#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
INFOGRAFIS: Giroud Lawan Mantan Klubnya, Arsenal
27 May 2019 16:01 WIB
LONDON – Dari merah dan putih menjadi biru. Terbuang di Arsenal, Olivier Giroud mencoba mendapatkan statusnya sebagai penyerang utama Chelsea. Final Liga Europa, yang akan digelar di Baku (Azerbaijan), Rabu (29/5) atau Kamis dini hari WIB, akan menampilkan sosok Giroud. Bintang asal Prancis ini akan menghadapi mantan klubnya, The Gunners, tim pertamanya di Liga Primer sejak 2012 hingga 2018 sebelum bintang 32 tahun ini memutuskan bergabung bersama The Blues.

Setelah 2018/19 berakhir, Giroud pun belum benar-benar dapat mewujudkan ambisinya menjadi penyerang utama Chelsea. Namun, ada satu harapan setelah 21 Mei lalu, Giroud menandatangani perpanjangan kontrak yang membuatnya akan tampil bersama The Blues hingga akhir 2019/20. Ya, hanya satu musim memang tapi itu merupakan kepercayaan dari manajemen sekaligus memperpanjang petualangannya di Stamford Bridge.

Kontrak tersebut sekaligus harapan dari Chelsea bahwa Giroud dapat tampil maksimal ketika menghadapi Arsenal dalam final nanti. Giroud sendiri menegaskan itu akan menjadi momen yang sedikit emosional tapi dia telah mengesampingkan aspek memori tersebut. Yang penting baginya adalah Chelsea. Karena itu, dia siap untuk membawa The Blues mengalahkan The Gunners dalam laga nanti. G Factor  inilah yang akan diwaspadai pertahanan Arsenal. Dalam psikologi, G Faktor dikaitkan dengan aspek mental seseorang. Giroud bisa membuat Arsenal menyesal melepasnya.


Baca Juga :
- Bukan karena Ancelotti, Ini Alasan Presiden Napoli Dukung Chelsea
- Banyak Kursi Kosong, Segini Ternyata Penonton Final Liga Europa Dini Hari Tadi

“Saya selalu menyukai jika tampil menghadapi klub lama saya. Pertandingan nanti tentu akan sangat sulit dan menyakitkan jika kami (Chelsea) gagal meraih gelar Liga Europa,” kata Giroud, tertsenyum. “Saya menikmati masa-masa karier saya di Arsenal, klub pertama saya di Liga Primer, karena itu akan selalu spesial. Namun, saat ini, saya merasa darah saya adalah biru. Seperti warna timnas Prancis. Dan, biru selalu memberikan keberuntungan bagi saya,” dia menambahkan.

Namun, ada perbedaan yang sangat kentara antara klubnya saat ini dengan Arsenal yang sejak musim lalu di bawah kepelatihan Unai Emery. Perbedaan di antara kedua klub ini adalah lini depan. Chelsea sepanjang musim ini tidak memiliki mesin gol yang tetap. Ini adalah tim yang bahkan lebih banyak persoalan di lini depan. Meski demikian, walau dengan keterbatasan tersebut, Chelsea akhirnya mampu lolos ke final. Dengan kondisi itu pula, Chelsea asuhan Maurizio Sarri berhasil memastikan tiket Liga Champions dengan meraih posisi ketiga klasemen akhir Liga Primer 2018/19.

Eden Hazard mengambil peran besar dari pencapaian Chelsea pada musim ini lewat gol dan assist yang diciptakannya. Karena itu, wajar jika gelandang asal Belgia tersebut lebih kerap muncul ke permukaan ketimbang Giroud atau penyerang Chelsea lainnya, Gonzalo Higuain. Namun demikian, sukses Chelsea ke final Liga Europa tidak dapat dipisahkan dari sosok Giroud. Bahkan, penyerang inilah yang menjadi kunci sukses The Blues dengan 10 gol yang diciptakannya dalam ajang ini.

Dengan 10 gol tersebut, Giroud menjadi pemain ketiga bersama Luka Jovic yang mampu menorehkan gol dua digit (minimal 10 gol) dalam semusim sepanjang sejarah Liga Europa. Tepatnya sejak 2009/10 setelah nama Piala UEFA berganti menjadi Liga Europa. Sebelumnya, hanya ada dua pemain yang mampu menorehkan minimal 10 gol dalam satu musim yaitu Radamel Falcao, yang mampu dua kali menorehkannya bersama Atletico Madrid yaitu 17 gol pada 2010/11 dan 12 gol pada 2011/12.

Pemain kedua adalah Aritz Aduriz bersama Athletic Bilbao yang menorehkan 10 gol pada 2015/16. Kedua penyerang tersebut sekaligus memastikan status pencetak gol terbanyak dalam musim tersebut. Karena itu, Giroud dapat meraih gelar tersebut dengan menambah golnya pada final nanti. “Sekarang, saya ingin memenangkan trofi kedua saya di Chelsea. Mengakhiri musim ini sebagai pencetak gol terbanyak di ajang ini dan membantu tim meraih gelar,” kata Giroud lagi. “Target kami adalah memenangkan sebuah trofi dan ini adalah peluang terakhir di musim ini,” dia menegaskan.

Waspadai Arsenal
Giroud pun sudah tercatat dalam sejarah Liga Europa sebagai pemain yang mampu menorehkan banyak gol dalam satu laga. Rapor ini ditorehkan saat dia menorehkan hattrick ke gawang Dynamo Kiev, dalam laga kedua 16 besar. Jauh sebelumnya, dalam fase grup, satu gol Giroud ke gawang BATE Borisov, 1-0, pada 8 November 2018, menjadi kunci Chelsea melangkah atau lolos ke fase knockout.


Baca Juga :
- Cukur Arsenal 4-1, Chelsea Juara Liga Europa
- Duel Sarat Arti di Azerbaijan

Selain gol, Giroud juga memberikan assist di Liga Europa untuk Chelsea dengan tiga assist. Total, Giroud memberikan delapan assist, dengan empat assist lainnya di Liga Primer dan satu assist di Piala FA. Dengan modal itulah Giroud akan mencoba membongkar pertahanan The Gunners.

Meski demikian, dia mengakui bahwa Arsenal saat ini sudah berbeda dibandingkan dengan sebelumnya. Di bawah asuhan Unai Emery, Arsenal memiliki duet lini depan produktif: Pierre-Emerick Aubameyang dan Alexandre Lacazette. “Terkadang, mereka bermain dengan dua penyerang dan di waktu lain hanya satu. Ketika saya masih bermain di sana, pola atau strategi tersebut tidak pernah terjadi,” dia menambahkan.* Irfan Sudrajat

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA