#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Untung Lindswell Tidak Mengikuti Saran Saya
23 Agustus 2018 11:11 WIB
SIANG itu, tepatnya pada 7 Desember 2007 silam, seorang gadis manis bertubuh mungil sedang berlatih giat di depan gedung Kepkanchana Hall, Chanaphonlakhan Institute of Technology, Nakhon Ratchasima, Thailand. Itu merupakan tempat digelarnya cabang wushu pada pentas multicabang SEA Games 2007. 

Kebetulan, saya ketika itu juga sedang menuju gedung tersebut untuk menjalankan tugas jurnalistik dari tempat saya bekerja, Harian Olahraga TopSkor. Melihat sosok gadis remaja berwajah oriental itu, naluri jurnalis—sekaligus naluri lelaki—pun muncul. Saya mengajaknya berkenalan.

“Saya Lindswell Kwok, dari Medan,” begitulah ia memperkenalkan dirinya. Usia Lindswell saat itu baru 16 tahun. Ia dilahirkan di Binjai, Sumatra Utara, 24 September 1991.

Masih sangat muda, namun ia begitu yakin akan kariernya pada cabang olahraga asal Negeri Tiongkok itu. Padahal, dengan modal wajah oke dan kemampuan seni bela diri, bisa saja ia beralih peran ke dunia akting, misalnya.

“Saya tidak ada bakat jadi aktor. Jet Lee memang dulunya atlet wushu, tapi di Cina kan industri film laga sangat berkembang. Wajar kalau ia sukses jadi bintang film. Lagi pula ini SEA Games pertama saya, akan mengesankan kalau saya dapat medali,”  ujarnya.

Dan memang, ketika itu tidak ada sekeping medali pun yang diraih Lindswell dari nomor yang diikutinya, Taijiquan (seni gerak) putri. Indonesia menyabet satu emas melalui Fredy pada nomor Taijiquan putra.

Sisanya lima perunggu dari Andrie Mulianto (Changquan putra), Andrie Herianto (Nanquan putra), Susyana Tjhan (Changquan putri), Prayitno, dan Youne Victorio Senduk (Sanda putra).

Lindswell sendiri masih anak bawang. Tapi, dalam hati saya tetap yakin, ia bakal bersinar pada masa mendatang. Apalagi sebelum tampil pada pentas SEA Games 2007, ia sudah punya bekal menempati peringkat keempat nomor yang sama pada Kejuaraan Dunia Wushu di Beijing, Cina, November 2007.

Juga, meraih perunggu Kejuaraan Dunia Junior, Kuala Lumpur 2006. Benar saja, setelah itu, emas demi emas mengalir dari keluwesan dan keindahannya dalam memeragakan jurus-jurus Taijiquan. Semua bermula dari Kejuaraan Dunia Junior 2008 di Bali.

Setelah itu, lima medali emas diraihnya pada Kejuaraan Dunia Wushu level senior. Masing-masing pada 2009 (Toronto), 2013 (Kuala Lumpur), dua emas dari nomor Taijiquan dan Taijijuan pada 2015 (Jakarta), dan satu lagi pada 2017 (Kazan).

Untuk ajang SEA Games, Lindswell-lah ratunya. Gadis yang masuk jajaran 10 atlet tercantik SEA Games 2017 itu jadi yang terbaik sejak 2011 hingga 2017. Artinya, total empat medali emas SEA Games berhasil disabetnya. Belum termasuk berbagai medali yang diraih pada berbagai kejuaraan nasional dan internasional.

Lindswell Kwok di SEA Games 2007 - Foto: TopSkor/Kunta Bayu Waskita

Tanpa mengecilkan peran pelatih, tentunya semua prestasi itu didapat Lindswell berkat ketekunan, kedisiplinan berlatih, plus bakat yang dimilikinya sejak kecil. Terutama saat ikut pemusatan latihan selama empat bulan di Cina sebelum tampil di Asian Games 2018 Jakarta-Palembang. Rasa lelah dan jenuh tidak dihiraukan.

Maklum,  Lindswell ingin menuntaskan penasarannya mengalungi medali emas Asian Games untuk kali pertama dan terakhir. Ia sejak jauh hari memang menyatakan ingin mengakhiri karier dengan manis di Asian Games 2018. Asa itu pun tergapai saat berlaga pada nomor Taijiquan putri di Jakarta, Senin (20/8).  

Beruntung, saya pun kembali menjadi saksi sukses Lindswell pada akhir kariernya saat meliput cabang wushu di JI Expo Kemayoran, Jakarta, itu.“Sudah cukup, setelah ini saya mau istirahat. Belum tahu mau ngapain, tapi yang jelas saya tetap tidak bisa lepas dari wushu yang saya tekuni sejak kecil,” ujarnya saat dikerumuni wartawan.

Sosoknya masih ramah dan bersahaja. Bedanya, Lindswell kini sudah jadi bintang. Gadis 26 tahun ini terlihat kewalahan melayani media yang ingin mewawancarainya dan mengambil gambar seusai pengalungan medali.

Lindswell Kwok di Asian Games 2018 - Foto: TopSkor/Kunta Bayu Waskita

Tidak mudah pula untuk sekadar mengobrol dan mengambil foto seperti yang saya lakukan 11 tahun silam di Thailand. Apalagi selain panitia, ada petugas lain yang mengawalnya di mixed zone.

Dan tentu saja, putri pasangan Tjoa Eng Hing dan Nuraini ini sudah lupa sosok “om-om” yang pernah iseng mewawancarainya dulu. Well done, Lindswell! Senang rasanya menjadi saksi pada awal dan akhir kariermu.

Untung kamu tidak mengikuti saran saya dulu untuk menjadi aktor. Indonesia akan mengenangmu sebagai legenda. Kamu juga jadi inspirasi bagi generasi muda yang ingin menggapai prestasi di bidang apa pun.*

BERITA TERKAIT

news
Nyaman di Harian TopSkor, Mantap di TopSkor.id
Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA