#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Ezra Walian
23 Maret 2019 04:00 WIB
JUMAT (22/3) pagi, seorang teman mengirim foto. Lewat aplikasi komunikasi berwarna hijau. Teman itu sedang di Vietnam. Foto itu memperlihatkan sosok berhidung mancung sedang duduk di samping kolam. Ia Mengenakan seragam hijau dengan lambang garuda di dada. Ia Ezra Walian. Striker jebolan Jong Ajax itu tampak muram. 

Tapi senyumnya masih ada. "Saya akan tetap di Vietnam sampai ajang ini selesai," katanya dalam bahasa Inggris. Ia tak ingin pulang. Ke Belanda. Ke tanah kelahirannya. Juga tak ingin pulang ke Jakarta. Ke Indonesia. Ke tanah nenek moyangnya. Ia ingin jadi suporter timnas Garuda Muda yang tengah bertarung dalam kualfiikasi Piala Asia U-23 2020, di Vietnam. 

FIFA melarangnya tampil. Alasannya, Ezra sudah membela timnas Belanda untuk laga level A. Piala Eropa U-17.  PSSI sudah mengetahui hal ini dari seminggu lalu. PSSI tak diam. Melakukan upaya. AFC dan FIFA dikontak. Hasilnya, seperti diketahui: gagal. Disinyalir, ada dokumen yang kurang atau tak lengkap. Dalam hal ini, PSSI lalai.


Baca Juga :
- City Semakin Dekati Gelar
- Getafe yang Mengejutkan

Ini seperti yang pernah dialami pemain Thailand berdarah Swis, Charyl Chappuis. Itu terjadi pada 2013. Chappuis dilarang tampil dalam ajang Pra Piala Asia 2015. Sama seperti Ezra, statusnya ditangguhkan FIFA. Alasannya pun sama. Sudah pernah tampil bersama timnas lain dalam laga resmi berlevel A.

Kini, status pemain Muangthong United itu sudah tak ditangguhkan lagi.  Padahal, Statuta FIFA tegas mengatakan itu. Terdapat dalam Pasal 8 tentang Regulations Governing the Application of the Statutes, dan Pasal 6 tentang Regulations Governing the Application of the Statutes.

Intinya, status Ezra bermasalah jika tak diurus seksama. PSSI tak mengurus status Ezra. Sejak jauh hari.  Jangankan Statuta FIFA, Statuta PSSI saja dilanggar dengan sendiri. Itu terkait penugasan Gusti Randa sebagai pelaksana harian Ketua Umum PSSI. Yang memerintahkan Joko Driyono, Plt. Ketua Umum PSSI. Yang menggantikan Edy rahmayadi. Tokoh yang sangat paham Statuta PSSI juga FIFA.  Adalah Pasal 39 Ayat 6 dan Pasal 40 Ayat 6 dalam Bab Ketua Umum dari Statuta PSSI, yang dilabrak.


Baca Juga :
- Faktor Old Trafford
- Ujian Sesungguhnya bagi Solskjaer

Intinya, saat Ketua Umum berhalangan, yang menggantikan adalah wakilnya. Tak ada diskresi dalam perintah Statuta PSSI. Itu tegas dan jelas. Tapi PSSI bertindak sesuka hati. Bebas sendiri. Teringat kisah pada Mei 2017. Itu beberapa hari sebelum Ezra bersumpah dan mencium bendera Indonesia. Tanda ia sah menjadi Indonesia.

Kami bertemu di Bandara Internasional Soerkarno Hatta. Ketika itu ia baru mendarat. Ia bersama ayahnya, Walian. Ayahnya yang berdarah Manado itu. Sambil menikmati teh ia meyakinkan diri. "Indonesia pilihan saya tanpa tekanan siapa-siapa," ucapnya. "Bukan, bukan karena sekadar ingin membela tim nasional. Lebih dari itu. Dipanggil timnas kebanggaan, menjadi Indonesia adalah anugerah," ucapnya. Selamat datang. Beginilah federasi sepak bola Negaramu Ra!*Irfan Sudrajat
 

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA