#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Menu Buka Puasa Bagi Atlet MMA Indonesia
24 Mei 2019 16:11 WIB
JAKARTA - Bagi para atlet mixed martial arts (MMA) asal Indonesia yang tergabung dalam ONE Championship, menjalankan ibadah puasa selama bulan Ramadan tentu menjadi sebuah kewajiban sekaligus tantangan tersendiri.

Selain menjalankan kewajiban agama selama sebulan penuh ini, mereka juga harus tetap mempertahankan disiplin dalam mengikuti program pelatihan untuk menjaga kondisi fisik mereka.

Hal ini ditambah dengan program yang harus mereka lalui untuk meningkatkan teknik beladiri yang mereka miliki. Salah satu hal yang paling ditunggu para atlet ini adalah menu takjil untuk berbuka puasa, yang merupakan salah satu bentuk penyegaran diri setelah berpuasa dan berlatih seharian.


Baca Juga :
- Lima Alasan Mengapa One: Legendary Quest Tak Boleh Dilewatkan
- Pertarungan Sengit Victorio Senduk vs Phoe Thaw di Shanghai

Dua orang atlet Indonesia, Stefer “The Lion” Rahardian dan Egi Rozten, berbagi tentang menu-menu berbuka favorit mereka.

Stefer sebenarnya tidak memiliki preferensi takjil tertentu, karena jadwal latihannya bersama Bali MMA membuatnya sedikit sulit untuk mencari waktu dan berburu penganan manis atau sejenisnya menjelang waktu berbuka puasa.

“Kalau di Bali, saya sebenarnya agak sulit cari takjil. Bukan karena tidak ada, tapi sebelum berbuka puasa itu pasti saya masih dalam jadwal latihan,” jelas atlet yang sedang mempersiapkan diri untuk pertandingan selanjutnya ini.

“Begitu adzan terdengar, saya akan berhenti latihan dan langsung minum air putih. Saya juga akan mengambil protein bar di kafe gym sebelum melanjutkan latihan lagi.”

“Tetapi, kalau ada kesempatan beli tajil, saya sangat menyukai kacang hijau. Favorit saya lainnya adalah biji salak, atau menu klasik dan sederhana lainnya. Setelah latihan, saya pulang, magrib dan bersiap solat.”

“The Lion,” yang bertanding di divisi flyweight ONE, juga menyimpan persediaan makanan di rumahnya, jika diperlukan sewaktu-waktu.

“Saya juga mempersiapkan stok buah-buahan seperti apel atau pir di kulkas, sehingga bisa dibawa saat berangkat latihan,” kata Stefer.

“Sebenarnya, berlatih dan berpuasa itu lebih terfokus pada pengaturan jam makan. Saya tidak bisa langsung makan banyak setelah puasa, karena badan akan terasa lemas dan perut kembung seperti kekenyangan.”

“Saya biasanya akan makan besar setelah selesai sholat tarawih, itupun dengan porsi yang tidak terlalu banyak. Harus diatur lagi, karena saya harus bangun untuk sahur pukul 4 pagi,” tutupnya.

Kebiasaan ini tentunya berbeda untuk para atlet lainnya, seperti Egi Rozten, yang mengaku sangat menyukai kolak sebagai menu berbuka puasa.

“Kolak itu selalu menjadi pilihan saya untuk buka puasa sejak saya kecil, karena ini memang selalu menjadi menu kesukaan di bulan Ramadan,” kata atlet divisi strawweight ini.

Lahir dan besar di Bogor, kolak dan sayur-sayuran tentu sudah menjadi pilihan yang paling banyak ditemui di bulan Ramadan bagi masyarakat Kota Hujan tersebut.

“Makanan lain yang juga jadi pilihan saya untuk berbuka puasa adalah salad, karena menu ini sangat tepat untuk mengakhiri puasa dan bermanfaat untuk menjaga kondisi asupan makanan,” kata Egi.


Baca Juga :
- Catatan Penyelesaian Terbaik Anthony “The Archangel” Engelen
- Dua Atlet MMA Indonesia & Myanmar Berhadapan di Shanghai

“Kalau sedang berada di perjalanan atau di tempat latihan, yang utama bagi saya adalah selalu menyediakan air putih, untuk memulihkan atau rehidrasi kondisi tubuh.” 

Terlepas dari kebiasaan tiap atlet untuk mempertahankan kondisi fisik dan kemampuannya selama bulan puasa, tentunya bulan suci ini seharusnya tidak mencegah seorang atlet untuk beraktifitas seperti biasa, terlebih menjadikannya sebagai alasan untuk tidak berlatih.*

BERITA TERKAIT

Penulis
Total Komentar 0
Tulis Komentar +
news
ARTIKEL SEBELUMNYA