#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Selebrasi pun Ada Etikanya
18 March 2019 04:12 WIB
JAKARTA - Kompetisi sepak bola usia muda seperti Liga Hansaplast TopSkor (LHTS) U-13 merupakan wadah atau tempatnya untuk belajar. Semua elemen yang terlibat di dalamnya, seperti perangkat pertandingan, pemain, pelatih, dan juga para orangtua, bisa memetik banyak pelajaran dan juga pengetahuan.

Orangtua seorang calon atlet harus tahu posisi dan porsi mereka sebagai ujung tombak perkembangan anak dalam mengejar cita-citanya. Mereka hanya perlu memotivasi dan menjaga gaya hidup anak-anak supaya tetap berada di jalur menuju prestasi. Tidak perlu mereka memaksakan ambisi melebihi kemampuan sang anak.

“Paling penting orangtua harus tahu tahapan dari pembinaan. Di kategori usia 13 tahun, pemain jangan terlalu dibebani dengan hasil akhir. Biarkan mereka berkembang sesuai usianya. Orangtua harus bersinergi dengan pelatih dan tidak bisa jalan sendiri-sendiri," kata Yayat Supriatna, pelatih ASIOP.


Baca Juga :
- Final Gothia Cup di Momen Kemerdekaan, TopSkor Indonesia Siap Kalahkan Australia
- Detik-detik Menuju Semifinal, Skuat TSI Dikumpulkan dalam Satu Ruangan, tadi malam

Terkhusus bagi pemain dan juga pelatih usia dini yang terlibat, sikap fair play dan respek adalah dua kata yang tak bisa ditoleransi dalam berkompetisi. Di olahraga apapun, dalam berkompetisi, memang target yang ingin dicapai adalah kemenangan. Namun perlu ditanamkan pula proses untuk mencapai kemenangan tetap harus berjalan sesuai koridornya.

Maksudnya, di dalam kemenangan itu, tetap harus dijunjung tinggi nilai-nilai sportivitas dan juga sikap rasa hormat. Respek terhadap lawan di lapangan, pelatih, dan juga wasit. Di antaranya, pemain tak perlu berlebihan dalam merayakan gol ke gawang lawan atau melakukan protes berlebihan kepada wasit.

Berselebrasi dibolehkan asal tidak berbau provokasi apalagi mengundang emosi lawan. Cukup merayakan dengan rekan satu tim dan kembali fokus pada pertandingan. Juga selalu menerima apapun keputusan wasit, meskipun terkadang korps berbaju hitam ini juga bisa keliru dalam mengambil keputusan.

Dan pada intinya, semua elemen memang sedang berproses ke arah yang lebih baik. Ketika hal ini telah dilakukan, niscaya mereka akan menjadi pemenang sesungguhnya.


Baca Juga :
- Saatnya TopSkor Indonesia Menembus Tradisi
- Opening Ceremony Gothia Cup Cina Berlangsung Meriah, Indonesia Sukses Mencuri Perhatian

“Semua elemen memang harus mengerti dan memahami esensi dari pembinaan. Terutama pemain yang jadi ujung tombak di lapangan. Selain meningkatkan kualitas olah bola, mereka juga harus memahami dan mendalami karakter sebagai calon pemain bola profesional yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas dan respek,” kata Boy, salah satu koordinator LHTS U-13.

Menurutnya, proses pembinaan yang paling utama itu dimulai dari pemain, orangtua, pelatih, dan unsur-unsur terkait yang menunjang di dalamnya seperti perangkat pertandingan. “Untuk jadi pemain hebat, bukan hanya dari skill yang dimiliki, melainkan dari cara berpikir dan menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas,” Boy melanjutkan.*Furqon Al Fauzi 

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA