#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Ricky Kayame : Saya Akan Mati-matian bela Arema di Surabaya
08 April 2019 10:25 WIB
MALANG – Pemain asal gunung, demikian penyerang baru Arema FC Ricky Kayame, menyebut dirinya. Ia pun enggan dinilai sebagai the rising stars. Sebab, juara Liga 1 2019 menjadi target utamanya bersama Singo Edan. Piala Presiden 2019 disebutnya sebagai ajang memperkenalkan diri kepada publik Malang. 

Sejak dikontrak pada 25 Februari lalu, pra kelahiran Paniai, 21 September 1993 itu, menjelma jadi idola baru Aremania. Putra Ayub Kayame ini mengemas empat gol dalam lima laga Piala Presiden. Bagaimana Ricky melihat perjalanan kariernya di Kota Apel? Berikut wawancara TopSkor: 

Debut bersama Arema yang sensasional...


Baca Juga :
- Ruben Sanadi: Semua Ingin Menang, tapi Harus Kerja Dulu
- WAWANCARA EKSKLUSIF SIMON MCMENEMY: Itu Mengapa Saya Menunda Pengumuman Skuat Timnas

Saya hanya bilang saya belum habis, dan saya ingin bangkit bersama Arema. Bersama Arema dan dukungan Aremania yang luar biasa, saya optimistis untuk ke depan.

Sudah empat gol. The Arema rising stars...

The rising stars? Terlalu berlebihan itu. Banyak pemain jauh lebih bagus dari saya di Arema. Saya belum ada apa-apanya. Saya hanya mencoba bangkit saja. Suasana di Arema dan dukungan Aremania lah yang membuat saya bisa main enjoy dan penuh semangat.

Apa misi bergabung dengan Arema?

Jujur saya sangat terinspirasi dan ingin sukses seperti senior-senior saya sebelumnya di Arema, seperti Mecky Tata, Dominggus Nowenik, Stafenus Korwa, Alexander Pulalo, Ortizan Solossa, Erol FX Iba, dan lain-lainnya. Saya tak ingin generasi Papua menghilang di Arema. 

Final akan jumpa mantan, Persebaya... 

Saya tak mau bicara klub masa lalu, tapi saya ingin buktikan bahwa saya belum habis. Saya tak peduli kepindahan dari Persebaya ke Arema banyak dibicarakan orang, karena dua tim ini ada revalitas lama. Inilah hidup dan karier sepak bola saya, dan saya harus profesional. Siap mati-matian bela Arema lawan Persebaya.

Tak khawatir dapat tekanan di Surabaya nanti?

Saya sudah terbiasa. Main di luar kandang mendapat tekanan seperti itu. Coach Arema (Milomir Seslija), selalu ajarkan main dengan hati dan fokus di lapangan. Anggap saja suporter lawan itu dukung. 

Sebelum ke Arema, ada klub yang juga meminati?

Ada sekitar empat klub, tapi hanya Arema yang gencar dan serius. Saya juga sadar di Arema ada punya banyak pemain depan, tapi bagi saya, paling penting bersaing secara sehat saja. Semua tergantung pelatih untuk beri kesempatan main. Saya hanya berlatih serius dan perlihatkan kemampuan di lapangan. Saya belajar banyak dari klub-klub sebelumnya. Terlalu banyak cadangan, tidak bagus untuk karier saya.


Baca Juga :
- RIZKY RIDHO: Kisah Sepatu Rp 40 Ribu Anak Pedagang Pasar Asem Simo
- Tegar Infantrie: Antara Ahmad Bustomi dan Sergio Busquets

Ini pula asalan tinggalkan Persebaya dan Persipura?

Ya itu salah satunya. Profesi saya kan pemain sepak bola, tidak hanya sekadar ingin mencari nafkah, tapi karier ke depan juga sama pentingnya. Saya ini kan pemain dari gunung, dari suku Mee dari pedalaman Paniai. Suku Mee punya filososi pejuang sejati. Jika gagal di satu tempat, tak boleh putus asa. Ayah saya (Ayub Kayame) juga selalu pesan, harus patuh dan taat pada pelatih, serta percaya diri.*Noval Luthfianto

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA