#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
news
Begini Perbandingan Sarri dan Pochettino
27 May 2019 12:32 WIB
TURIN – Pilihannya antara Mauricio dan Maurizio. Itu adalah kandidat nahkoda skuat Juventus FC setelah Massimiliano Allegri. Nama mereka mirip, namun latar belakang seperti kutub bertolak belakang.

Maurizio Sarri, lahir di Napoli, dari ayah seorang pekerja pabrik di Bagnoli. Sedangkan Mauricio Pochettino tumbuh di sebuah perkebunan, dua jam berkendara dari Rosario, Argentina. Kedua pelatih yang berasal dari budaya berbeda itu akhirnya bertemu di Inggris. Mereka berhadapan di Liga Primer 2 kali dan Piala Liga 2 kali. La Gazzetta dello Sport mengupas disparitas masing-masing pelatih.

Fondasi


Baca Juga :
- Derbi London Bakal Terjadi demi Reinier
- Staf Conte Bongkar Rahasia Dapur Inter

Sarri, mungkin tipe pelatih yang tidak punya karakteristik di antara mereka yang bekerja di kompetisi level atas. Mantan bankir itu mengasah kemampuan di separuh Italia. Pochettino lebih menganut gaya klasik karena pernah bermain untuk Newell’s Old Boys, Espanyol, Paris Saint Germain dan Bordeaux. Dia mengadopsi ilmu yang diberikan para pelatihnya.

Lapangan

Publik Italia terbiasa memikirkan Sarri sebagai sosok monoton, mengusung skema 4-3-3 dengan manuver berawal dari Pepe Reina dan berakhir di Lorenzo Insigne: 11 pemain inti hampir selalu berada di lapangan. Tapi faktanya, pelatih 60 tahun tersebut pernah menerapkan modul 4-2-3-1 semasa di Empoli FC, dengan Riccardo Saponara sebagai trequartista. Dia sulit meninggalkan pertahanan dengan empat bek dan tiga gelandang.

Pochettino menyukai variasi taktik dan melibatkan banyak pemain. Pemain ke-15 Tottenham Hotspur yang paling sering diturunkan di Liga Primer, tampil selama 1.509 menit. Sementara pesepak bola ke-15 Chelsea FC mencapai 943 menit. Spurs dapat bermain dengan tiga atau empat pertahanan, sektor tengah dimodifikasi sesuai jalannya permainan. Di depan ada Harry Kane, Son Heung Min dan Fernando Llorente digunakan secara bergantian.

Model

M&M menyukai eksperimen melalui latihan. Sarri mengatakan belajar dari Arrigo Sacchi, seperti hampir semua pelatih seangkatannya. Sebaliknya Pochettino adalah ‘anak’ Marcelo Bielsa. Suatu kali, El Loco pergi ke rumah Pochettino senior pada pukul 02.00 dini hari ditemani tangan kanannya Jorge Griffa. Griffa meminta izin untuk melihat Mauricio yang sedang tidur, yang mengalami benturan di kaki saat bermain sepak bola.

Latihan

Sarri banyak bekerja dalam taktik: sangat metodis dan mengulang menu latihan yang sama berkali-kali. Sementara Pochettino cenderung mengesampingkan taktik, namun lebih mementingkan persiapan fisik. Dari sisi ini, sulit memuaskannya dan hasilnya sudah terbukti.

Bakat

Cukup dengan lapangan, sedikit menyoroti komunikasi. Sarri bangga dengan idenya dan banyak bicara, kadang berlebihan. Sebagai mantan pemain, Pochettino terbiasa dengan aturan saat menghadapi jurnalis dan bicara di ruang publik. Kadang komentarnya cenderung datar.

Gaya


Baca Juga :
- Ini Saran Prandelli untuk Ibrahimovic
- Roma Ingin Panen Keuntungan dari Tabungannya

Terakhir, cara berpakaian. Gaya Sarri terkenal di dunia karena selalu mengenakan pakaian olahraga. Kebiasaan tersebut menjadi merk, tanda pengakuan serta keterbatasan. “Apakah sebuah tim besar dapat memiliki duta seorang pria dengan kaos?” katanya. Pria keturunan Toskana itu menjalankan idenya. Sempat mengenakan pakaian sopan saat laga Chelsea lawan Manchester City, tapi kemudian kembali lagi dengan kostum kebesarannya.

Pochettino memilih gaya khusus, serba gelap. Sering terlihat di tepi lapangan dengan kemeja, celana dan dasi hitam. Kadang dengan kemeja putih atau sweater. British style.***

loading...

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA