#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
A Cup of Hope
18 Juli 2018 04:05 WIB
SELESAI sudah pagelaran akbar Piala Dunia 2018. Prancis sukses meraih gelar kedua setelah 20 tahun penantian, relatif tak lama untuk era setelah trofi Jules Rimet. Walau, rekor tercepat masih dipegang Argentina yang hanya berselang delapan tahun dari gelar perdana (1978 dan 1986). 

Banyak rekor terjadi di Rusia. Sebagai negara Eropa Timur pertama yang menjadi tuan rumah, mereka terbilang sukses. Piala Dunia berjalan lancar, drama tetap menjadi bagian dari pertandingan walau sudah disusupi teknologi Video Assistant Referee (VAR). Di luar lapangan, tak banyak insiden terjadi. Terutama yang terkait suporter. 

Rusia 2018 bahkan bisa disebut memberikan harapan baru. Tumbangnya sejumlah nama besar di fase awal menyiratkan bahwa sepak bola memang milik semua negara yang ingin memainkannya dengan benar. Memang, di satu sisi saya melihat gaya bermain yang nyaris serupa di semua tim. Tidak ada Tiqui-taca dan catenaccio absolut. Semua tim nyaris mampu beradaptasi dengan lawan-lawannya. 


Baca Juga :
- Piala Dunia dan Sepak Bola Indonesia
- Game Changer

Rusia yang sempat disindir karena bertahan total kala menyingkirkan Spanyol (di 16 besar) kemudian bermain menawan ketika jumpa Kroasia. Kemampuan beradaptasi inilah yang menjadi kunci. 

Prancis telah sukses melakukannya dalam dua tahun belakangan usai gagal di Piala Eropa. Jika di Euro 2016 mereka mengandalkan sosok kreatif seperti Dimitri Payet, di Rusia pelatih Didier Deschamp lebih menyukai efektivitas dan kecepatan. 

Kroasia yang menjadi runner-up juga tak kalah kreatif. Menempatkan tiga gelandang dengan kemampuan penguasaan bola tinggi seperti Luka Modric, Ivan Rakitic, dan Marcelo Brozovic, ternyata bisa membuat mereka melompat sangat jauh. Negara yang penduduknya hanya 4,2 juta – tidak sampai separuh Jakarta – itu mampu menembus jajaran elite dunia. Belum lagi kita melihat penampilan heroik Jepang, Korea Selatan, ataupun Tunisia. 

Selain itu, di luar lapangan tak terjadi gesekan-gesekan antarsuporter. Semua hal baik justru muncul, dari gerakan memeluk suporter lawan yang banyak dilakukan di setiap Fan Fest hingga aksi suporter Jepang membersihkan stadion yang menular ke kelompok fan negara lain. Rusia 2018 bukan sekadar World Cup biasa, ini a Cup of Hope.

Lalu, bolehkah Indonesia berharap? Mari kita jujur. Indonesia tidak akan juara Piala Dunia hanya dengan kita berucap: “Bisa!” 
Namun kita bisa belajar untuk berharap dari setiap langkah yang sudah diambil. Gagalnya Indonesia U-19 di Piala AFF (peringkat ketiga), beberapa waktu lalu, bukanlah kiamat. Ada ruang belajar yang terbuka saat kekalahan itu datang. 

Seperti halnya Prancis, yang di kandang sendiri dipermalukan Portugal pada final Piala Eropa 2016 lalu. Mungkin tim pelatih perlu menyiapkan rencana kedua, atau mencari pemain yang lebih pas. Para pemain juga bisa mawas diri. Mereka masih harus menaiki banyak anak tangga untuk menjadi juara sejati. 

Rumusan Filosofi Sepak Bola Indonesia (Filanesia) yang saat ini sibuk disebarkan mungkin terlihat kurang meyakinkan. Tapi, pembinaan tidak tumbuh dalam sekejap. Prancis sebagai inisiator Piala Dunia harus menunggu hingga 68 tahun untuk merasakan gelar juara dunia pertamanya. Jadi kenapa kita tak mau bersabar? Jika Filanesia dijalankan benar, sedikit hasil rasanya mulai bisa dilihat 10 tahun ke depan.

Mari kita mulai dengan yang sederhana saja. Misalkan sebagai suporter maka mendukunglah dengan baik. Melempar botol kosong ke arah pemain Malaysia beberapa saat lalu, jelas bukan salah satunya. 

Saya berharap banyak aksi-aksi fan tim di Piala Dunia lalu dapat memberikan ide bagi kelompok suporter di negeri ini, terutama pada para rival. Hingga kini masih banyak laga domestik yang selalu tersendat oleh faktor keamanan sehingga membuat sebuah kelompok suporter tak bisa mendukung timnya ketika tur tandang. 


Baca Juga :
- Sepak Bola Nasional: Antara Refleksi dan Eskploitasi
- HUT PSSI Ke-88 dan Anniversary Cup

Alangkah manis dan keren jika para rival membuat terobosan terlebih dahulu sebelum pihak keamanan bergerak. Misalkan, tiba-tiba Bonek menyambut Aremania di perbatasan Waru terus mengawal mereka memasuki tribune yang disediakan khusus untuk sang tamu. Atau, Jakmania membuat festival untuk menyambut Bobotoh yang datang ke Jakarta agar nyaman menikmati GBK baru. 

Harus didukung gerakan damai yang diusung para pentolan fan di indonesia. Tapi, sesungguhnya berbuat baik tidak harus menunggu perintah. Kita tidak butuh restu orang lain untuk berjabat tangan dengan Bonek, Jakmania, Bobotoh, Aremania atau siapa pun yang dicap sebagai rival. Rusia 2018 telah mengajari enaknya menonton pertandingan sepak bola tanpa harus khawatir tentang rute pulang supaya tidak dikeroyok suporter seberang. 
Jika kita, yang sama-sama bayar tiket, bisa saling menjaga, maka akan dengan mudah juga menagih prestasi tim kesayangan. Terutama tim nasional Indonesia.*Bagus Priambodo 

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA