#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Belajar dari Kroasia
13 Juli 2018 04:00 WIB
RABU (11/7) malam atau Kamis dini hari, banyak orang kagum atas prestasi Kroasia menembus final Piala Dunia 2018 setelah membungkam Inggris, 2-1. Tetapi, mungkin banyak yang tidak tahu bila Kroasia sudah merintisnya melewati sejarah cukup panjang. Kroasia resmi memisahkan diri dari Yoguslavia pada 1991. Tetapi, FIFA mengakui Federasi Sepak Bola Kroasia (HNS) berdiri pada 1912 dan bergabung dengan otoritas tertinggi sepak bola dunia itu pada Juli 1992. Sedangkan di Eropa, UEFA menerima HNS pada Juni 1993. Kendati terbilang baru, torehan Kroasia saat menjadi bagian dari Yugoslavia tidak bisa dianggap remeh. 

Di Piala Dunia antara 1930-1990, Yugoslavia menembus semifinal dan menempati peringkat keempat pada 1930 dan 1962. Di Piala Eropa, sepanjang bernama Yugoslavia pada 1960 sampai 1992, mereka dua kali menjadi runner-up (1960 dan 1968). 

Usai memisahkan diri dari Yugoslavia, kiprah Kroasia di Piala Dunia cenderung naik-turun. Namun, mereka di luar dugaan berhasil menempati peringkat ketiga saat debut pada 1998 dengan bintang seperti Dario Simic, Slaven Bilic, Mario Stanic, Robert Jarni, Robert Prosinecki, Zvonimir Boban, dan Davor Suker yang lantas menjadi top scorer di Piala Dunia Prancis saat itu.  


Baca Juga :
- Asian Games Jadi Cerminan Wajah Indonesia
- The Replacement Killers

Kini, 20 tahun berselang, Generasi Emas sepak bola Kroasia lainnya kembali muncul. Bahkan, upaya keras dan kerja sama tim yang dimotori Luka Modric, Ivan Rakitic, Ivan Perisic, Ante Rebic, dan Mario Mandzukic, sudah selangkah lebih baik dibanding para senior mereka yang , dua dekade lalu takluk 0-2 di semifinal oleh Prancis. 

Sukses Kroasia, negara berpopulasi terkecil (4,15 juta jiwa) yang mampu lolos ke final Piala Dunia setelah Uruguay pada 1950, tidak dibuat dalam waktu singkat. Tapi, mereka tidak pernah melupakan fakta memiliki sejarah bagus dalam sepak bola. Level kompetisi domestik mereka memang jauh di bawah Inggris (Liga Primer), Spanyol (La Liga), Italia (Seri A), atau Jerman (Bundesliga). Tetapi tidak ada yang menyangsikan kualitas pemain yang dihasilkan Kroasia untuk liga-liga di atas mereka. 

Di sinilah peran akademi klub-klub sepak bola Kroasia berperan. Dua nama yang patut disorot tentu Akademi Dinamo Zagreb dan Akademi Hajduk Split. Kedua akademi klub ini memiliki reputasi hebat sejak Kroasia masih tergabung dalam Yugoslavia. 

Dinamo menghasilkan pemain sekelas Boban, Prosinecki, Modric, Lovren, Simic, hingga Vedran Corluka. Adapun nama Akademi Hajduk harum berkat melahirkan sederet pemain bertahan dan gelandang top seperti Igor Stimac, Bilic, Igor Tudor, dan Aljosa Asanovic. Para pemain itu sangat sebentar, atau bahkan ada yang tidak pernah bermain di Liga Kroasia. Mereka besar dan hebat di kompetisi luar negeri. 

Di sinilah para pelaku sepak bola Indonesia bisa belajar dari Kroasia. Timnas Indonesia bukan tidak memiliki sejarah, khususnya Piala Dunia. Indonesia memang pernah turun di putaran final Piala Dunia pada 1938. Namun saat itu masih bernama Hindia Belanda. 

Kesempatan untuk berlaga sebagai sebuah negara merdeka muncul 48 tahun kemudian. Pada kualifikasi Piala Dunia 1986, Indonesia tinggal dua langkah lagi lolos ke Meksiko. Usai menjuarai Grup 3B Zona B putaran pertama, Indonesia harus melawan Korea Selatan, juara Grup 3A. Jika saat itu menang (Indonesia kalah agregat 1-6 dalam dua leg), skuat Merah Putih asuhan Sinyo Aliandu tinggal menghadapi pemenang laga Hong Kong (juara Grup 4A) versus Jepang (juara Grop 4B). Semua tahu, Korsel saat itu yang akhirnya mewakili Asia bersama Irak di Piala Dunia 1986.

Kini, jangankan bersaing di tingkat Asia, di level regional ASEAN pun Indonesia semakin tertatih. Terakhir, malam tadi, tim muda Indonesia tersingkir di semifinal Piala AFF U-19 oleh Malaysia lewat adu penalti. 

Indonesia, dengan penduduk 261 juta jiwa (lebih 50 kali lipat daripada pada Kroasia), seharusnya mampu melahirkan segudang pemain hebat. Bila belum mampu membuat liga yang kompetitif dan sehat, tidak ada salahnya mengarahkan sekaligus mengupayakan para pemain muda bertalenta seperti mereka yang ada di tim U-19 saat ini, turun di luar negeri. Semua tahu, bermain di kompetisi yang ketat akan mengasah kemampuan atlet. Satu yang harus diingat, tidak ada prestasi yang lahir instan. Semua pasti lewat proses. 


Baca Juga :
- Tanda Tanya untuk Kane
- Prancis Deja Vu

Indonesia sejatinya memiliki segudang atlet berbakat. Lihat saja yang ditorehkan Lalu Muhammad Zohri. Rabu (11/7) lalu, sprinter 18 tahun itu merebut emas nomor paling bergengsi di Kejuaraan Dunia Atletik IAAF U-20, 100 meter putra. Dengan catatan 10,18 detik, sprinter 18 tahun asal NTB itu menjadi atlet Indonesia pertama yang mampu merebut emas di Kejuaraan Dunia Atletik. Catatan waktu Lalu hanya terpaut 0,01 detik dari rekor nasional dan SEA Games milik Suryo Agung Wibowo. 

Seperti sepak bola, bakat dan torehan Lalu mungkin akan jalan di tempat bila jarang turun di kompetisi dengan level tinggi. Mungkin, turun di beberapa lomba yang bisa jadi parameter kompetisi ketat, seri Diamond League lansiran IAAF, bisa dipertimbangkan para pemangku kepentingan di PB PASI untuk masa depan atlet muda seperti Lalu.*Tri Cahyo Nugroho 

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA