#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Barca dan Madrid; Kompak Bermasalah, Hasil Akhir cuma Soal Keberuntungan
26 May 2019 09:50 WIB
DUA raksasa Spanyol, FC Barcelona dan Real Madrid seperti tak ada apa-apanya di musim 2018/19. Sama-sama tak berkutik di Liga Champions dan menutup musim dengan penampilan yang buruk. Ini sama sekali bukan Barca dan Madrid yang sesungguhnya. Ameh rasanya melihat dua tim besar ini menutup musim dengan kepala tertunduk.

Apalagi, dengan menyandang nama besar, kondisi ini makin membuat kedua tim makin terpuruk. Di Liga Champions, Madrid tersingkir oleh para jagoan muda Ajax Amsterdam di babak 16 besar. Piala Raja sudah tak perlu dibahas dan tragis di La Liga. Selisih poin dari Barca hingga 19 poin dan dua laga terakhir berujung kekalahan.

Madrid sudah bermasalah sejak awal musim. Membajak pelatih timnas Julen Lopetegui yang saat itu sedang bersiap memimpin Spanyol di Piala Dunia 2018, Madrid seperti kualat. Lopetegui malah membuat permainan Madrid tak karuan. Pada Desember 2018, manajemen Madrid pun memecat Lopetegui dan digantikan dengan Santiago Solari.


Baca Juga :
- Suporter Menurun, Napoli Hanya Jual 9 Ribu Tiket, Inter Memimpin dengan 40.000
- Dzeko Perpanjang Kontrak dengan Roma, Berpengaruh ke Inter, Napoli, Juventus, PSG

Hasilnya sama saja hingga Zinedine Zidana harus dipulangkan tapi kondisi tim sudah terlanjur hancur. Tak sulit mencari penyebab utama kehancuran Madrid ini. Hengkangnya Cristiano Ronaldo dan cabutnya Zidane pada 2018 paling mudah disebutkan. Makin diperparah dengan penunjukkan pelatih yang tidak tepat.

Barca sama saja. Di Liga Champions tak kalah memalukannya. Mereka mengulangi posisi 3-0 dan 0-4. Bedanya, musim lalu di perempat final dan musim ini di semifinal. Pokoknya, sama-sama parah. Di Piala Raja pun takluk oleh Valencia yang notabene di bawah mereka. Sedikit keberuntungan bagi Barca, mereka sudah juara La Liga di pekan ke-35.

Masalah Barca beda tipis. Jika di Madrid soal Ronaldo, di Barca soal entitas MSN. Neymar Jr cabut pada 2017 tapi masih ada Luis Suarez dan Lionel Messi yang menopang. Pada Januari 2018 datanglah Philippe Coutinho tapi gagal memenuhi ekspektasi. Puluhan kesempatan yang diberikan, tak mampu juga Coutinho padu dengan permainan Barca.

Entah mengapa, Barca seperti butuh “trio” lini depan. Paradigma “MSN” seperti sudah tak tergantikan. Artinya, tanpa trisula maut di depan, Barca sulit berkiprah. Memang, Barca tetap bagus saat di paruh pertama tatkala Messi cedera. Tapi, itu masih awal musim dan belum dihantam kejadian memalukan oleh Liverpool.

Di final Piala Raja, tanpa Suarez, Barca pun kalah. Bandingkan dengan Liverpool yang mampu mengoyak mereka 4-0 saat Mohamed Salah dan Roberto Firmino tak ada di lapangan. Kondisi di Barca makin diperparah dengan usangnya strategi yang dipakai Ernesto Valverde. Selalu itu-itu saja.


Baca Juga :
- Sepakat! Hirving Lozano Segera Jadi Milik Napoli! Pecahkan 2 Rekor Sekaligus!
- Laboratorium Taktik Seri A

Fan kemarin sore pun pasti bisa tahu Valverde akan memainkan formasi apa dan bagaimana di tengah laga nanti. Intinya, baik Barca dan Madrid kompak bermasalah yang akhirnya mereka sering kalah. Kalau mau situasi ini berubah, mereka harus berani revolusi. Madrid sudah tapi Barca masih menahan.

Valverde harus cabut dan datangkan pelatih baru yang bisa melihat dari luar apa masalah utama Barca. Perbaiki, masukkan pemain yang dibutuhkan, dan berjuang kembali di musim depan. Madrid sudah mulai bergegas tapi Barca masih meratap. Jika ini berlanjut, Madrid bisa membaik dan Barca memburuk.*

BERITA TERKAIT

D
BarC4!
Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA