#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Ganggu Final Piala Dunia, Pussy Riot Ajukan Tuntutan
16 Juli 2018 14:20 WIB
MOSKOW - Bek tengah Kroasia Dejan Lovren menyerang seorang penusup ke lapangan saat final Piala Dunia 2018 di Moskow, Minggu (15/7).

Peristiwa itu terjadi pada menit 52. Seorang pria berpakaian putih dan celana hitam berlari ke arah Lovren. Tapi, bek Liverpool itu malah melemparnya sebelum petugas menggiring penyusup tersebut.

Sementara itu, seorang wanita juga merangsek ke lapangan. Dia mendekati pennyerang Prancis Kylian Mbappe. Seperti penyusup pria, wanita tersebut juga berpakaian putih seperti petugas keamanan. Aggota Pussy Riot itu mengajak Mbappe toast.


Baca Juga :
- Neymar & Mbappe Kompak Cedera, PSG dalam Bahaya
- Perjalanan Timnas Inggris di Piala Dunia 2018 Dijadikan Film Dokumenter

Kelompok punk rock Rusia Pussy Riot mengaku bertanggung jawab atas invasi itu. Kelompok anarkis itu menjadi pengkritik vokal presiden Vladimir Putin, yang hadir di Stadion Luzhniki.

Pussy Riot adalah grup musik punk yang juga gerakan feminis dengan basis di Moskow. Lewat unggahan di Youtube, mereka menyampaikan sejumlah tuntutan bertepatan dengan 11 tahun kematian penyair Rusia, Dmitriy Prigov.

Dalam video berjudul “Policeman enters the Game,” tiga anggota Pussy Riot tampak membacakan tututannya terkait dengan kondisi pilitik di Negeri Beruang Merah itu.

“Dear Friend! Mungkin Anda tahu bahwa tidak ada aturan hukum di Rusia dan setiap polisi dapat dengan mudah merusak hidup Anda tanpa alasan,” katanya sebagai pembuka dalam video yang diunggah pada Minggu (15/7/2018).

Salah satu pengunjuk rasa dilaporkan adalah Nadezhda Tolokonnikova yang berusia 28 tahun. Dia dipenjarakan pada tahun 2012 karena 'hooliganisme' setelah protes anti-Putin di katedral Moskow.

Pussy Riot membuat daftar tuntutan setelah aksi tersebut. Salah satunya adalah 'membebaskan semua tahanan politik' dan 'menghentikan penangkapan ilegal saat demonstrasi'. Mereka juga menyerukan untuk mengakhiri pembuatan kasus-kasus kriminal dan pemrotes penjara.

"Hari ini adalah 11 tahun sejak kematian penyair besar Rusia, Dmitriy Prigov. Prigov menciptakan citra seorang polisi, pembawa kebangsaan surgawi, dalam budaya Rusia."

Pernyataan mereka juga merujuk kasus Oleg Sentsov, lawan vokal dari aneksasi Rusia Crimea dari Ukraina pada tahun 2014, yang dijatuhi hukuman pada tahun 2015 hingga 20 tahun karena konspirasi untuk melakukan tindakan teror. Dia menyangkal tuduhan itu dan telah melakukan mogok makan sejak pertengahan Mei.


Baca Juga :
- Sukses Mengorbitkan Pemain Muda, Apa Rahasia AS Monaco?
- Kroasia Terdegradasi, Modric Tidak Khawatir Tentang Ballon d´Or

Salah satu dari empat pengunjuk rasa, Olga Kurachyova, menegaskan kepada Reuters bahwa dia telah ditahan oleh polisi di sebuah kantor polisi di Stadion Luzhniki.*

 

BERITA TERKAIT

Penulis
Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA