#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Beli Sepatu Bola di Pasar Loak
19 September 2018 23:53 WIB
PENGALAMAN membela timnas Indonesia walaupun hanya 12 menit saat mengungguli Mauritius 1-0 di Bekasi, 11 September lalu. menjadi kenangan tersendiri bagi striker 'kampung' Arema FC, Dedik Setiawan. Bagaimana tidak, impiannya bisa mengenakan jersey timnas sudah ada dalam dirinya sejak kali pertama (usia delapan tahun) meniti karier di SSB Dampit FC, Kabupaten Malang (2002) yang jaraknya 40 kilometer dari Kota Malang.

“Di kampung saya di pelosok Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, di Desa Jambangan ada dua impian setiap pemain sepak bola yaitu bermain untuk Arema dan baru timnas Indonesia,” ucap Dedik.

Dedik menambahkan pesepak bola di Dampit meyakini kalau sudah bisa masuk Arema, maka jalan ke timnas kian terbuka lebar. Ya bagi kami di kampuong, Arema sama seperti pintu gerbang ke timnas,” ujar Dedik.


Baca Juga :
- Kisah Kurus, Susah Makan, dan Kurang Gizi
- Kisah Kurus, Susah Makan, dan Kurang Gizi

Dikisahkan, saat masih kecil, sepulang sekolah Dedik terlebih dahulu harus bekerja di kebun jeruk dan menyangkul sawah untuk sekedar menambah uang belanja kedua orangtua dan membeli keperluan sepak bola, termasuk sepatu bola meski beli di pasar loak di Malang seharga Rp 50 ribu.

Setelah masuk Metro FC, Dedik akui baru bisa membeli sepatu bola di toko walaupun kualitas kelas bawah. Barulah setelah gabung Arema, dia bisa merasakan pakai sepatu bola bagus dan bermerek.

Penyerang kelahiran 27 Juni 1994 itu pun bergabung dengan Arema terbilang mendadak. Arema harus menambah stok pemain lokal pada paruh musim kompetisi Indonesia Soccer Championship A 2016.

Dalam laga uji coba pertama bersama Arema, pelatih Milomir Seslija melihat bakat besar pada diri Dedik. Meski hanya sempat tampil tiga kali dalam 83 menit, namun Dedik mampu bersaing dengan striker Arema Gustavo Giron. Dia hanya kalah pengalaman dengan striker gaek Cristian Gonzales yang menjadi pilihan utama di lini depan tim Singo Edan.

“Sebagai pesepak bola mental saya sudah terlatih dengan kondisi kehidupan, ekonomi, dan geografis yang serbasulit di Malang Selatan. Bahkan latihan pun di lapangan seadanya, bisa di lahan sawah kosong yang tidak rata tanahnya hingga jalan kaki berkilo-kilo meter dari rumah ke lapangan,” ucap Dedik.
 
Menurutnya, kehidupan keras itu secara tidak langsung juga menempa fisik dan mental pemain-pemain dari Malang Selatan lainnya, seperti Benny Wahyudi, Sukasto Effendy, Ahmad Alfarizi, Syaiful Indra Cahya, Junda Irawan, hingga Dendy Santoso. Termasuk tiga pemain idolanya yang juga berasal dari Malang Selatan: Aji Santoso, Syamsul Arifin, dan Suharsoyo (mantan kiper timnas era 1970-an). “Selain mereka pemain jempolan, juga sebagai simbol kebangkitan kehidupan ekonomi kami di Malang Selatan lewat sepak bola,” Dedik.

Kini, setelah bermain di liga profesional, kondisi perekonomian keluarga Dedik pun meningkat. “Alhamdulillah setelah gabung Arema, rezeki dari Allah terus mengalir, bisa membeli tanah, sawah, membangun rumah di kampung, dan dapat pekerjaan di PDAM Pemkab Malang. Termasuk bisa kuliah, yang hanya mimpi bagi saya ketika masih kecil,” ucap mahasiswa semester akhir IKIP Budi Utomo Malang ini.

Sementara itu asisten pelatih Arema Kuncoro menilai Dedik merupakan striker dengan kualitas komplet. Sebagai striker Dedik punya kecepatan, powerful, sedikit nakal, dan bertipikal keras khas Malang Selatan.


Baca Juga :
- Alhadji Kuasai Skill Kiper Sampai Striker
- Pesan Fakhri Husaini untuk TSI

“Justru striker seperti itu sudah langka, tapi dibutuhkan tim, baik Arema maupun timnas. Dia seperti elang, melihat celah peluang baru menukik dan menyerang. Meski dia produk sepak bola kampung, tapi jenjang karier dia jelas, mulai SSB, junior, remaja, hingga tim amatir, hingga profesional, termasuk tim Pra-PON Jawa Timur,” ucap pria yang juga asal Malang Selatan itu.*Noval Luthfianto

 

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA