#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Zverev Juara, Berkah Bagi Dunia Tenis Pria, Mengapa?
19 November 2018 18:45 WIB
LONDON - Alexander Zverev menjadi juara ajang ATP Finals 2018. ATP Finals tahun ini juga menjadi ajang penutup musim tenis 2018.

Zverev berhasil mengalahkan Novak Djokovic di final yang diselenggarakan pada Senin (19/11) dini hari tadi. Petenis berusia 21 tahun itu mengalahkan 'The Djoker' dengan dua set langsung.

Tentu saja, kekalahan Djokovic menjadi kekecewaan yang mendalam bagi sebagian besar fan tenis dunia. Tapi, di balik kekalahan yang mengecewakan ini, atlet tenis, terkhusus petenis-petenis pria, patut merasa senang. Mengapa demikian?


Baca Juga :
- Federer Seperti Messi, Nadal Mirip Ronaldo
- Guardiola: Perebutan Gelar Juara Liga Inggris seperti Nadal, Federer dan Djokovic

Kepopuleran tenis di dunia olahraga jelas kalah jauh dari cabang lain seperti sepak bola dan basket. Di Indonesia sendiri, walaupun memiliki atlet dan basis fannya, tetap saja tenis masih kalah dari olahraga raket lain, yakni bulutangkis.

Kemudian, jika berbicara mengenai tenis, fan dengan mudah akan menjawab bahwa tenis wanita lebih seru ketimbang ajang tenis pria, mengapa? Alasannya sederhana.

Minimnya juara dan petenis unggulan yang variatif inilah yang menyebabkan ajang tenis pria kurang diminati oleh penonton. Satu petenis bisa mendominasi beberapa turnamen besar. Jika dalam setahun ada 4 Grand Slam, 2 atau 3 di antaranya bisa dimenangkan oleh 1 petenis.

Kemudian, minimnya wajah baru di tenis pria lantaran petenis-petenis veteran yang kemampuannya tak kunjung menurun. Petenis-petenis pria muda berpotensi selalu dihadapkan pada ujian berat, yakni mengalahkan pencapaian senior mereka.

Petenis-petenis seperti Novak Djokovic, Rafael Nadal, Andy Murray dan tentunya Roger Federer, mereka telah memasang standar tinggi untuk para petenis muda pria.

(The Big Four dalam dunia tenis, Andy Murray, Novak Djokovic, Roger Federer, Rafael Nadal)

Berbeda dengan ajang tenis wanita yang selalu melahirkan nama-nama baru. Sebut saja kemunculan mengejutkan Eugenie Bouchard di tahun 2014.

Saat itu, petenis asal Kanada ini masih berusia 19 tahun, dirinya menembus babak semifinal Australia Terbuka. Di akhir tahun yang sama, dirinya lolos ke WTA Finals di Singapura, bergabung dengan nama-nama besar seperti Serena Williams, Maria Sharapova, Agnieszka Radwanska dan Ana Ivanovic.

Jika ingin berbicara petenis muda wanita berbakat dalam kurun waktu 1 tahun terakhir, nama Naomi Osaka dan Marta Kostyuk menjadi contohnya.

Petenis Jepang, Naomi Osaka, merupakan jawara Amerika Terbuka 2018. Amerika Terbuka merupakan salah satu dari 4 ajang Grand Slam. Kemudian, Marta Kostyuk merupakan petenis asal Ukraina yang lolos ke babak ketiga Australia Terbuka 2018.

Lalu, apa yang membuat hal tersebut menjadi spesial? Dia hanya lolos ke babak ketiga kok. Ya, Marta Kostyuk lolos ke babak ketiga Australia Terbuka, salah satu ajang Grand Slam, di usianya yang masih 15 tahun. Terakhir kali petenis seusianya lolos ke babak ketiga dalam ajang Grand Slam adalah pada 1997 silam. Kala itu, petenis asal Kroasia, Mirjana Lucic-Baroni lolos ke babak ketiga Amerika Terbuka.

Tentu, dengan banyaknya pencapaian dan wajah baru yang lebih kompetitif dan berprestasi, membuat tenis wanita lebih diminati oleh fan. Mereka juga bisa menjaring fan-fan baru dengan menjadikan petenis-petenis muda wanita idola.

(Marta Kostyuk menggamparkan dunia tenis di awal tahun ini)


Baca Juga :
- Juara Baru! Zverev Kalahkan Djokovic di Final ATP 2018!
- Kejutan, Djokovic Dipatahkan Petenis Berusia 21 Tahun

Sedangkan di sektor pria, nama-nama petenis muda berpotensi meredup lantaran prestasi dan standar tinggi yang dipasang oleh petenis-petenis dominan. Ada yang tahu Grigor Dimitrov? Atau mungkin Nick Kyrgios? Gael Monfils? Itulah beberapa nama petenis-petenis yang dulunya dicap sebagai bocah ajaib, namun sekarang menjadi juara saja sulit untuk mereka, karena selalu kalah saing dengan 3 raja tenis, Djokovic, Nadal dan Federer.

(Grigor Dimitrov (kiri) sempat dicap sebagai The Next Roger Federer)

Kemenangan Alexander Zverev di ajang ATP Finals 2018 kontra Novak Djokovic ini menjadi angin segar bagi dunia tenis pria. Petenis asal Jerman berusia 21 tahun itu telah memutus tradisi juara petenis-petenis yang sudah uzur. Petenis yang kerap dipanggil 'Sacha' ini seakan menegaskan bahwa mulai dari sekarang dan tahun depan, pemain-pemain mudalah yang akan mendominasi dunia. Patut ditunggu nama-nama baru yang akan merangsek masuk ke papan persaingan tenis tahun depan. ***

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA