#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Umtiti Pembeda, Bintang Mbappe Kian Terang
12 Juli 2018 04:00 WIB
USAI sudah penantian Prancis selama 12 tahun untuk menembus final Piala Dunia. Keberhasilan menundukkan Belgia, 1-0, pada semifinal Piala Dunia 2018 di Saint Petersburg, Rusia, Selasa (10/7) malam, memastikan Prancis lolos ke partai puncak turnamen sepak bola terbesar sejagat itu untuk kali ketiga dalam 20 tahun. 

Prancis kali pertama lolos ke final Piala Dunia saat menjadi tuan rumah pada 1998. Saat itu, dimotori Zinedine Zidane dan kapten Didier Deschamps, kini pelatih Les Bleus, tim tuan rumah berhasil membungkam Brasil, 3-0. Bagi Prancis, Rusia 2018 menjadi kali ketiga setelah pada kesempatan kedua di Piala Dunia 2006 Jerman, mereka takluk oleh Italia lewat drama adu penalti. 

Dengan tiga kali lolos ke final, Prancis menyamai torehan Belanda (1974, 1978, 2010). Bedanya, Belanda tidak pernah juara. Torehan jumlah ke final Prancis itu hanya kalah dari Jerman (delapan), Brasil (tujuh), Italia (enam), dan Argentina (lima). 


Baca Juga :
- Giroud dan Morata, Dua Sisi Mata Uang Chelsea
- Mereka yang Layak dan Tak Pantas Dijagokan Juara Eropa

Prancis dinilai pantas melaju ke final. Mereka terbilang komplet sebagai tim, kuat di belakang, lugas di tengah, dan memiliki serangan mematikan. Di bawah mistar, Hugo Lloris membuktikan dirinya pantas menjadi disebut salah satu kiper terbaik dunia saat ini. Di belakang, Raphael Varane semakin matang sebagai bek tengah. Melawan Belgia, bek Real Madrid CF itu mampu membuat striker raksasa Romelu Lukaku frustrasi. 

N’Golo Kante, seperti biasa, sangat tahu cara menjadi pemain pertama yang meredam serangan lawan. Sedangkan Paul Pogba disebut Deschamps sebagai “monster” karena selalu mampu berada di mana saja saat diperlukan. Di lini depan, Antoine Griezmann mampu memimpin rekan-rekannya membangun serangan. 

Tetapi, rasanya tidak ada yang mampu menyamai torehan Samuel Umtiti dan Kylian Mbappe pada semifinal melawan Belgia. Umtiti memang beberapa kali melakukan manuver yang membahayakan gawang sendiri. Namun, gol sundulan memanfaatkan sepak pojok dari Griezmann menjadikan bek tengah FC Barcelona itu sebagai pembeda laga Prancis versus Belgia. 

Di sisi lain, Mbappe memang tidak mampu mencetak gol. Namun, manuver penyerang sayap milik Paris Saint Germain (PSG) itu terbukti berhasil memecah konsentrasi para pemain bertahan De Rode Duivels. Beberapa trik fantastis juga membuktikan sinar kebintangan winger yang baru 19 tahun itu kian bersinar di Piala Dunia ke-21 ini. 
Operan dengan tumit (back-heel) yang mampu menerobos lini belakang Belgia hanyalah satu dari sekian banyak teknik kelas dunia yang dipertontonkan Mbappe. Menariknya, Mbappe menarik bola ke arah belakang (drag-back) untuk kemudian melepas operan dengan tumit. Trik tersebut sangat piawai dilakukan dan menjadi ciri khas manuver legenda sepak bola Prancis, Zinedine Zidane. 

Apa yang ditunjukkan Mbappe pada pertandingan melawan Belgia juga memiliki makna tersendiri. Ia berpeluang menjadi pemain remaja berpengaruh besar di Piala Dunia kedua, setelah Pele membawa Brasil menjadi juara pada Piala Dunia 1958. 

Menariknya, Mbappe juga tidak berambisi hanya ingin menjadi bintang sendiri. Lihat saja komentarnya saat disinggung mengenai peluang menjadi Pemain Terbaik Dunia dengan mengangkat Ballon d’Or. “Saya tidak mau memikirkan itu. Saya hanya ingin memenangi Piala Dunia. Saya ingin tidur bersanding dengan trofi itu,” tuturnya. 

Partai semifinal sengit ternyata bukan hanya terjadi di Piala Dunia Rusia. Dari dalam negeri, pertemuan bertensi tinggi dipastikan terjadi di empat besar Piala AFF U-19 saat Indonesia bertemu Malaysia, Kamis (12/7) petang nanti. Bertarung di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, jelas memberikan keuntungan tersendiri bagi skuat Garuda Nusantara, julukan timnas Indonesia U-19. Stadion di Jawa Timur itulah yang menjadi saksi sejarah saat tim Garuda Jaya menjuarai Piala AFF U-19 2013. 


Baca Juga :
- Profesionalitas di Atas Segalanya
- Spalletti Menghadapi Kemungkinan Terburuk

Faktor sejarah itu diyakini mampu memompa semangat skuat asuhan Indra Sjafri. Dukungan fanatik suporter diharapkan juga membuat mental para pemain Malaysia turun. 

Permainan skuat Garuda Nusantara juga diyakini lebih menggigit dengan serangan yang lebih bervariatif. Bergabungnya Egy Maulana Vikri dari klubnya, Lechia Gdansk, Polandia, membuat konstruksi serangan yang siap dibangun dari lini kedua, akan lebih hidup. Apalagi, Egy akan didukung pemain dengan kemampuan manuver brilian seperti Todd Ferre dan Saddil Ramdani.    
    
Timnas Indonesia U-19 diharapkan mampu juara untuk menjawab kerinduan pencinta sepak bola Tanah Air akan gelar. Namun bila dipikirkan lebih jauh, banyak yang sejatinya bisa dilakukan para pemain jebolan U-19 ini. Mereka seharusnya menjadi cikal-bakal timnas senior yang solid dengan mental bagus. Berkaca dari apa yang terjadi dengan para pemain Indonesia U-19 2013, seharusnya otoritas sepak bola Indonesia tahu bagaimana cara memoles untuk para pemain muda bertalenta ini agar menjadi sebuah tim yang solid.*Tri Cahyo Nugroho    

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA