#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Nama Jalan untuk Garcia
29 December 2018 04:19 WIB
PABLO Gabriel Garcia Perez, pemain yang terkenal dengan rambutnya yang gondrong dengan pengikat kepala ini tak disangka menjadi legenda sepak bola Yunani, di PAOK FC. Pernah berkiprah di 11 tim selama karier, Pablo membuat pilihan untuk setia mengakhiri kariernya sebagai pesepak bola yunani.

Kariernya mulai terlihat melonjak saat ia berkostum Osasuna pada musim 2002/05. Sebagai pemain bertahan, Pablo dikenal dengan kedisiplinan serta kepemimpinannya yang baik dilapangan. Selama tiga musim bersama Osasuna, dalam 78 penampilan ia berhasil menyumbangkan 6 gol.

Bermain dengan baik dalam musim terakhirnya bersama Osasuna membuat Pablo menjadi pemain Real Madrid pada musim berikutnya. Pablo Garcia melewatkan musim pertamanya bersama Real Madrid dengan 25 penampilannya. Nahasnya setelah Fabio Capello datang menjadi pelatih baru Madrid, Pablo seakan terpinggirkan dan dipinjamkan ke Celta Vigo.


Baca Juga :
- Indra Sjafri Mantu, Berikut Doa dari Menpora
- Ali Daei Berkibar dengan Daei Sport

"Saya tidak pernah merasa nyaman di Madrid, kehidupan di sana terlalu glamor, dan tentu saya tidak akan seperti itu," kata Pablo. Masuk 2008 adalah masa kembali bangkitnya Pablo sebagai pemain yang kuat dan patut diandalkan. Klub yang dituju berasal dari negara Yunani yaitu PAOK.

Sebelum bermain di klub tersebut, Pablo mengungkapkan merasakan kehangatan penggemar dan suasana di sana.  “Saya suka kota kecil , tanpa kepadatan lalu lintas, dan rasanya saya akan menjalankan karier sepak bola yang berbeda, tetapi bermain di Madrid adalah pengalaman yang hebat," ujar mantan pemain AC Milan itu.

Benar saja setelah bermain bersama PAOK sejak 2008, ia menjadi simbol pemain yang sangat dipuja penggemar. "Di sini, mungkin setelah era Osasuna, saya kembali merasa lebih baik sebagai pemain, saya merasa dihargai dan diterima oleh orang-orang di sini," ujar Pablo.

Pablo merasa kepindahannya ke klub yang terbilang kecil ini sangatlah berharga baginya. "Saya tidak pernah membayangkan bahwa karier saya akan berakhir di sini, tetapi ini sebuah perjalanan, keluarga saya baik-baik saja dan merasa nyaman."

Dengan dedikasinya yang sudah bertahan dan membela PAOK hingga lima musim. Pablo Garcia mendapatkan penghargaan sebuh nama jalan di Thessaloniki salah satu kota Yunani yang dinamai persis dengan namanya. Nama jalan Pablo Garcia ini juga sebagai simbol bagi markas besar para penggemar PAOK di kota itu
Selain itu sejak 2015 hingga kini, Pablo juga di percaya sebagai salah satu pelatih bagi tim usia muda PAOK FC. Ia dipercaya menciptakan bibit-bibit muda yang dapat bersaing di kancah Eropa. Sejatinya, Pablo sempat mendapat tawaran untuk melatih langsung tim utama PAOK FC.

Namun, Pablo menyadari bahwa kapasitas yang dimiliki belum cukup untuk melakukan tugas tersebut. "Saya tidak ingin terburu-buru melatih tim pertama dahulu, saya harus sabar, saya masih ingin mencari pengalaman, mendapatkan gelar resmi sebagai pelatih, barulah kemungkinan dapat mengemban tugas itu,” katanya. *CR6


Momen dengan Timnas
PABLO Garcia lahir di Pando, Uruguay pada 11 Mei 1977. Pria yang kini berusia 41 tahun tersebut mengawali kariernya di Montevideo Wandrerers. Sebagai bek dan gelandang bertahan, Pablo Garcia salah satu pilihan timnas Uruguay dalam ajang besar seperti Piala Amerika 1999 dan Piala Dunia 2002.

Dengan timnas Uruguay, dia mengalami dua poin yang berbeda. Momen manis ketika melepaskan tembakan yang keras dari luar kotak penalti lawan Venezuela pada perempat final Piala Amerika 2007. Namun, dalam laga semifinal lawan Brasil, Pablo Garcia justru gagal mencetak gol dari penalti.


Baca Juga :
- Sukses Mia lewat Winner Never Quit
- Johan Halls : Dari Arsenal hingga Catwalk

66 Laga dengan timnas Uruguay
2 Gol

 

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA