#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Pembenahan Inter Terprogram dan Efisien
16 Agustus 2018 04:00 WIB
SALAH satu kompetisi elite Eropa, Seri A Italia, akan dimulai pada Jumat (17/8) besok. Seri A 2018/19 akan berbeda daripada sebelumnya. Salah satu faktor pembeda tentu kehadiran pemain sekaliber Cristiano Ronaldo yang dibeli Juventus FC dari Real Madrid dengan memakan anggaran total 117 juta euro. Kedatangan kapten timnas Portugal tersebut jelas menghentak klub-klub Seri A lain. Terutama mereka yang selama ini menjadi rival berat Juve. 

SSC Napoli, AS Roma, FC Internazionale, AC Milan, hingga SS Lazio, langsung bergerak sangat aktif di bursa transfer musim panas ini. Tetapi, di antara klub-klub tersebut, mungkin hanya Inter yang bisa dikatakan paling berhasil. Kini, mereka semakin mendekati Juve baik di dalam maupun luar lapangan. 

Pembelian Inter ada bursa transfer musim panas ini memang jauh di bawah Juve. Inter hanya menghabiskan 77,5 juta euro untuk enam pemain yang tiga di antaranya berstatus pinjaman. Bandingkan dengan Juve yang menggelontorkan hingga 256,90 juta euro hanya untuk tujuh pemain. 


Baca Juga :
- Liga Europa Cukup Pantas
- Drama Pogba Selanjutnya

Kendati begitu, pembelian Inter diyakini sebagai yang terbaik di antara klub-klub Seri A lain. Terbaik dalam arti pelatih Luciano Spalletti berhasil mendatangkan pemain yang benar-benar diperlukan namun masih sesuai dengan bujet yang disediakan. 

Radja Nainggolan, Lautaro Martinez, dan Stefan De Vrij misalnya. Urusan mencetak gol kini tidak lagi dibebankan kepada Mauro Icardi. Nainggolan, yang berposisi asli sebagai gelandang tengah tidak hanya berguna untuk memotong serangan lawan. Mencetak total 30 gol selama empat musim di Roma menunjukkan gelandang berdarah Batak itu juga produktif. Martinez juga menjanjikan untuk menambah ketajaman lini depan Inter. 

De Vrij matang pengalaman di Lazio. Ditambah bek sayap kanan sekelas Sime Vrsaljko, yang bermain impresif dengan membantu Kroasia melaju ke final Piala Dunia 2018, membuat Inter kini mampu membangun serangan dari bawah. 
Tahun lalu, bisa dikatakan Spalletti memulau dari nol dengan menghabiskan separuh musim untuk mencari skema permainan yang tepat sesuai dengan pemain yang ada. Setahun berikutnya, Inter memiliki identitas sendiri soal strategi dan diyakini lebih baik dibanding Roma maupun Napoli. Kini, dengan dukungan manajemen, Spalletti dan Inter siap meruntuhkan hegemoni Juventus di Seri A yang sudah berlangsung tujuh tahun terakhir.

Bicara pembenahan tim tentu tidak lepas dari anggaran. Menariknya, pembenahan di kuat Inter ternyata berbanding lurus dengan kondisi anggaran mereka. Neraca keuangan Inter mulai kembali sehat pada Juni 2016 lalu, ketika Suning Holdings Group mengakuisi 68,55 persen saham Inter. Grup raksasa asal Cina itu berinvestasi hingga 530 juta euro dalam berbagai bentuk. 

Inter memang beruntung mendapat suntikan dana segar dari Suning. Namun, itu diiringi kinerja manajemen yang sangat terporgram dan efisien. Ujungnya, utang tahunan I Nerazzurri turun dan kini hanya ada di 24,6 juta euro. Hebatnya, profit mereka naik signifikan. Setahun setelah akuisisi, Inter mengantongi laba 179 juta euro. Di tahun kedua, angka itu naik menjadi 274 juta euro. Saat ini, turnover Inter ada di angka 300 juta euro. 

Juventus kini memang menjadi klub Seri A dengan nilai jual tertinggi, yakni 776,5 juta euro. Nilai itu menempatkan mereka di peringkat ke-11 klub paling bernilai di dunia. Namun, Inter mampu berada di peringkat ke-13, tim kedua Seri A dalam daftar itu, dengan nilai tidak kurang 560,7 juta euro. 

Dari cabang sepak bola putra Asian Games XVIII/2018, Indonesia akhirnya dipaksa menelan kekalahan untuk kali pertama. Ironisnya, kekalahan 1-2 yang dialami timnas Indonesia U-23, kemarin, dialami dari tim yang sejatinya bisa ditaklukkan, Palestina. 

Keputusan pelatih Luis Milla mengistirahatkan tiga starter – bek kiri Rezaldi Hehanusa, gelandang Evan Dimas Darmono, dan striker Alberto Goncalves – dituding menjadi penyebab utama kekalahan semalam. Tanpa poin membuat langkah Indonesia lolos dari Grup A kian berat meskipun masih ada dua pertandingan lagi, melawan Laos pada Jumat (17/8) dan Hong Kong pada Senin (20/8). 


Baca Juga :
- Pelik untuk Liverpool
- Apa Selanjutnya, Persija…

Milla berdalih, waktu jeda pertandingan yang sangat dekat membuatnya memutuskan untuk mengubah komposisi starter. Pelatih dengan gaji Rp 2 miliar per bulan (sudah termasuk asisten) tentu memiliki pertimbangan matang mengapa mengambil keputusan itu. Alasan Milla adalah menyiasati stamina pemain U-23 Indonesia yang buruk. Dari situ, untuk mendapatkan pemulihan maksimal dalam waktu singkat, jelas sulit dicapai. 

Terlepas dari masalah-masalah di atas, kita tunggu saja apakah skuat U-23 Indonesia mampu memenuhi target menembus empat besar di Asian Games. Padahal, Milla sudah menyebut bukan tak mungkin melakukan rotasi di dua laga ke depan dengan hanya menurunkan pemain yang memiliki kondisi fit.*Tri Cahyo Nugroho
 

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA