#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Kompany Dilatih Menjadi Pribadi Tangguh sejak Kecil
24 Mei 2019 13:55 WIB
VINCENT Kompany lahir pada 1986 dari keluarga miskin, tapi berpendidikan. Ayahnya, Pierre, yang tahun lalu terpilih sebagai walikota kulit hitam pertama Belgia dari distrik Ganshoren di Brussel, pernah dipenjara semasa mahasiswa di kamp kerja Republik Rakyat Kongo karena gabung dalam pemberontakan melawan diktator Mobutu.

Di Brussels, Pierre menyelesaikan gelar teknik dan mengendarai taksi pada malam hari demi menghidupi istri dan tiga anaknya, termasuk Vincent. Sang ibu yang asli Belgia, Jocelyne, meninggal akibat kanker pada 2008, adalah seorang pemimpin serikat pekerja yang bekerja untuk pemerintah Brussels.

Dari pengalamannya, Kompany sadar diskriminasi yang mungkin akan dihadapi tiga buah hatinya, anak-anak dari ras campuran. Karena itu ia mengajari mereka untuk menghadapinya sejak dini. Mereka bicara bahasa Prancis di rumah, Belanda di sekolah. Vincent sendiri fasih berbahasa Jerman dan Inggris, serta sedikit Italia dan Spanyol.


Baca Juga :
- INFOGRAFIS: Fernandinho Menua, Pep Siapkan Rodri
- Berharap Mendapat Pujian Setelah Bikin Tato Baru, Hart Malah Dicibir

“Saya berutang segalanya pada orangtua saya,” ujar bek 33 tahun itu. “Sejak lahir, kami memperluas wawasan kami dari sebuah apartemen mungil.” Lalu, apakah orangtuanya mengalami rasialisme? “Awalnya ayah tak diterima keluarga ibu saya. Namun perlahan ayah selalu diterima karena kepribadiannya.”

Ketika beranjak remaja, Kompany mengaku sangat normal bagi mereka untuk pergi ke turnamen pemuda dan disembur dengan panggilan merendahkan. “Para orangtua yang berteriak ke arah kami dan itu hampir selalu menyebabkan perkelahian dengan ibu. Namun itu mengajari kami jadi lebih kuat. Sepak bola mengeluarkan saya dari jalanan.”

Otak Kompany juga encer. Dia masuk di sistem sekolah Belgia yang berkualitas. Tapi dia merasa kurang terwakili oleh struktur sosialnya. Pada usia 14 tahun, Kompany dikeluarkan dari sekolah, karena sering absen akibat mewakili tim nasional. Lalu dia dikeluarkan dari tim junior Belgia akibat cekcok dengan pelatihnya.

Kompany tidak menyukai kepemimpinannya. Sang pelatih juga tidak menyukai sikap Kompany. “Orangtua saya selalu berontak melawan ketidakadilan, sehingga Anda dapat membayangkan ketika guru saya akan menghukum seseorang atau saya untuk sesuatu yang tidak adil, saya jelas tidak akan menerimanya!” kata Kompany.

Lalu, musibah datang beruntun. Dalam kurun satu tahun, dia operasi lutut, orangtuanya cerai dan keluarganya menghadapi penggusuran dari blok perumahan sosial mereka di daerah pusat kota Noordwijk yang bermasalah. Seandainya Kompany muda ingin keluar dari masalah itu, jalan terbuka lebar baginya. Dari obat-obatan hingga geng kriminal.


Baca Juga :
- Ketahuan Berjudi, Paul Scholes Didenda Rp143 Juta
- Rute Sulit Wesley Sebelum Bergabung dengan Aston Villa

Tapi Kompany fokus pada hal yang lebih besar. “Bahaya terbesar bagi saya adalah rasa puas diri atau tidak bertindak. Semua itu tak pernah saya izinkan ke dalam hidup saya. Itu momen penentuan, usia ketika Anda dapat membuang segalanya dengan menjadi versi terburuk diri Anda.”* NURUL IKA HIDAYATI

 

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA