#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
news
LIMA Incar Cabor di Luar Andalan
22 May 2019 14:27 WIB
JAKARTA – Liga Mahasiswa (LIMA) sudah berjalan selama tujuh tahun. Tercatat ada lima cabang olahraga (cabor) yang dipertandingkan sejak berdiri pada 21 Mei 2012, yakni basket, bulu tangkis, golf, renang, dan futsal. Ajang demi ajang itu terbukti sukses dalam melakukan membibitkan atlet.

Banyak dari mereka yang kini bermain dalam liga profesional, terutama basket. Namun, seiring berjalannya waktu, muncul pertanyaan mengapa LIMA hanya fokus pada lima cabor. Padahal, banyak cabang yang berpotensi dibibitkan di tingkat universitas.

Chief Executive Officer (CEO) LIMA, Ryan Gozali, mengatakan, pihaknya bakal melakukan ekspansi. Mereka akan menggelar LIMA University Game, di mana akan melombakan banyak cabor. Sebut saja olahraga-olahraga bela diri, atletik, dan tenis meja.


Baca Juga :
- Komentar Pelatih Timnas Basket Indonesia Usai Dikalahkan Filipina di Semifinal SEA Games 2019
- Sempat Imbangi Permainan, Indonesia Akhirnya Takluk dari Filipina di Semifinal Basket SEA Games

Tak hanya itu, LIMA juga akan merambah e-Sport, yang kini sedang digandrungi oleh kaum muda tanpa mengenal usia. Hal tersebut dikemukakan oleh Ryan di sela-sela perayaan ulang tahun ketujuh LIMA di Kyfie Kitchen, Jakarta, Selasa (22/5).

“Konsep kami adalah ingin membentuk student athlete (atlet pelajar). Jadi, sekarang kami harus terus menyediakan ruang bagi mahasiswa-mahasiswa agar bisa mengekspresikan diri mereka,” ujar Ryan di hadapan awak media.

Salah satu kesuksesan LIMA adalah dipercaya sebagai mitra Indonesian Basketball League (IBL). Tercatat sejak 2018/19, IBL memberlakukan sistem draft rookie, di mana para pemain dipilih oleh klub-klub peserta dengan sistem lottery.

Secara bergiliran, tim-tim IBL menunjuk pebasket-pebasket dari kalangan kampus dengan memakai metode sama seperti NBA. Klub dengan prestasi buruk mendapat jatah ambil paling awal di IBL draft. Hanya, jatah ambil draft belum bisa jadi mahar.

“Dengan sistem draft ini, diharapkan IBL tidak didominasi oleh tim itu-itu saja karena klub yang menempati posisi juru kunci dapat mengambil rookie terbaik. Jadi, tim papan bawah diharapkan mampu menyodok karena mendapat pemain berkualitas,” katanya.

Sistem draft sejatinya belum terlihat efektif karena terbukti, belum banyak rookie 2018/19 yang mendapat menit bermain banyak dari pelatih klub masing-masing. Namun, hal ini wajar karena mereka harus beradaptasi dulu dengan tim.

Tak hanya itu, ada masanya sebuah generasi rookie tak melahirkan pemain bintang. Hal tersebut juga lumrah terjadi di NBA. Namun, tak jarang pula dari mereka yang justru menjelma menjadi calon bintang masa depan liga basket terbesar dunia itu. 

Lagipula, sebelum diadakan draft, LIMA berhasil membibitkan pebasket yang kini jadi bintang IBL. Sebut saja, Most Valuable Player (MVP) IBL 2018/19, Kaleb Ramot Gemilang, Abraham Damar Grahita, Abraham Wenas, Christian Gunawan, dan lain-lain.

Ryan menambahkan, dengan sistem draft, klub IBL tidak boleh lagi menitipkan pemain akademinya ke kampus. “Misalnya saja Coke (sebutan untuk Christian Gunawan). Dulu, dia pemain akademi Satria Muda ke Universitas Pelita Harapan (UPH),” ujarnya.

Terus Lanjut


Baca Juga :
- Tumbangkan Gojek, Transmedia Juara SMLBT
- Mahaka Grup Tantang Transmedia

Lebih lanjut, Ryan berharap kerja sama dengan IBL terus berlanjut karena bisa mewujudkan kompetisi yang lebih merata. Musim depan, LIMA akan kembali menyediakan para pemain yang akan dipilih oleh klub-klub peserta IBL.

“Kalau bisa sih kerja sama ini (berlangsung) selamanya. Sistem ini sudah berjalan baik dan harus dilanjutkan. Misi dari kerja sama di antara kami juga jelas, yaitu ikut mewujudkan kompetisi profesional yang lebih kompetitif,” Ryan mengungkapkan.*KRISNA C. DHANESWARA

loading...

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA