

BERITA TERKAIT

Penulis
Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA