#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Isu Utama Barca dan Pesan Nyata Liverpool
14 Agustus 2018 04:00 WIB
FC Barcelona berhasil merebut trofi Piala Super Spanyol setelah mengalahkan Sevilla FC, 2-1, pada pertandingan yang digelar di Tanger, Maroko, Minggu (12/8) malam. Dua gol Barca disumbangkan masing-masing oleh Gerard Pique dan Ousmane Dembele, setelah sebelumnya tertinggal dari gol Pablo Sarabia. 

Barca boleh saja sukses merebut trofi Piala Super Spanyol untuk kali ke-13 (terbanyak). Tetapi, laga melawan Sevilla sekaligus menunjukkan apa yang sebenarnya menjadi masalah utama Barcelona saat ini, lemahnya sektor striker yang malam itu ditempati sang pilihan utama, Luis Suarez. 

Semua serangan Barca yang mengarah ke tengah, hampir selalu gagal dimaksimalkan striker timnas Uruguay itu. Ujungnya, Barca harus memanfaatkan lebar lapangan, memfokuskan serangan dari kedua sisi sayap. Dembele dan bek sayap kiri Jordi Alba yang paling terlihat menonjol. Dembele sering masuk ke jantung pertahanan Sevilla dari sayap kiri sedangkan Alba tidak henti melepas umpan dari sisi luar. 


Baca Juga :
- Juara Piala Asia? Mengapa Tidak
- Giroud dan Morata, Dua Sisi Mata Uang Chelsea

Bagi Suarez, Piala Super Spanyol menjadi laga pertamanya di 2018/19 setelah liburan usai membela Uruguay di Piala Dunia 2018 lalu. Sebelumnya, publik berharap Suarez mampu langsung menggebrak pada pertandingan pertama bersama Barca karena waktu liburan yang lebih panjang. 

Namun, yang terjadi adalah pencinta Barca disuguhi penurunan performa Suarez. Bila jeli, tanda-tanda anjloknya performa Suarez sudah terlihat di 2017/18 yang berlanjut di Piala Dunia Rusia lalu. 

Suarez hanya mampu mencetak 31 gol dari total 51 kali dimainkan di semua ajang pada musim lalu bersama Barca. Bandingkan dengan 2016/17, 37 gol (juga dalam 51 laga), atau 2015/16 saat ia secara luar biasa mencetak 59 gol (53).  

Banyak yang meyakini, menurunnya performa Suarez belakangan tak lain karena posisinya yang lebih all-round, merancang serangan sekaligus penyelesai umpan alias finisher. Di Barcelona, unit penyerang harus mampu mendobrak pertahanan lawan lewat pergerakan yang tidak terduga, dribel cepat dengan rotasi pemain yang dinamis, serta operan-operan langsung yang tajam. 

Suarez sepertinya belum mampu bermain all-round seperti yang pernah dilakukan Neymar Jr. Ia tipe finisher namun kini kekurangan suplay bola matang dari belakang. Ketika diminta menjadi salah satu elemen pembangun serangan, striker 31 tahun itu tidak mampu. Barca sejatinya masih memiliki Munir El Haddadi dan Paco Alcacer. Tetapi, kepiawaian Munir di sayap juga diragukan. Sedangkan ketajaman Alcacer juga jauh di bawah Suarez. 

Yang menjadi pertanyaan, siapa pemain yang harus direkrut Barca jika Suarez dibuang atau tidak bisa dimainkan? Sejumlah nama pun muncul. Dari Liga Primer, muncul nama Roberto Firmino (Liverpool FC) dan Gabrel Jesus (Manchester City FC). Namun, dua penyerang Brasil itu masih nyaman di klubnya masing-masing. 

Opsi lainnya Timo Werner. Tetapi, striker RB Leipzig itu tidak mampu bermain melebar, salah satu syarat agar Lionel Messi bisa maju menjadi false 9 dalam serangan Barca. Los Azulgrana tidak bisa main-main dengan masalah strker ini karena Suarez diyakini akan terus mengalami penurunan. 

Bicara Liga Primer, kemenangan besar Liverpool atas tim tamu, West Ham United FC, 4-0, pada laga perdana di Stadion Anfield, tidak sekadar merebut tiga poin. Kemenangan fantastis itu sekaligus menjadi pesan The Reds siap menggebrak Liga Primer dan dunia. 


Baca Juga :
- Mereka yang Layak dan Tak Pantas Dijagokan Juara Eropa
- Profesionalitas di Atas Segalanya

Tanda-tanda itu bisa dilihat dari belanja pemain Liverpool yang terlihat jauh berbeda pada musim panas ini. Menjelang ditutupnya bursa transfer musim panas di Inggris, Kamis (9/8) pekan lalu, Liverpool menghabiskan sekitar 163 juta paun untuk mendatangkan dua gelandang, Naby Keita dan Fabinho, winger Xherdan Shaqiri, serta kiper Alisson Becker.
 
Kedatangan mereka diyakini sebagai upaya untuk mengatasi sejumlah masalah Liverpool sejak ditangani Juergen Klopp (per Oktober 2015). Pertama, karakter pemain yang tidak kuat dan itu memengaruhi performa di lapangan. Lalu ada masalah di pertahanan; kiper yang buruk, bek tengah rapuh dan bek kiri yang tidak mampu membantu serangan, serta seorang striker murni yang benar-benar tajam.
 
Kendati begitu, saat menghantam West Ham, berberapa masalah di Liverpool perlahan mulai teratasi. Kehadiran Keita membuat lini tengah Liverpool lebih berkarakter. Bergabungnya Shaqiri, Keita, dan Fabinho ke Anfield juga membuat Liverpool diyakini menjadi salah satu tim dengan lini tengah terkuat di Liga Primer. 

Fleksibilitas sejumlah pemain juga membuat Klopp memiliki lebih banyak opsi. Shaqiri bisa dimainkan sebagai gelandang nomor 8. Trent Alexander-Arnold diyakini bisa berevolisi dari full-back menjadi gelandang. Kombinasi Keita dan Shaqiri mungkin bisa menutupi perginya Philippe Coutinho (Barcelona). Fabinho? Permainannya diyakini di atas Emre Can (pindah ke Juventus FC) atau Adam Lallana yang musim lalu lebih banyak cedera karena menggantikan Alex Oxlade-Chamberlain.  
      
Liga Primer masih sangat panjang. Tetapi, bila Liverpool mampu konsisten – inkonsistensi juga salah satu masalah mereka – rasanya, gelar Liga Primer yang belum pernah mereka raih (saat terakhir juara di Inggris pada 1989/90, kompetisi tertinggi masih bernama Divisi Satu) bakal tinggal menunggu waktu.*Tri Cahyo Nugroho  
 

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA