#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Lebih Tertarik dengan Bisnis ketimbang Politik
25 May 2019 14:16 WIB
DALAM usia 17, pada 2004, Vincent Kompany mencatatkan namanya sebagai pemain termuda timnas Belgia. Dia dijual ke Hamburg SV pada 2006 dengan nilai transfer termahal dalam sejarah RSC Anderlecht. Selang dua tahun pindah ke Manchester City FC, seharga 8 juta paun. Selebihnya adalah sejarah bagi Belgia dan The Citizens.

Kepada Deborah Linton dari The Guardian, Kompany mengaku tidak mengenali potensinya sampai usia 16 tahun. Dia pikir jika bisa menghasilkan 300 paun sebulan dengan bermain sepak bola dan memiliki pekerjaan di Tesco, dia bisa bersenang-senang sekaligus mampu membeli rumah kecil dengan sebuah taman.

“Saya tak pernah merasa berbakat atau diberkati dalam apa pun. Kebanyakan hal yang tampaknya menjadi bakat hanyalah hasil dari suatu proses,” kata Kompany.


Baca Juga :
- Guardiola: Manchester City Belum Siap Memenangkan Liga Champions
- Sheffield Siapkan Serangan Balik

“Itu omong kosong,” agen lama Kompany, Jacques Lichtenstein, belakangan memberi tahu Deborah. “Anda mungkin melihat pemain seperti Vincent tiap 50 tahun sekali. Dia sangat cepat untuk ukuran tubuhnya dan pemimpin hebat di pertahanan.”

Rata-rata pemain Liga Primer pensiun pada usia 35. Pada periode tersebut, penghasilan akan menurun drastis, kehidupan mereka berubah secara dramatis; banyak yang bangkrut. Kompany telah memikirkan lembaran hidup keduanya, bahkan sebelum yang pertamanya selesai.

Dia fasih berbicara, artinya punya modal menjadi komentator sepak bola. Kompany juga dikenal sebagai pemimpin hebat, jadi dia diyakni mampu menjadi pelatih, serta menyandang nama besar untuk bermain di luar negeri. Tetapi pria 33 tahun malah meraih master bisnisnya pada 2012 karena ingin bisa membaca rencana bisnis.

“Jika Anda berpenghasilan besar dan Anda seseorang yang tidak betah diam, itu bisa menjadi sebuah bencana. Saya telah ‘disengat’ beberapa kali ketika berpikir saya cukup cerdas,” Kompany menyebut kerugian 2 juta paun yang diinvestasikannya untuk dua bar olahraga di Belgia pada 2014 lalu.

Minat Kompany yang lain termasuk pengembangan media dan properti; salah satunya kerja sama bisnisnya dengan suami Deborah beberapa tahun lalu. “Kenyataannya adalah, selama 10 tahun hidup Anda, Anda hidup dalam gelembung absolut. Semua uang masuk seolah-olah tak ada akhirnya. Akhir yang jelas adalah batas fisiologis Anda.”

Kompany melihat bisnis bisa menjadi cara untuk dapat memperbaiki ketidakadilan sosial. Semua keputusan dibuat oleh anggota dewan yang mayoritas laki-laki kulit putih. Kompany menilai, orang-orang ras campuran seperti dirinya, nyaris tak memiliki akses ke ruang-ruang dewan.


Baca Juga :
- Perjudian Pelatih Everton Membuahkan Hasil
- Pemain Spurs Mendukung Pochettino

Kompany mengaku mengikuti perkembangan politik, namun, seperti kebanyakan orang, jengkel karenanya. Dia menyebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai "maniak" dan mengatakan Eropa berisiko terhadap politik yang sama. Lalu, apa Kompany ingin terjun ke politik. “Tidak”, katanya, “Dunia ini bukan milik politisi.”*NURUL IKA HIDAYATI DARI BERBAGAI SUMBER

 

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA