#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Ball Possession Membuat Banyak Pelatih Dipecat di La Liga
22 May 2019 10:30 WIB
MADRID – Sepak bola Spanyol terkenal dengan gaya bermain menghibur dan taktis. Operan-operan pendek, second play, atau menguasai ball posession jadi ciri khas sepak bola Negeri Matador tersebut. Itu telah terbukti di level internasional, saat tim La Liga menguasai Liga Champions maupun Liga Europa dalam beberapa musim terakhir.

Namun, musim ini kelam bagi sepak bola ball possession. Bukan hanya di liga domestik tapi juga di panggung internasional. Bisa terlihat dari bergugurannya tim-tim Spanyol di panggung Eropa. Bahkan, di La Liga, beberapa pelatih yang mengadopsi gaya ini justru membuat timnya merana, hingga akhirnya harus dipecat.

Mulai Eduardo Berizzo di Athletic Bilbao, Quique Setien (Real Betis), Pablo Machin (Sevilla FC), Julen Lopetegui (Real Madrid), Eusebio Sacristan (Girona FC), dan Michel Munoz (Rayo Vallecano) gagal mendapatkan hasil yang baik, meski permainan timnya menghibur. Rubi Ferrer di RCD Espanyol merupakan satu-satunya pelatih dengan gaya bermain serupa yang tidak diberhentikan.


Baca Juga :
- Sevilla Surplus Pemain
- Negosiasi Muenchen-Espanyol untuk Roca Berjalan Alot

Awalnya Los Periquitos, julukan Espanyol, sempat mempertimbangkan mengganti pelatih karena serangkaian hasil buruk yang diderita tim, khusunya di awal 2019. Tetapi manajemen memutuskan mempertahan juru taktik 49 tahun itu karena Espanyol berhasil lolos ke kualifikasi Liga Europa.

Di sisi lain, ada pelatih yang bisa mengantarkan timnya mendapatkan banyak hasil maksimal karena permainan pragmatis. Sebut saja Diego Simeone (Atletico Madrid), Marcelino Garcia Toral (Valencia CF), Maurico Pellegrino (CD Leganes), Gaizka Garitano (Bilbao), Sergio González (Real Valladolid), dan Abelardo Fernandez (Deportivo Alaves). Dengan permainan tersebut timnya bisa duduk nyaman di posisi aman pada klasemen La Liga.

Permainan yang diterapkan Ernesto Valverde di FC Barcelona tak bisa didefinisikan sebagai sepak bola yang berlandaskan pada pengusaaan bola seperti filosofi yang dibentuk oleh Johan Cryuff. Jumlah rata-rata penguasaan bola Barcelona musim ini ada di angka 64,66 persen. Itu berbanding terbalik ketika masih menerapkan tiki-taka bersama Josep Guardiola, saat mereka bisa mencatatkan di atas 80 persen.

Lalu rival berat Barcelona, Madrid mencoba segala sesuatu pada 2018/19, tetapi tak ada yang benar-benar berhasil. Memang betul dengan jumlah rata-rata 60,38 persen mereka menjadi tim dengan ball possesion tertinggi ketiga di La Liga. Akan tetapi mereka tak mendapatkan keuntungan dari strategi yang mereka usung tersebut.

Setien yang merupakan penggemar berat dari filosofi sepak bola Cryuff gagal berbicara banyak bersama Betis. Bersama Setien, Betis diubah menjadi tim yang bermain menyerang, mendominasi permainan, serta atraktif. Mereka pun juga menjadi tim dengan jumlah pengguasaan bola tertinggi kedua di La Liga (62,41 persen). Tetapi hasilnya Betis gagal memenuhi target finis di zona Eropa dan tersingkir di fase 32 besar Liga Europa.


Baca Juga :
- De Laurentiis Siap Mundur dari Perburuan James Rodriguez
- Kubo dan Abe Masuk Sejarah Madrid dan Barca

Sementara, empat dari lima tim dengan ball possession terendah berhasil mengamankan posisinya di La Liga. Mulai Levante (45,34 persen), Huesca (44,25 persen), Leganes (42,81 persen), Alaves (42,49 persen), dan Getafe (39,99 persen).*CR5

 

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA