#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
news
Yohan Mulia Legowo, The Ice Man Buktikan Usia Sekadar Bilangan Angka
02 March 2019 16:08 WIB
JAKARTA - Anggapan kalau usia hanya bilangan angka saja, menemui kenyataan bila kita melihat keberadaan atlet MMA dari Indonesia, Yohan Mulia Legowo. "The Ice Man" begitu julukannya, tetap prima dan kuat di usianya yang sudah 38 tahun.

Di usianya itu sekarang "The Ice Man" masih bertarung di level kompetitif. Bersaingan dengan atlet yang usianya jauh ada di bawah.

Yohan Mulia Legowo kali ini akan bertarung dalam ajang ONE: Reign of Valor di Thuwunna. Ajang di Myanmar itu berlangsung pada 8 Maret 2019. Di sana ia dijadwalkan menghadapi petarung tuan rumah, Phoe Thaw alias "Bushido".


Baca Juga :
- 'Papua Badboy' Bangga Sekaligus Kecewa Persembahkan Medali Bagi Indonesia
- Stefer Rahardian Tatap 2020 dengan Penuh Asa

Itu merupakan kali pertama "The Ice Man" kembali bertarung setelah terakhir unjuk kebolehan pada Januari tahun lalu. Sekarang demi mendapatkan kualitas bertarung yang maksimal, Yohan Mulia Legowo terus mengasah kemampuan grapling sekaligus fisik. Ini supaya lolos tes medis untuk main di kelas ONE Featherweight.

Sosok kelahiran Magelang ini merupakan salah satu atlet Indonesia paling senior di ONE Championship. Organisasi beladiri terbesar di dunia. Perjalanan "The Ice Man" dimulai 5 tahun lalu bersama ONE. 

Meski mengaku sudah tidak lagi seeksplosif satu dekade lalu, The Ice Man pantang menyerah. Dia percaya tetap menjadi lebih baik setiap harinya, prinsip yang menjadi kunci dibalik penampilan primanya.

“Semua tergantung rutinitas, dalam arti saya senang berlatih setiap hari bukan semata-mata karena akan bertanding saja. Ada yang berlatih hanya karena mau bertanding saja, dimana hal ini dapat membuat kondisi tidak stabil,” tuturnya.

Menurutnya, latihan rutin adalah kunci keberhasilan untuk menjaga kondisi tubuh. Apalagi, usianya sekarang ini mengharuskannya untuk tetap berlatih setiap hari. Dalam seminggu, hanya sehari dia lalui tanpa berlatih – yang dilakukannya untuk beristirahat dan meregangkan otot.

“Usia di atas 35 tahun kalo kendor sedikit bisa bikin fisik drop. Latihan buat saya sudah menjadi watak, seperti halnya penyanyi yang bernyanyi bukan karena mau ikut lomba,” ujar pendiri Han Academy ini.

“Untungnya, kondisi disekitar sasana latihan sangat mendukung.”

Dengan semakin berkembangnya sport science untuk mengukur dan meningkatkan kemampuan atlet, kedisiplinan menjaga kondisi tetap merupakan faktor utama dalam menjaga performa.

“Negara-negara lain sudah sangat maju dalam menerapkan sport science, namun itu bukan satu-satunya faktor kesuksesan,” sebutnya.

“Saya sempat melatih selama 3 bulan di Singapura sekitar tahun 2011, dan yang membuat saya takjub adalah kedisiplinan mereka dalam latihan. Buktinya sekarang atlet mereka sangat maju.”

Meski mampu tetap menjaga kondisi di usia tak lagi muda, bukan berarti Yohan tak pernah melalui masa kelam. Dirinya sempat dilanda cedera patah tangan pada tahun 2007 lalu, dimana ia mau tak mau absen dari pertandingan dan latihan selama lebih dari enam bulan.


Baca Juga :
- Sam-A Gaiyanghadao dan Alaverdi Ramazanov Juara Dunia Baru
- Zhang Chenlong Berambisi Pukul KO dan Jadi Juara Dunia di Malaysia

Namun, cedera tersebut tidak membuatnya patah arang. Ia bangkit dari keterpurukan dan mampu kembali menciptakan kemenangan demi kemenangan. Saat ini, dia tercatat telah meraih delapan kemenangan dan tujuh kekalahan sejak terjun ke ajang MMA profesional.

Namun, Yohan berkata bahwa angka kemenangannya jauh diatas itu, hanya saja beberapa pertandingan tidak tercatat secara resmi.*

loading...

BERITA TERKAIT

Penulis
news
Penggemar semua cabang olahraga. Asli Yogyakarta, KTP Sleman, tinggal di Jakarta.
Total Komentar 0
Tulis Komentar +
news
ARTIKEL SEBELUMNYA