#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Lagu Lama
03 Desember 2018 04:25 WIB
AIR mata menetes dari para guru honorer yang sedang menuntut kejelasan nasibnya. Setelah sekian lama menjadi tenaga pengajar tidak tetap dengan gaji yang membuat hati tersayat mereka tetap tidak dipertimbangkan untuk diangkat sebagai pegawai negeri...

Demikianlah sebagian dari narasi berita yang terdengar dan saya pahami malam itu. Pikiran langsung teringat akan sosok Danurwindo, beberapa saat sebelumnya kami bertemu ketika menyaksikan latihan timnas Indonesia jelang melawan Filipina. Dalam profesi ini, bila berjumpa dengan sosok seperti Om Danur seharusnya hal biasa saja. Tapi tidak bagi saya, dulu ketika masih kecil hanya bisa melihat beliau di lembaran koran atau di stadion ketika membawa Arseto berkunjung ke Surabaya. Kini kami saling berbincang renyah seputar sepak bola, gimana ga seneng banget.

Om Danur seringkali dijuluki sebagai sang profesor, ilmu sepak bolanya banyak dan tebal. Beliau juga update dengan perkembangan sepak bola modern dan filosofinya sangat kuat, walau terkadang hasil racikannya tidak selalu sesuai dengan harapan.


Baca Juga :
- A Cup of Hope
- Piala Dunia dan Sepak Bola Indonesia

Sore itu yang saya ingat dia bercerita baru saja bertemu Dennis Wise di sebuah acara dan mendapat pencerahan baru seputar filosofi sepak bola modern. Om Danur memiliki prinsip bahwa main bola itu harus moving forward, begitu dapat bola langsung bergerak ke depan. Namun Dennis yang pernah menjadi kapten Chelsea itu melengkapi filosofi beliau dengan menambah kata look. “Jadi Gus....begitu kamu terima bola, look...lihat ke depan, kamu cerna, lalu suruh otot-ototmu untuk bergerak ke depan. Jadi bukan gerak dulu baru mikir....”, ujarnya penuh semangat

Butuh Knowledge
Sepak bola modern menuntut pemain berpikir sangat cepat sebelum memainkan si kulit bundar, maka para pemain butuh Knowledge. Om Danur kemudian dengan semangat 45 menuturkan betapa pentingnya kita memiliki banyak pelatih berlisensi yang berkualitas, untuk membantu sisi knowledge para pemain. Untuk melahirkan pelatih berkualitas tidak sekadar sering mengadakan kursus , tapi juga harus mencetak Instruktur Pelatih yang mumpuni. Masih menurut beliau, hal ini tak bisa ditunda lagi. Harus menjadi prioritas dan tetap berjalan walau hasil yang dipetik baru akan terasa beberapa tahun ke depan. Selama satu setengah tahun terakhir, secara kuantitas jumlah pelatih berlisensi di Indonesia sudah bertambah. Mereka yang menjadi instruktur sudah mau berbagi dalam kursus D Nasional kepada mereka yang membutuhkan, termasuk kepada guru-guru olahraga.
Ini bentuk usaha yang patut diapresiasi dan didorong agar lebih banyak lahir “guru-guru” di sepak bola, sehingga kemungkinan untuk memutar lagu lama setiap tahunnya mengecil.

Jadilah Guru
Everybody is a teacher, and we all are student...
Tidak hanya pelatih atau instruktur, sesama pemain adalah guru dan murid, sesama suporter adalah pengajar dan pendengarnya, pengurus dan pemain tidak ada yang lebih tinggi dalam hal belajar. Kita semua berada di level yang sama ketika sedang belajar ilmu sepak bola, satu hal yang pasti seorang guru harus bisa digugu dan ditiru.

Apabila kita melakukan interaksi ini dengan benar maka probabilitas untuk memutar lagu lama berkurang, karena kita ingin kreatif. Prestasi sepak bola nasional pada tahun 2018 awalnya dibangun dan direncanakan dengan cukup baik. Misalkan dengan menjadi tuan rumah berbagai kegiatan AFF, membuat kegiatan sepak bola nasional di berbagai skala berjalan lebih cepat. Mulai Piala AFF U-15, Sepak bola wanita, Futsal hingga Piala AFF.

Namun beberapa keputusan sangat berisiko seperti dengan memberikan prioritas lebih kepada timnas U-23 yang turun di Asian Games, akibatnya agenda timnas senior terabaikan. Saya sejak awal tak sepakat Asian Games menjadi tujuan, seharusnya Pra-Piala Asia U-23 lebih diprioritaskan karena masih sejalan dengan agenda resmi FIFA.

Hasilnya memang miris, di Asian Games tim nasional tidak mencapai target dan kemudian timnas senior yang tidak menggunakan kalender FIFA dengan optimal juga tampil mengecewakan di Piala AFF. Padahal Piala AFF baru saja dirangkul oleh FIFA sehingga nilai setiap laga akan berpengaruh besar di peringkat dunia.

Ketidakberanian PSSI
Kecaman dan caci maki kepada PSSI langsung keras berkumandang, sampai hastag #edyout menjadi tren di media sosial. Lagi-lagi ini sebuah lagu lama yang diputar.

PSSI seolah tak bosan dengan kaset lawas terkait persiapan, jadwal timnas dan kompetisi yang tak jua akur hingga perkara pemilihan pelatih timnas. Padahal di level usia dini rencana berjalan relatif lancar, tapi tidak di level senior. Saya melihat ada ketidakberanian dari PSSI dalam membuat rencana. Sampaikan saja ke publik target jangka panjang, menengah, dan pendek. Menjuarai setiap turnamen yang diikuti tidak membuat para pengurus terlihat pintar juga. Dalam kasus tim nasional saya malah berharap Bima atau siapapun yang ditunjuk mendapat durasi 3-4 tahun, dan menjadikan peringkat FIFA sebagai tolok ukur. Dengan demikian jatah pertandingan tim senior tidak akan diambil oleh “adik-adik”nya.

Sementara untuk tim nasional kelompok usia maka tugas utama adalah mencetak banyak pemain yang memiliki pengalaman berbaju merah putih, Piala AFF U-15 yang berlangsung setiap tahun adalah wadahnya. Gelar juara di level ini sesungguhnya hanya bonus semata dan digunakan untuk meningkatkan kualitas diri, bukan akhir dari perjalanan mereka. Karena selepas mereka bermain di tim nasional U-19 maka tantangan sesungguhnya telah menanti, mampukah mereka bersaing di dunia nyata.

Jangan Habiskan Energi
Hmmm lalu bagaimana dengan isu suksesi yang mulai digaungkan? Lagi-lagi bagi saya itu lagu lama yang suaranya sudah mulai mbleyot....

Sejak 2010, berapa KLB sudah terjadi dan ujung-ujungnya hanyalah bagaimana ada Ketua Umum (Ketum) baru yang muncul sebelum masa kerja Ketum lama berakhir. Lalu, apa hasilnya dari cerita-cerita suksesi tersebut? NOL!

Aksi “kudeta” ini hanya membuat pengurus PSSI yang sedang bekerja jadi punya alasan untuk tidak menyelesaikan tugasnya, kenapa ? karena sedang menyusun KLB seperti yang diminta. Sebaiknya dorong saja mereka lebih keras bekerja dan menyelesaikan PR yang tadinya dijanjikan akan tuntas.

Misalkan timnas dan kompetisi. Idealnya kompetisi dan jadwal pelatnas tidak bertabrakan. Namun harap diketahui betapa rumitnya membuat jadwal liga di negeri ini, pertama ada bulan Ramadhan yang membuat pertandingan berjalan lebih malam. Yang kedua ada bulan-bulan Pilkada atau Pilpres, ini seringkali memaksa izin pertandingan tak bisa keluar. Perlu dibuat terobosan bersama dari PSSI, Kemenpora serta kepolisian agar jadwal liga tak terganggu sama sekali. Jadwal timnas pilih yang pasti-pasti saja, memaksimalkan jadwal pertandingan FIFA itu sudah paling benar. Sementara untuk timnas kelompok umur seharusnya tidak menjadi masalah klub, khan tujuannya pembinaan bukan gelar.

Atau kalau mau ekstrim tabrakin aja jadwal pelatnas dan kompetisi seperti di Brasil dan sebagian negara Amerika Latin. Dengan demikian setiap klub harus punya dua hingga tiga lapis pemain dengan kualitas setara, sehingga tidak khawatir saat ditinggal sejumlah pemain ke timnas.

Kemudian ada isu match fixing yang selalu menjadi komoditas suksesi. Beberapa indikasi sepertinya membenarkan hal ini adalah realita, lalu kenapa tak dibereskan ? Lagi-lagi tak bisa sendirian membereskan ini, karena kalau PSSI punya aparat keamanan sendiri lebih aneh donk. Kembali Trisula Maut (PSSI, Kemenpora, Kepolisian) harus bekerjasama dengan baik. Jika perlu ajukan undang-undang khusus untuk memberantas mafia pengaturan skor, Singapura punya perangkat ini lho.


Baca Juga :
- Game Changer
- Sepak Bola Nasional: Antara Refleksi dan Eskploitasi

Nah sekarang kita nih yang harus milih, gak semua lagu lama itu enak didengar....gak semua masa lalu patut mendapatkan kesempatan kedua lho. Daripada energi dan pikiran dihabiskan untuk memenuhi syahwat politik di sepak bola, kenapa tidak tuntut para “pemilik saham bal-balan” untuk bekerja lebih keras dan lebih benar. Siapa saja sang pemilik saham? PSSI, Pemerintah, Kepolisian dan...Kita! Iya.....kita!*Bagus Priambodo

 

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA