#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
news
Kegagalan yang Indah
13 May 2019 04:06 WIB
GAGAL dengan cara yang indah. Sebenarnya, tidak ada tambahan dari kata gagal meski sekadar untuk menambahkan makna agar kegagalan itu terlihat lebih baik. Tidak ada kegagalan yang mengesankan. Dalam kompetisi, kegagalan tentu terjadi karena banyaknya poin yang tidak dapat diraih. Namun, tampaknya, untuk Liverpool, perlu dibuat pengecualian. Jika ada satu kata di antara gagal dan berhasil, sepertinya itulah yang bisa dideskripsikan dari pencapaian Liverpool di Liga Primer. 

Kita dapat memberikan makna sendiri dari kegagalan Liverpool dalam meraih gelar Liga Primer musim ini. Jika kita melihat perjuangan Liverpool dalam meraih gelar Liga Primer sepanjang musim ini, banyak sisi untuk melihat bahwa Liverpool sebenarnya memberikan begitu banyak momen yang positif atau mengesankan. Pencapaian atau performa mereka hanya tidak ditandai dengan sebuah trofi Liga Primer.

The Reds mampu menjadi pesaing The Citizens dengan cara yang konstan, bahkan hingga pekan terakhir Liga Primer. Menilai Liverpool juga harus dari sisi yang lain: Liga Champions. Tidak ada klub yang mampu membuat Barcelona gagal dengan cara yang sangat menyakitkan ketimbang apa yang dilakukan Liverpool. Dan, tidak ada klub di Liga Primer dengan catatan kekalahan paling sedikit kecuali The Reds pada musim ini. Total, pasukan Juergen Klopp hanya mengalami satu kekalahan, tepatnya saat ditekuk Manchester City.


Baca Juga :
- Tak Indonesia di Saigon
- Secondary Player

Untuk sedikit menilai Liverpool perlu kembali ke lima tahun lalu. Bagi Liverpool, semua yang paling penting adalah trofi (gelar). Bagi The Reds dan The Kop, orientasinya adalah trofi. Intinya, semua yang datang ke Liverpool baik itu pemain maupun pelatih harus membawa tim ini mengakhiri penantian gelar Liga Primer yang telah terjadi selama hampir 29 tahun. Ya, bagaimana mungkin tim sebesar Liverpool justru tidak pernah lagi meraih gelar selama itu?

“Orientasi gelar” itulah yang sudah ada bahkan sebelum Juergen Klopp datang pada 2015. Namun, waktu berlalu. Klopp dengan kharismanya, atau sebut saja pelatih yang membawa irama rock n roll menawarkan hal yang lain. Sebagai pelatih, orientasi Klopp pun adalah gelar dan itu tidak disangsikan lagi. Dan, tentu, itu pun sudah dipahami hampir semua pendukung Liverpool. Tanpa orientasi trofi, tidak akan mungkin Liverpool kini hanya satu poin kurang dari The Citizens di pekan ke-38 Liga Primer ini.

Di Liverpool siapa pun pelatihnya haruslah memberikan gelar. Di Liverpool, tidak ada yang peduli atau tertarik dengan “perkembangan”, “progres”, atau tentang “keindahan” dan sebut saja “betapa menariknya” permainan yang diperlihatkan skuat Klopp. Semua itu awalnya tidaklah penting. Stigma harus meraih gelar Liga Primer dan menomor sekiankan peristiwa, membuat tugas Klopp semakin berat.


Baca Juga :
- Isu Sarri dan Conte
- Sikap Bale

Dan, waktu berlalu. Liverpool ke final Liga Champions pada musim lalu. Musim ini, Liverpool nyaris meraih gelar di Liga Primer. Di antara dua hal tersebut, banyak momentum yang membuat pendukung Liverpool mulai menyadari bahwa mereka memang gagal meraih sesuatu yang paling penting: trofi Liga Primer, tapi ada sesuatu yang lebih berharga yang mereka raih dan rasakan.

Dan, di antara dua hal tersebut, Liverpool pun akan tampil dalam final Liga Champions, pada awal Juni nanti. Mungkin, di sanalah (Madrid), Liverpool akan melengkapi yang berharga dengan yang mereka anggap sangat penting. Pada titik ini, Klopp tentu tahu bahwa dirinya tidak dapat bersembunyi karena di Madrid yang paling penting bukan lagi keindahan melainkan gelar: Liga Champions.*Irfan Sudrajat

loading...

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA