#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Winning Meal Project, Cara Ajinomoto Dongkrak Prestasi Atlet Indonesia
15 April 2019 19:12 WIB
JAKARTA – Asupan gizi menjadi hal mendasar dalam menopang prestasi para atlet di dunia olahraga. Di negara maju, gizi para atlet sudah diperhatikan bertahun-tahun sebelum mereka bertanding. 

Menurut Emilia E. Achmadi MS., RDN, ahli gizi klinis di bidang olahraga, gizi menjadi bagian fundamental yang wajib diperhatikan. “Malah, di Cina, Amerika, dan Jepang, gizi para atlet dimulai sejak mereka berusia 6 tahun (usia sekolah dasar yang dijadikan kurikulum pendidikan),” katanya.

Ketika atlet tersebut beranjak remaja, mereka sudah siap bertanding. “Di beberapa cabang olahraga, persiapan gizi khusus sport performance sesuai dengan disiplin/cabang olahraga dilakukan delapan tahun sebelum si atlet bertarung di arena,” sambungnya.


Baca Juga :
- Cabor Renang Jadi Lumbung Emas NPCI Kota Bandung di PEPARDA 2018
- TOPVLOG: Asian Para Games Tidak Kalah dengan Asian Games!

Kondisi ini diakui Emilia, belum diterapkan di Indonesia secara benar dan konsisten dengan sistem formulasi, produksi, monitoring dan evaluasi secara profesional.

Hal inilah yang membuat ia tergerak ketika diajak dalam program “Winning Meal Project” yang digagas oleh Ajinomoto Indonesia. Ia mengaku tertarik dengan program ini karena sesuai dengan idealismenya sebagai ahli gizi. 

“Karena menurut saya, peran private sector dibutuhkan untuk peningkatan kualitas dari atlit nasional,” tuturnya.

Emilia menambahkan, melalui program ini ia fokus memperhatikan dan menyiapkan asupan gizi atlet renang I Gede Siman Sudarwata. Siman yang merupakan pria asal Bali ini, menyabet empat medali emas SEA Games 2011 di Palembang.

Banyak masyarakat yang belum paham, bahwa asupan gizi para atlet tidak bisa disamakan dengan asupan orang rata-rata. Bahan bakar mobil balap tidak sama dengan bahan bakar mobil biasa bahkan lebih spesifik lagi tergantung jenis mobilnya.

"Para atlet mempunyai latar belakang yang berbeda-beda, beban latihan yang tak sama, dan histori cedera yang berbeda pula, tentu hal ini akan memengaruhi dengan asupan gizi yang dibutuhkan setiap atlit,” ungkap Emilia.

Melalui “Winning Meal Project” Emilia menyusun asupan gizi untuk Siman sesuai dengan kondisi fisik, pengukuran anthropometric, dan periodisasi latihan dengan Peak Performance yang menjadi goal. Makanan sehari-hari Siman sebelum dan sesudah latihan akan disiapkan secara detail. 

“Gizi sebelum dan sesudah latihan akan sangat berbeda. Misalnya, di 45 menit setelah latihan berat para atlet membutuhkan gizi khusus untuk memaksimalkan recovery process menuju sesi latihan berikut dan mencegah cedera, karena di saat itulah harus ada asupan untuk mengembalikan dan memperbaiki bagian tubuh yang rusak. Bila hal ini tidak dilakukan, maka fisik si atlit akan cepat menurun,” paparnya.

Makanan sehari-hari Siman sebelum dan sesudah latihan akan disiapkan secara detail. Contohnya, Siman telah melakukan pencapaian rekor nasional dari 50 meter gaya punggung, dengan waktu 25.01 detik. “Patokan itulah yang akan menjadi acuan Winning Meal Project (WMP) ke depannya,” terangnya.


Baca Juga :
- Update Perolehan Medali Asian Para Games 2018: Indonesia 24 Emas, Cina 137
- Christianto Harsadi, Fotografer Disabilitas: Momen Berkesan Itu Renang

Program “Winning Meal Project” merupakan program adopsi dari Ajinomoto Co.Inc di Jepang yang bernama “Victory Project”. Di sana, sejak 2003 para atlet Jepang diperhatikan asupan gizinya. Kesuksesan “Victory Project” di Jepang, salah satunya adalah dengan penyediaan menu atau meal plan yang proper untuk para atlet.*

 

BERITA TERKAIT

Penulis
Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA