#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Tanda Tanya untuk Kane
17 Juli 2018 04:00 WIB
HARRY Kane akhirnya meraih gelar Sepatu Emas alias Golden Boot pada Piala Dunia 2018 setelah mencetak gol terbanyak, enam. Status pencetak gol terbanyak di Piala Dunia sejatinya mampu menjadi kesempatan bagi sang pemain untuk meningkatkan karier. Bermain di klub yang lebih besar misalnya. 

Untuk kasus Kane, cara dan jalannya meraih Sepatu Emas di Rusia mungkin agak menarik. Dibanding para pesaingnya di Piala Dunia 2018, striker Tottenham Hotspur FC lebih banyak mencetak gol dari bola mati, lima. Tiga lewat penalti dan dua dari set-piece. Hanya sekali Kane membuat gol dari open play. 

Bandingkan dengan Romelu Lukaku (Belgia), Denis Cheryshev (Rusia), atau Kylian Mbappe (Prancis). Mereka masing-masing memang hanya mencetak empat gol. Namun, semua dibuat saat pertandingan berjalan alias open play. 
Dari sini kapasitas dan ketajaman Kane sebagai penyerang tengah mungkin agak diragukan. Tetapi, banyak faktor yang memengaruhi performa seorang striker di lapangan. Dari dukungan rekan setim hingga strategi dari pelatih. Mengacu performa dan hasil di Rusia, akankah Kane mampu terus produktif di kompetisi-kompetisi berikutnya, terutama bersama klubnya?


Baca Juga :
- Respek terhadap Lawan
- Lanjutkan Garuda Muda!

Fakta menunjukkan, tidak semua peraih Sepatu Emas Piala Dunia, lantas mulus menjalani karier di tahun-tahun berikutnya. Gary Lineker, striker Inggris pertama yang menjadi top scorer Piala Dunia pada 1986. Setelah Piala Dunia Meksiko, Lineker yang saat itu dimiliki Everton FC, lantas pindah ke FC Barcelona dengan transfer 2,8 juta paun. Tetapi, pada musim pertamanya di Barca, Lineker hanya mampu mencetak 21 gol dalam 50 pertandingan semua kompetisi.
 
Karier Lineker pun mandek di Barca. Setelah ikut mengangkat Piala Raja 1988 dan Piala Winners 1989 serta mencetak 42 gol dalam 103 pertandingan La Liga, Lineker pun meninggalkan Barca pada 1989.
 
Pada Piala Dunia awal milenium, Ronaldo Luiz Nazario menggebrak dunia dengan mengantar Brasil menjadi yang terbaik di Korea-Jepang 2002 sekaligus merebut Sepatu Emas dengan delapan gol. Mengejutkan karena sebelum Piala Dunia, Ronaldo menghabiskan waktu sekitar dua bulan untuk operasi dan penyembuhan cedera lutut. 

Setelah Piala Dunia 2002, Real Madrid memboyong Ronaldo dengan banderol 46 juta euro. Menjadi bagian dari Los Galacticos bersama Zinedine Zidane, Luis Figo, Roberto Carlos, dan David Beckham, Ronaldo mampu mencetak 30 gol dalam 44 laga semua ajang bersama Madrid. Bahkan, sebelum akhir 2002/03, Ronaldo mampu menyabet Ballon d’Or untuk kali kedua setelah 1997. 

Lineker dan Ronaldo hanya sedikit contoh kisah tentang perjalanan berikutnya sang peraih Sepatu Emas Piala Dunia. Masih ada sederet nama yang performanya justru menurun setelah menjadi penyerang paling berbahaya di Piala Dunia. 

Sebelum Kane, nama James Rodriguez jadi perbincangan saat menjadi top scorer Piala Dunia 2014 bersama Kolombia. Madrid pun tak segan menariknya dari AS Monaco dengan harga 71 juta euro. James bermain cukup bagus meski lebih banyak dicadangkan dengan mencetak 17 gol dalam 46 laga untuk Madrid. Tetapi, pada Juli 2017 lalu, James justru dipinjamkan ke FC Bayern Muenchen karena sangat jarang dimainkan sebagai starter. 

Kecenderungan performa menurun seusai Piala Dunia sejatinya bukan hanya dialami pencetak gol terbanyak. Pelatih tim juara Piala Dunia pun memiliki catatan unik setelah turnamen. Itulah yang harus siap dihadapi Didier Deschamps usai Minggu (15/7) lalu mengantar Prancis merebut Piala Dunia untuk kali kedua setelah 1998. 

Sederet status mentereng pun langsung diterima Deschamps. Ia menjadi orang ketiga – setelah Mario Zagallo dan Franz Beckenbauer – yang mampu memenangi Piala Dunia sebagai pemain (1998) dan pelatih (2018). Deschamps juga menjadi satu-satunya orang Prancis yang terlibat langsung di empat dari enam final Prancis di turnamen elite (Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000 sebagai pemain, serta Piala Eropa 2016 dan Piala Dunia 2018 sebagai pelatih). 


Baca Juga :
- Episode Kedua Indra Sjafri
- Rekor yang Harus Dijaga

Dengan kontrak yang akan habis pada 31 Juli 2020 atau tepat usai Piala Eropa, mampukah Deschamps membawa Prancis merebut Piala Eropa untuk kali ketiga dalam sejarah (setelah 1984 dan 2000)? Sepanjang sejarah sepak bola Eropa, baru Helmut Schoen dan Vicente Del Bosque yang mampu melatih negaranya menjuarai dua turnamen utama secara beruntun. 

Schoen membawa Jerman (Barat) merebut Piala Eropa 1972 dan dilanjutkan Piala Dunia 1974. Sedangkan Del Bosque mengatar Spanyol merebut Piala Dunia 2010 dan Piala Eropa 2012.*Tri Cahyo Nugroho 

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA